
Krystal mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, setelah mendapat ijin Ia masuk ke dalam. Memperhatikan sekitar dan langsung tersenyum saat di lihatnya Filberta dan Jessica duduk menunggu di sofa yang ada di sana.
"Mom Dad, ada apa?" Tanya Krystal setelah mendudukan dirinya di kursi tepat didepan kedua orang itu.
Tapi kedua orang tuanya hanya terdiam, membuat Krystal bingung. Padahal tadi Ia sedang mengerjakan sesuatu, tapi ada pelayan bilang kalau kedua orang tuanya menunggu di kamar.
"Ekhem kami ingin bicara serius dengan kamu."
"Apa?"
Filberta menghembuskan nafasnya berat, merasa tidak sanggup berucap. "Kami akan mejodohkan kamu."
Deg!
Krystal menatap tak percaya kedua orang tuanya, berharap jika ucapan Daddynya itu bohong, tapi wajah mereka terlihat serius. Wanita itu menggeleng pelan, sambil tersenyum kecil.
"Apasih Dad, aku tahu kok kalian bohongkan?"
Jessica menggeleng. "Tidak sayang, kami serius akan menjodohkan kamu."
"Kenapa begitu? Akukan sudah bilang sampai kapanpun tidak mau di jodohkan, aku bisa mencari jodohku sendiri!"
Kini Krystal tidak bisa menahan protesannya, tentu saja. Dulu Ia pernah bilang pada kedua orang tuanya kalau sampai kapanpun Ia tidak mau di jodohkan. Memangnya mereka tidak ingat?
Mata wanita cantik itu mulai berkaca-kaca, merasa tidak setuju dengan usul kedua orang tuanya. Perjodohan itu bukan jalan yang baik menurutnya, Krystal tidak mau bersama pria yang sama sekali tidak Ia cintai.
"Sayang, kami mohon. Ini hanya jalan satu-satunya agar perusahaan kembali pada Daddy."
"Maksudnya?" Tanya Krystal bingung.
"Maaf sebelumnya jika perkataan Daddy menyakitimu, Daddy tidak bermaksud berbohong ataupun mengecewakan kamu. Sebenarnya perusahaan kita bangkrut, Daddy ditipu oleh seseorang dan saham anjlok sampai hanya tersisa 20% saja."
Krysyal terkekeh merasa tidak percaya. "Daddy jangan bohong, Daddy pikir aku bodoh? Kekayaan Daddy itu sangat banyak, dimana-mana. Jikapun perusahaan hampir bangkrut, Daddy tidak perlu takut karena uang Daddy tidak akan berkurang. Kita masih punya beberapa cabang juga kekayaan lain seperti dari perkebunan."
Jessica dan Filberta menatap satu sama lain, astaga putrinya ini sangat cerdas. Memang benar kalaupun sepertinya Ia bangkrut, kekayaannya tidak akan habis. Filberta tidak menyangka, putri kecilnya yang dulu sangat manja dan kekanakan berubah menjadi wanita pintar dan cerdas.
Sekarang apa yang harus Ia lakukan?
"Tidak sayang, bukan hanya itu. Tapi semua kekayaan Daddy juga akan diambil termasuk Mansion dan perkebunan."
Krystal menatap tajam kedua orang tuanya, dadanya naik turun. "Kenapa bisa seperti itu? Memangnya Daddy tidak mengecek dokumen terlebih dahulu sebelum mendatanganinya? Kontrak apa itu sampai Daddy ceroboh dan membuat semua harta habis?!"
"Dia menanam saham yang besar di perusahaan dengan berjanji akan membuat cabang atas nama Daddy di seluruh kota-kota Amerika. Itu menggiurkan dan dia sangat menjanjikan."
Krystal mendengus pelan, mengalihkan pandangannya. Rasanya sekarang Ia enggan menatap kedua orang tuanya, Ia marah dan kesal pada mereka. Masa saja dengan dalih seperti itu, semua aset kekayaan keluarganya langsung habis. Menurutnya sangat konyol dan tidak masuk akal.
"Lalu apa hubungannya dengan aku di jodohkan?"
"Karena jika kamu menikah dengan dia, semua aset keluarga kita akan kembali."
"Daddy lebih memilih harta dibanding putrinya sendiri?"
Filberta dan Jessica terbelak mendengar itu, mereka semakin terkejut melihat Krystal yang akan menangis. Pasangan yang sudah tak lagi muda itu berpegangan tangan sambil menatap kasihan putri mereka.
"Aku tidak menyangka semua ini akan terjadi, entah ini kecerobahan siapa, tapi semua ternyata harus aku tanggung. Aku tahu kalian juga pasti sangat berat untuk memutuskan ini, tapi apa kalian memang benar-benar akan melepaskan aku dengan dalih harta kembali?"
Melihat keterdiaman kedua orang tuanya membuat Krystal semakin sedih. Wanita itu menghapus air matanya kasar, tidak mau terlihat lemah.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya, setidaknya sampai se-bulan. Aku akan mencoba mencari jalan keluar lain untuk menyelesaikan masalah ini."
Krystal keluar dari sana dengan berlari kecil, tanpa bisa ditahan air matanya langsung jatuh. Ia memilih untuk pergi keluar rumah, mengendarai mobilnya sendiri. Entah kemana tujuannya, tapi sekarang Krystal ingin sendiri.
Mobilnya tiba-tiba berhenti begitu saja, membuat Krystal mendengus kasar. Bensinnya habis, memangnya sudah sejauh mana Ia pergi?
Udara malam sangat dingin, dengan salju yang turun dengan banyaknya. Krystal lupa tidak memakai mantel, saking terburu-burunya. Ia bahkan tidak tahu ada dimana, jalanan di sekitarnya ditumbuhi banyak pohon juga gelap. Sial, Ia jadi takut.
"Edrik."
Hanya dengan mengucapkan nama itu mampu membuat Krystal menangis, betapa pria itu sangat Ia rindukan. Dulu, saat Ia sedih ataupun menangis, Edrik selalu ada di sampingnya. Yang menghapus air matanya dan memberinya pelukan.
Setelah pria itu pergi, Ia selalu sendiri dan mencoba menjadi wanita yang tegar. Melakukan semuanya mandiri walaupun sulit. Tidak ada lagi pelukan dan ucapan manis untuknya lagi.
Jika Ia menikah dengan pria lain, apa Krystal mampu melupakan Edrik? Apa penantiannya akan sia-sia begitu saja? Semua perjuangan dan perubahannya untuk Edrik akan hancur begitu saja jika Ia ternyata malah menikah dengan pria lain.
Tapi kembali Krystal mengingat wajah sedih kedua orang tuanya. Ia tidak mau menjadi anak pembangkang dan durhaka, tapi keputusan itu terlalu sulit. Cobaan apa lagi ini? Kehilangan pria yang sangat Ia cintai dulu sudah membuatnya hancur, sekarang jika Ia egois maka malah akan menghancurkan perasaan kedua orang tuanya.
Krystal menatap nomor ponsel seseorang yang bertahun-tahun ada di sana. Tidak pernah menghapus ataupun menelphonenya. Entah kenapa, sekarang Ia ingin melakukannya. Krystal menekan warna hijau, memanggil nomor yang entah masih aktif atau tidak.
Panggilan tersambung membuat Krystal kembali meneteskan air matanya, tanpa bisa ditahan wanita itu meracau mengungkapkan seluruh hatinya yang selama ini dipendam.
"Aku tidak tahu apa kau orang yang sama atau bukan, tapi aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Kenapa kau tidak pernah kembali? Apa karena kau sudah melupakan aku? Hiks!"
"Aku butuh kamu, rasanya dunia ini sangat kejam. Aku ketakutan dan kesepian setelah kau pergi, tidak ada lagi yang menjagaku dan memberikan aku pelukan hangat."
"Aku mohon dengarkan ini baik-baik. Percayalah sampai saat ini aku masih mencintamu, sangat. Lima tahun aku selalu setia menunggumu berharap jika kau akan kembali, karena aku selalu percaya itu akan terjadi. Do'aku memang terkabul, tapi yang aku lihat seperti bukan dirimu. Apa aku sudah benar-benar kehilanganmu? Ini sangat menyakitkan, karena penantianku selama ini seolah sia-sia saja."
Ada jeda sebentar, tapi anehnya panggilan mereka masih tersambung, walau dari sebrang sana tidak ada suara apapun.
"Aku akan menikah dengan pria lain. Mungkin sampai di sini saja perjuangan yang aku lakukan, kita memang tidak akan bisa bersama. Selamat tinggal Edrik, aku harap bisa melupakanmu. Walau sulit, tapi aku akan mencobanya. Bahagialah selalu Edrik, kamu adalah pria yang selalu ada di hatiku."