
"Citra."
Wanita yang merasa terpanggil namanya itu menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Nona, oh iya apa lukanya sudah di obati?" Tanyanya khawatir.
Krystal mengangguk lalu beralih berdiri disamping wanita itu, memperhatikan Citra yang ternyata sedang memotong sayur.
"Apa yang kau lakukan?"
"Saya akan memasak."
Sebelah alis Krystal terangkat, merasa heran pada pelayannya itu. "Kau ingatkan kita sedang di apartemen orang lain?"
"Hehe saya ingat kok Nona." Citra lalu memasukan potongan sayur tadi ke panci tak lupa mengaduknya pelan. "Saya ingin membantu Ruby menyiapkan makan malam untuk kita."
"Apa, kita?"
"Tuan Edrik mengajak kita makan malam bersama."
Krystal semakin dibuat bingung, sekali lagi Ia menatap Citra yang tampak asik memasak bahkan sampai bersenandung kecil, seperti sedang di rumah sendiri saja. Padahal Ia saja malu dan rasanya ingin cepat pulang, tapi sayangnya diluar masih ada badai salju. Ingin meminta supir di Mansion tapi kasihan.
Tidak lama datanglah Ruby yang baru masuk ke dapur sambil membawa sekeranjang buah-buahan. Wanita itu tersenyum padanya. "Nona!" Panggilnya ceria, membuat Krystal ikut tersenyum.
Saat pertemuan pertama Krystal memang sudah bisa menebak sifat Ruby, ceria dan ramah, berbanding terbalik dengan Citra yang pemalu dan lugu.
"Kenapa Nona ada di sini?" Tanya Ruby.
"Eh memangnya tidak boleh?"
Ruby terkekeh kecil sambil menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja agak bingung saja karena Nona kita mau masuk ke dapur."
"Hei memangnya dapur tempat terlarang untukku?" Krystal sudah merasa seperti ratu saja.
"Baiklah kalau begitu, aku akan keluar saja karena tidak mau mengganggu koki yang sedang memasak. Aku akan melihat-lihat apartemen lagi."
Ruby dan Citra menatap kepergian Krystal dengan senyuman di bibir, wanita cantik itu sangat baik pada mereka. Citra lalu menoleh pada Ruby yang berdiri di sampingnya.
"Apa kau yakin kalau Tuan Edrik adalah pria yang ditunggu Nona selama ini?"
"Iya aku yakin, aku bisa melihat tatapan rindu dan penuh cinta Tuan Edrik pada Nona Krystal. Akhirnya mereka kembali bertemu, aku harap kisah cinta mereka berakhir bahagia."
"Aku juga berharap begitu."
***
Makan malampun tiba, kini meja berukuran persegi panjang itu sudah terhidang berbagai masakan. Mulai dari yang berkuah dan tidak, harum masakan membuat perut keroncongan. Ruby dan Citra ikut bergabung makan malam. Edrik dan Ruby duduk bersebelahan sedang Krystal dan Citra dihadapan mereka. Makan malam itupun berlangsung dengan tenang.
"Malam ini kalian menginap saja di sini."
Ukhuk!
Citra langsung memberikan segelas air pada Krystal sambil menepuk pelan punggung wanita itu. "Pelan-pelan Nona."
Hampir setengah gelas Krystal habiskan, Ia langsung menatap Edrik di depannya. "Em tidak usah kami pulang saja."
"Badai salju masih berlangsung dan ku dengar polisi menghimbau masyarakat untuk tetap berada dirumah."
Krystal meringis mendengarnya, Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Astaga benarkah pria itu mengajaknya menginap? Tapi anehnya Krystal merasa enggan.
Bukan kenapa-napa, tapi mereka ini orang asing.
"Kalian bisa istirahat dikamar saya."
"Kalau begitu Tuan tidur di kamar saya saja." Ucap Ruby, tapi saat melihat tatapan terkejut dari Krystal membuatnya meringis karena pasti salah paham. "Saya bisa tidur di ruang tv."
"Tidak papa, itukan sudah menjadi kamar kamu."
"Baiklah kalau begitu terima kasih Tuan, em bagaimana kalau Citra tidur bersama saya saja?" Tanya Ruby dan Citra langsung mengangguk. Lagi pula rasanya kurang sopan kalau seorang pelayan tidur sekasur bersama Nonanya, di apartemen memang hanya ada 2 kamar.
"Anda sendiri akan tidur dimana?" Tanya Krystal pada Edrik.
"Saya bisa dimana saja."
"Baiklah."
Krystal masuk ke kamar bernuansa abu itu, wangi maskulin langsung menusuk indra penciumannya, wanginya sama seperti tubuh Edrik. Tajam dan memabukan. Dekorasi kamar elegan dengan lampu kamar temaram. Di sana juga ada walk in closet dan pastinya kamar mandi, sudah dapat dipastikan kamar ini paling besar dari yang lain.
Tok tok!
Ketuka pintu membuat Krystal tersentak, Ia membuka pintu dan terlihat Ruby. "Ada apa Ruby?"
Wanita itu menyerahkan gaun tidur padanya. "Nona bisa memakainya, pasti tidak nyaman memakai pakaian seperti itu saat akan tidur."
"Hehe kau tahu saja."
"Em maaf kalau pakaiannya-"
"Tidak ini bagus, kau punya selera fashion yang baik."
"Terima kasih Nona, kalau begitu saya permisi."
Krystal menutup pintu kembali, Ia terlebih dahulu mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang dipinjamkan Ruby, lalu menatap penampilannya di cermin. Tidak buruk juga, gaun tidur terbuat dari satin selutut bercorak bunga, cukup nyaman dibanding memakai dress.
Wanita itupun naik ke tempat tidur, menyelimuti tubuhnya sampai dada. Menatap langit kamar dengan pikiran tertuju pada satu orang, ya kalian benar Edrik. Entah kenapa, sekarang Krystal malah semakin percaya kalau pria itu adalah Edrik nya. Walau masih dingin dan datar, tapi perhatiannya mulai terlihat seperti dulu.
"Sampai kapan kau akan berakting hm? Memangnya kau tidak merindukan aku?"
"Merindukan siapa?"
Suara besar itu membuat Krystal tersentak, Ia melirik ke dekat pintu. Segera saja Krystal duduk, astaga kapan Edrik masuk? Kenapa Ia tidak sadar.
"Kau.. Apa-"
"Tentu saja aku ingin tidur."
"Hah?"
Lalu pria itu mendekat dan tanpa diduga malah naik ke atas kasur lalu berbaring di sampingnya dan menutup mata. Krystal menatap tak percaya Edrik, ada apa dengan pria ini?
"Kau tidak ingin berbagi selimut? Aku kedinginan." Ucap Edrik dengan mata yang masih tertutup, pria itu menarik selimut yang dipegang Krystal tapi tentu saja Krystal menahannya membuat Edrik kembali membuka mata.
"Tunggu, maaf tapi bukannya tadi anda bilang saya bisa tidur di sini."
"Lalu?"
"Anda sendiri bilang akan tidur di mana saja."
"Tidak jadi, saya tidak mau saat bangun pagi badan saya sakit. Lagi pula ini kamar saya kan?"
Krystal menghembuskan nafasnya pelan. "Ya sudah kalau begitu, saya saja yang akan keluar."
Saat akan turun dari ranjang, tangan Krystal ditarik membuat wanita itu kembali terbaring di kasur. Krystal meringis karena terkejut juga kepalanya yang agak sakit, tapi keterkejutannya bertambah saat Edrik sekarang malah berada di atas tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Edrik menahan kedua tangan Krystal, menatap ke balik mata wanita itu dalam. Posisi ini sangat intim dan membuatnya takut tidak bisa mengontrol diri. "Saya memberimu dua pilihan."
"A-apa?"
"Pilihan pertama hanya tidur di sini bersama saya dengan tenang, atau kalau kamu tidak mau saya akan memaksamu. Percayalah saya bukan pria lembut."
Suara Edrik sangat berat dan seperti menahan sesuatu, membuat Krystal gugup. Pergelangan tangan Krystal mulai sakit karena pria itu menahannya keras, dengan terpaksa Krystal pun mengangguk.
"Pilihan pertama."
"Good girl."
Edrik turun dan berbaring di sebelah Krystal, membenarkan selimut agar pas untuk mereka berdua.
"Selamat malam."
Krystal menoleh ke samping, Ia masih tidak percaya karena harus berbagi ranjang dengan seorang pria. Krystal jadi mengingat masa lalu. Dulu Ia selalu ingin tidur bersama Edrik, tapi pria itu selalu menolak. Sekarang bukan Ia yang meminta, melainkan pria itu sendiri.
Kenapa aku malah takut kau bukan pria yang aku tunggu? Batin Krystal mulai goyah.