My Lady

My Lady
Malam Pertama



Krystal berjalan mondar-mandir sedari tadi, wanita itu merasa gugup dengan malam ini. Sekali lagi Ia melirik pintu kamar mandi, terdengar suara gemiricik air dari dalam sana, Edrik sedang mandi dan sudah hampir sepuluh menit belum selesai.


"Astaga apa yang aku pikirkan?!" Desah Krystal sambil mengacak rambutnya.


Malam ini adalah malam pertama Ia dan Edrik setelah resmi menjadi pasangan suami istri. Anehnya pikiran mesum Krystal tidak bisa di kontrol, melayang akan apa yang nanti Ia lakukan bersama suaminya itu. Lalu pelukan tiba-tiba dari belakang membuat Krystal terpekik kaget, Ia langsung menoleh melihat Edrik yang tersenyum lebar padanya. Tetesan air dari tubuh pria itu perlahan bisa Ia rasakan menembus gaun pernikahannya.


"Issh Edrik lepaskan, kau basah!"


Edrik tidak mendengar perintahnya, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Tapi kita belum melakukan apapun, kenapa aku bisa basah?" Bisiknya serak tepat di telinga Krystal.


Glek!


Mata Krystal langsung menutup sambil kepalanya menggeleng-geleng, astaga kenapa pikirannya semakin kemana-mana? Mesum sekali dirinya. Walaupun Edrik berbicara tidak ke arah itu, tapi ayolah Krystal tidak sepolos yang kalian pikirkan.


"Ini malam pertama kita, kau sudah siap?"


"A-apa?"


Edrik mengecupi leher jenjang Krystal, menghirup wangi parfume yang memabukan dari tubuh wanita itu. Sesuatu didalam sana mulai bergejolak dan Edrik berusaha tetap menahannya.


"A-aku mau mandi."


Krystal berhasil melepas pelukan mereka, Ia mengangkat gaunnya agar memudahkan melangkah menuju kamar mandi. Setelah di dalam wanita itu menghembuskan nafas lega karena berhasil meloloskan diri, sungguh jantungnya berdetak hebat.


Tangan wanita itu berusaha menggapai resleting di punggungnya yang sialnya sangat sulit karena posisinya yang jauh. Krystal tidak menyerah begitu saja, Ia terus berusaha sampai-sampai rasanya ingin menangis karena tidak juga berhasil. Akhirnya wanita itu menyerah lalu menatap penampilan dirinya di cermin.


Pernak-pernik di rambutnya memang sudah dilepas, hanya tinggal gaun pernikahan dan make up saja. Krystal tidak menyangka sekarang sudah berstatus sebagai istri, alias tidak lajang lagi. Semuanya tidak terasa dan takdir Tuhan sangat luar biasa.


"Tidak ada cara lain lagi, sepertinya aku harus meminta bantuannya."


Krystal melengokan kepalanya mengintip ke luar kamar mandi, bersyukur Edrik telah berpakaian dan sekarang sedang menyisir rambutnya. Wanita itupun keluar dari sana, menghampiri suaminya.


"Edrik kau bisa menolongku?"


Edrik menatap jahil Krystal yang terpantul dari cermin, pria itu berusaha bersikap sesantai mungkin dan tetap menyisir rambutnya yang padahal sudah rapih. "Apa?"


"Em ini.. Membukakan resleting gaun."


Mendengar itu Edrik langsung berbalik, seringai langsung terukir di bibirnya, membuat Krystal merinding.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?"


Segera Edrik berdiri di belakang Krystal, namun Ia belum membukakan resleting wanita itu. Matanya menatap bahu telanjang itu yang sangat cantik tidak ada cela sedikitpun, Krystal memang sangat pintar menjaga kesehatan kulitnya.


"Kenapa lama sekali?!"


"Ah iya maaf."


Dengan perlahan Edrik membuka resleting itu, matanya tidak berkedip sedikitpun saat melihat punggung wanita itu yang semakin jelas. Bahkan rasanya Edrik dibuat tidak bernafas sangking terpesona akan keindahan ini.


"Cantik."


Mendengar bisikan di belakangnya membuat Krystal merinding, tangannya berusaha memegang bagian depan gaunnya agar tidak merosot jatuh. Wanita itu berdehem pelan saat dirasa resleting gaunnya sudah terbuka sempurna.


"Ekhem terima kasih."


Sebelum Krystal kembali ke kamar mandi, Edrik segera menahan pergelangan tangan wanita itu. Ia menarik Krystal sampai menabrak dada bidangnya. Terdengar ringisan yang malah membuat Edrik tersenyum kecil karena dirasa lucu.


"Aww Edrik sakit!"


"Kenapa? Badanku sangat gerah."


"Karena menurutku akan sia-sia, lagi pula tidak mandipun kau sudah wangi."


Krystal terbelak saat tangan Edrik mengusap punggung telanjangnya, seketika itu juga detak jantungnya menjadi sangat cepat.


"Apa boleh aku meminta hakku malam ini?"


Edrik merangkum wajah Krystal, menatap ke balik mata wanita itu dalam. Krystal yang melihat tatapan memohon sekaligus tulus itu membuatnya luluh. Ia juga tidak mungkin menolak karena pria itu sudah sah menjadi suaminya.


Kembali wanita itu mengingat masa lalu, dimana dululah Ia yang sering menggoda Edrik dan pria itu mati-matian menahan godaannya. Tetapi entahlah sekarang Krystal malah dibuat gugup dan takut, mungkin karena Ia sudah banyak berubah.


"Iya."


"Benarkah?"


"Ck ya sudah kalau tidak mau, aku mandi sa-Aww!!"


Krystal terpekik saat tubuhnya tiba-tiba di gendong Edrik, wanita itu langsung mengalungkan tangannya karena takut terjatuh. Perlahan tubuhnya di baringkan di atas ranjang, dengan Edrik yang berada tepat di atasnya.


Pria itu tersenyum manis seolah menenangkannya. Edrik mengecup keningnya dalam, sampai membuat Krystal menutup mata. Lalu kecupan itu turun ke kedua matanya, hidungnya dan terakhir di bibirnya. Sekarang bukan lagi kecupan, namun ciuman dalam yang menggairahkan.


Setelah dirasa lama dan merasa kasihan Krystal yang tidak bisa bernafas, Edrik menurunkan ciumannya ke leher wanita itu. Ia memberi tanda merah kepemilikan yang sampai membuat pemiliknya mendesah kecil.


Saat Edrik akan menurunkan gaun pernikahan, tangan Krystal repleks langsung menahannya yang tentu saja membuatnya bingung dan kembali menatap wajah wanita itu.


"Kenapa?"


Krystal menggigit bibir bawahnya gugup. "Em aku.. Aku takut."


"Takut?" Edrik terkekeh kecil lalu dengan cepat mengecup bibir Krystal. "Hei kau ingat dulu sering menggodaku? Bukankah ini yang kau inginkan hm?"


"Hh dengar itu dulu, sekarang aku sudah berubah."


"Baiklah-baiklah." Edrik megusap pipi Krystal pelan sambil tetap tersenyum. "Aku janji ini akan menjadi malam yang indah dan tidak akan terlupakan."


"Ck sejak kapan kau jadi raja gombal hah?!"


"Haha ayolah aku serius. Dengar, jangan panik ataupun takut. Aku tidak akan bersikap kasar, aku janji akan selembut mungkin. Rileks saja okey?"


Krystal beberapa kali menghembuskan nafas, dan perlahan dirinya mulai merasa tenang. Ia menatap wajah tampan yang sangat dekat, mengusap rahang pria itu. "Maaf karena membuatmu kecewa."


"Aku tidak kecewa sama sekali, aku malah senang karena kau bukan lagi wanita labil yang mesum. Biarkan sekarang saja aku yang mesum dan menggodamu."


Krystal dan Edrik tertawa bersamaan, tidak menyangka di saat-saat seperti ini masih bisa bercanda. Perlahan Edrik mendekatkan wajahnya, menyatukan bibir mereka kembali. Membelai bibir ranum itu dengan gerakan sensual dan dalam.


Di sela-sela ciuman panas mereka, Edrik tersenyum saat merasa tidak ada lagi penolakan saat Ia berhasil meloloskan gaun itu dari tubuh Krystal. Edrik melepas ciuman mereka sejenak, matanya menatap takjub tubuh polos wanita itu yang sangat sempurna.


Namun Krystal langsung menutup kedua p*yudaranya, Ia benar-benar merasa malu di perhatikan seperti itu. "Jangan menatap tubuhku seperti itu, aku malu." Rengeknya sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Hehe maaf mungkin aku sanking terpesona." Edrik melepaskan tangan Krystal yang menutup bagian p*yudara itu, mengecup punggung tangan kanannya. "Aku mencintaimu Krystal, sekarang, esok dan selamanya."


Dan malam itupun mereka habiskan dengan penuh cinta. Baik Edrik maupun Krystal merasakan satu-sama lain jika mereka saling di cintai. Mereka sudah bersama setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan. Benar kata orang, jika sudah jodoh sejauh apapun pergi akan di pertemukan kembali.