My Lady

My Lady
Lamaran



Filberta menatap pantulan dirinya dicermin, sesekali pria tua itu merapihkan penampilannya yang bahkan sudah sangat rapih. Siang ini Ia akan bertemu pemilik perusahaan Walmart. Belum pernah Ia se-gugup ini akan bertemu seseorang, padahal pada kolega bisnisnya yang lain selalu biasa saja. Tapi ayolah, ini perusahaan Walmart, perusahaan baru yang sukses dan terkenal di Amerika.


Tok tok!


"Permisi Tuan, beberapa kolega dari perusahaan Walmart sudah sampai."


"Benarkah?"


"Iya Tuan, mereka sudah menunggu di ruang meeting."


"Saya segera ke sana."


Filberta keluar dari ruangannya, naik ke lantai diadakannya meeting. Ini adalah pertemuan pertamanya, karena dulu digantikan oleh Krystal. Anehnya putrinya itu tidak menceritakan detail bagaimana rupa pemilik perusahaan Walmart, hanya menyampaikan masalah pekerjaan saja.


Langkah Filberta memelan saat melihat beberapa pria berjas didepan ruang meeting, kenapa tidak masuk?


"Tuan, pemilik perusahaan Walmart sudah menunggu didalam."


"Em hanya dia sendiri?"


"Iya Tuan, beliau berkata hanya ingin berdua dengan anda, tanpa orang lain lagi."


Astaga, kenapa Filberta jadi semakin gugup? Dua pria berjas ini seperti bodyguard, yang satunya lagi Ia memang sudah tahu kalau itu sekertaris dari pemilik Walmart.


"Baiklah kalau begitu, saya masuk."


Pintu terbuka dengan masuknya Filberta, ruangan meeting hampir semua dilapisi kaca dan lumayan besar, sangat nyaman. Saat sebentar lagi mendekat ke meja meeting, langkahnya memelan dengan mata yang terbelak tak percaya.


Apa benar yang Ia lihat sekarang? Filberta mengucek kedua matanya merasa takut salah lihat, tapi pria yang duduk di kursi single di sana masih sama. Pria itu lalu berdiri, menatap padanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Selamat pagi, Tuan Filberta."


"Edrik?"


Mendengar suara lirih memanggil namanya membuat Edrik tanpa bisa ditahan tersenyum kecil. Melihat Filberta malah membuatnya teringat Oden-Papanya yang sudah meninggal. Kedua pria tua itu berteman baik, walau kasta mereka dulu dibilang sangat jauh.


Semua kebaikan Filberta padanya dan Papanya tidak pernah Edrik lupakan, mereka terlalu baik. Mungkin Filberta tidak akan menyangka kalau Ia adalah putra Oden, pelayan setia Filberta dulu. Kini, Edrik sudah menjadi pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang melimpah.


"Apa kabar Tuan?"


Filberta melangkah perlahan mendekat, kini mereka berdiri lumayan dekat. Ia menatap ke balik mata Edrik, jantungnya langsung berdegup kencang melihat jika pria itu benar-benar putra Oden.


"Apa saya sedang bermimpi? Benarkah kau.. Edrik?"


"Iya Tuan, saya Edrik, putra Oden."


Nafas Filberta tercekat, saat Ia merasa tak sanggup berdiri dengan sigap Edrik menahannya. Ia di bantu duduk di kursi dengan pria muda itu yang menatapnya khawatir.


"Tuan tidak apa-apa? Tunggu saya akan panggilkan sekertaris saya untuk menelphone dokter."


Tapi tangan Edrik langsung ditahan, Filberta meminta pria itu untuk kembali duduk di depannya. Dengan mata yang memerah, Ia menepuk pelan punggung tangan Edrik.


"Ini sudah bertahun-tahun kau pergi, sekarang kau kembali dengan membawa kesuksesanmu. Aku tidak menyangka, pria muda yang dulu selalu bersama dengan putriku sudah berubah menjadi pengusaha sukses dan terkenal di Amerika."


"Tidak perlu Edrik, kamu dan Papamu sudah saya anggap keluarga sendiri. Kalian juga sangat baik, dan jujur saya sedih saat kamu pergi. Padahal dulu saya ingin.."


Filberta yang tidak melanjutkan kata-katanya membuat Edrik bingung "Ya?"


"Tidak jadi, maaf saya jadi bercerita panjang."


"Tidak apa-apa Tuan."


Keheningan tercipta diruangan itu, apalagi ruangan besar itu hanya ada dua orang saja. Edrik maupun Filberta sebenarnya sangat canggung satu sama lain. Khususnya Edrik, entahlah rasa malunya masih sama seperti dulu pada Filberta, apalagi pria paruh baya itu pernah menjadi atasannya.


"Ekhem, jadi benarkah kamu pemilik perusahaan terkenal itu, Walmart?"


Edrik mengagguk pelan. "Iya Tuan."


"Astaga saya tidak pernah menyangkanya. Kamu hebat Edrik, saya sangat bangga padamu."


"Ini semua juga berkat do'a Tuan. Saat saya pergi, saya memutuskan untuk tinggal di Washington. Papa pernah bilang mempunyai rumah dan perusahaan kecil di sana. Awalnya saya juga tidak menyangka, apalagi Papa hanya bekerja menjadi ketua pelayan. Tapi ternyata benar, dan disanalah saya memulai kehidupan baru."


"Saya sudah berjanji untuk selalu membahagiakan Papa, walau dia sudah tiada. Perusahaan itu mulai saya kembangkan dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Pahitnya hidup dan kerasnya pekerjaan saya rasakan, apalagi dulu juga saya pernah diambang kegagalan. Tapi saya tidak mau menyerah, perusahaan Papa jangan sampai hancur. Akhirnya saya kembali bisa memajukan lagi, tidak pernah menyangka sekalipun akan sesukses sekarang."


Filberta menepuk bahu Edrik pelan, tersenyum lebar. Wajahnya melihatkan ekspresi bangga dan terharu dengan cerita pemuda itu.


"Kamu hebat Edrik, Oden pasti sangat bangga dan bahagia di sana."


Edrik ikut tersenyum mendengarnya. Dari dulu sifat lemah lembut Filberta tidak berubah, walau umur pria itu semakin bertambah. Selain baik, pria itu juga penyayang.


"Apa kamu yakin akan bekerja sama dengan perusahaan saya?" Tanya Filberta. "Diluar sana banyak sekali yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Walmart, saya salah satunya. Tapi saya tidak menyangka ternyata kamu sendiri yang malah mengajukan diri, itu sebuah kehormatan bagi kami."


"Tidak Tuan, saya mohon jangan berkata seperti itu. Perusahaan anda sudah lebih dulu ada, malah saya yang sangat bersyukur karena bisa bekerja sama. Dibalik itu juga saya ingin membalas semua kebaikan anda dulu, ya saya tahu ini tidak seberapa, tapi saya janji akan menjadikan perusahaan ini lebih baik lagi."


"Terima kasih Edrik."


Filberta lalu teringat sesuatu, senyumannya langsung pudar dan Edrik yang melihatnya dibuat bingung.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Krystal?"


Dan anggukan itu membuat Filberta menghembuskan nafasnya berat, Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Saat kamu pergi, dia berubah menjadi wanita pendiam dan senang menyendiri. Ternyata kamu sangat berarti untuknya, sehingga semua sifatnyapun perlahan berubah. Entah kenapa, tapi Krystal berubah menjadi wanita mandiri dan tidak manja lagi. Sempat membuat saya dan Jessica bingung, tapi Krystal bilang kalau dia sudah dewasa dan ingin berubah."


"Iya, dia banyak berubah. Apa anda merasa kehilangan putri anda yang dulu Tuan?"


"Awalnya begitu, tapi saya juga harus mengerti. Ini pilihannya, dia sudah dapat menentukan jalan hidupnya. Sekarang saya malah sangat bangga pada dia."


"Tuan."


Filberta kembali menatap Edrik. "Hm?"


Edrik mencoba menguatkan diri dalam hati, astaga Ia sangat gugup sekarang. Detak jantungnya sampai terdengar, pria itu lalu berdehem untuk menghilangkan gugupnya.


"Tuan, saya ingin melamar Krystal." Ucap Edrik tanpa keraguan.