My Lady

My Lady
Terungkap



Krystal menatap pria yang membelakanginya, terdengar barang-barang yang beradu membuat Ia penasaran. Ia lalu berdiri disamping Edrik dan bisa melihat kalau pria itu sedang memasak. Tapi yang membuatnya heran kenapa sampai berantakan seperti ini? Telur dan tepung berserakan di atas pantri.


"Kau mau buat apa?"


"Astaga!" Pekik Edrik terkejut mendengar suara di sampingnya. "Em aku ingin membuat omlet untuk sarapan." Lanjutnya.


Krystal tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Edrik yang belepotan dengan tepung. Wanita itu menggeleng pelan, membawa tisu di sana dan membersihkan wajah pria itu.


"Kau ini sudah besar tapi memasak itu saja seperti anak kecil yang sedang bermain masak-masakan."


Setelah membersihkan wajah Edrik, Krystal beralih mengambil alih. "Kau duduk saja, biar aku yang menyiapkan sarapan."


"Memangnya kau bisa masak?"


"Menurutmu apa aku bisa masak?" Tanya Krystal sambil memasukan tiga telur ke mangkuk dan mengocoknya.


"Bukankah kau tidak bisa memasak?"


"Kata siapa? Dari mana kau tahu aku tidak bisa memasak?"


Pertanyaan itu membuat Edrik langsung terdiam, Ia sepertinya salah bicara. Krystal terkekeh geli melihat keterdiaman Edrik, apa Ia baru saja menang?


Edrik membuka apronnya lalu berinisiatif sendiri memakaikan pada Krystal, wanita itu sempat terkejut tapi tidak mengelak, membuat Edrik senang. Posisinya sekarang sangat dekat, dimana Edrik berada di belakang Krystal yang sedang memasak. Tangannya sangat gatal ingin sekali memeluk pinggang ramping itu, seperti di film-film romantis.


"Kamu tunggu saja di meja makan."


"Aku mau bantu deh."


"Jangan, nanti malah makin berantakan."


Edrik setuju juga, Iapun memilih duduk di meja makan. Memperhatikan Krystal yang sedang memasak di depannya. Walau tanpa polesan make up, wajah khas bangun tidur itu masih cantik.


Matanya memperhatikan Krystal yang tampak sangat telaten memasak, tanpa kesulitan sedikitpun. Ngomong-ngomong sejak kapan wanita itu bisa memasak? Padahal dulu Ia masih ingat, masuk ke dapur saja Krystal sangat jarang.


Tidak lama Krystal menghampirinya, sepiring omlet yang wangi menggoda disimpan di depannya. Air ludah Edrik langsung banyak, tanpa banyak bicara segera saja Ia mencoba, langsung terdiam karena masakan wanita itu sangatlah enak.


"Bagaimana? Apa ada yang kurang?"


"Tidak, ini pas." Jawab Edrik lalu kembali menyuap omletnya.


Krystal tersenyum kecil, Ia menatap Edrik yang makan di depannya. "Apa ini rumahmu?"


"Hm."


Rumah ini terbilang cukup mewah walau memang masih besar Mansionnya. Hanya dua tingkat tapi arsitekturnya mewah. Saat memasakpun tadi Ia bisa melihat halaman belakang yang indah.


"Rumah ini nyaman, tapi kenapa kau punya apartemen juga?"


"Aku baru beberapa hari di New York karena ada pekerjaan."


"Oh, eh tapi memangnya sekarang kita ada dimana?"


"Washington."


"Apa?!"


Edrik meminum air putihnya terlebih dahulu, omletnya sudah habis dengan cepat. "Kau pergi sangat jauh dari New York, tanpa diketahui kau menuju Washingtong. Untung saja aku tinggal tidak jauh dari sana, jadi ya aku memutuskan untuk membawamu ke sini."


Krystal hanya mengangguk, benarkah Ia pergi sejauh itu? Mungkin malam itu karena Ia terlalu kalut, sakit hati dan terus menangis sampai tidak sadar pergi sejauh ini dari rumah. Lalu saat teringat sesuatu, Krystal kembali menatap Edrik. Jantungnya mulai berdetak cepat lagi, dan entah kenapa sekarang Krystal malah jadi gugup.


"Em apa semalam kau menerima telphone?"


Edrik mengangkat sebelah alisnya, awalnya Ia tidak mengerti, tapi pria itu langsung teringat saat mendapat telphone dari Krystal. "Ya." Jawabnya.


Dan langsung terlihat wajah berbinar Krystal membuat Edrik ingin tertawa.


"Aku ini seorang bos dan pasti selalu mendapat telphone dari banyak orang, teman kerja, sekertaris. Mengirim pesan terkait pekerjaan, jadi setiap haripun pasti selalu mendapat telphone."


Mulut Krystal sampai terbuka kecil mendengarnya, astaga Ia kira Edrik mendapat telphone darinya. Efek terlalu percaya diri dan berharap lebih. Kalau Edrik tidak menerima telphone darinya, lalu siapa? Akh memalukan sekali Ia yang saat itu melantur berbicara pada orang asing.


"Habiskan sarapanmu!"


"Aku tidak nafsu makan."


"Kenapa begitu? Kau sedang tidak dietkan?"


Krystal menggeleng lesu, wanita itu lalu berdiri. "Boleh aku ikut mandi? Kepalaku sangat pusing dan aku ingin membersihkan diri."


"Ya, silahkan."


"Terima kasih."


Setelah melihat kepergian Krystal tawa Edrik langsung pecah, lucu sekali melihat ekspresi wanita itu tadi. Krystal pasti sangat berharap Ia yang menerima panggilan, tapi karena kebohongannya sekarang Krystal dilema.


Tentu saja Edrik tidak akan melupakan kata-kata manis itu, apalagi yang paling Ia ingat adalah betapa Krystal sangat mencintainya dan setia menunggunya untuk kembali bertahun-tahun.


Menikah?


Seulas senyuman langsung terukir di bibir Edrik, Ia memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Akhirnya penantiannya akan tercapai, yaitu mendapatkan Krysyal. Rasanya Edrik tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Tapi tiba-tiba Edrik teringat sesuatu, matanya terbelak lebar, dengan segera Ia berlari ke kamarnya.


Di lain tempat terlihat Krystal yang baru saja akan masuk ke kamar mandi, tapi langkahnya terhenti melihat sesuatu yang sangat menarik. Ia berdiri didepan benda yang tertempel didinding dengan ditutupi kain berwarna merah. Seperti pigura, tapi ukurannya sangat besar.


"Aku jadi penasaran."


Krystal menatap pintu kamar yang tertutup, Edrik tidak adakan? Bolehkah Ia melihat apa dibalik kain merah ini? Dengan menguatkan hatinya, akhirnya Krystal menarik ujung kain itu sampai terjatuh ke bawah.


Deg!


Matanya terbelak lebar menatap tak percaya lukisan itu, tunggu.. Bukankah itu wajahnya?


Walaupun hanya lukisan, tapi Krystal masih bisa menyadari kalau itu adalah wajahnya yang sedang tersenyum lebar. Seketika itu juga matanya langsung berkaca-kaca.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka cepat, Edrik menatap terkejut Krystal yang sedang menatap lukisan itu. Astaga, apa yang di takutkannya akhirnya terjadi juga. Wanita itu membalikan badan menatapnya datar dari kejauhan.


"Apa ini?" Tanya Krystal dengan suara seraknya.


Edrik tidak mampu menjawab, pria itu terlalu syok dengan kejadian ini. Kenapa waktunya tidak tepat! Ini bukan rencanya. Sial, semua karena kebodohannya juga. Lalu Krystal mendekat, berdiri tepat di depannya. Wanita itu memukul dadanya dengan tangan terkepal.


"Dasar pembohong!"


Kembali Krystal memukul dadanya.


"Kenapa kau jahat sekali melakukan ini padaku?!"


Lagi, wanita itu memukul dadanya.


"Aku salah apa?" Tanya Krystal lirih. "Apa kau ingin membuat aku menyerah dengan cinta itu?"


"Kalau kau sudah melupakan aku lebih baik kau tidak usah kembali melakukan hal konyol ini. Kau tahu Edrik? Aku malah semakin terluka."


Edrik langsung memeluk wanita itu, tapi Krystal mencoba melepaskan pelukannya.Edrik tidak akan membiarkan, Ia semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Hiks kau jahat Edrik!"


Edrik memejamkan matanya sekuat tenaga menahan air mata agar tidak keluar, rasa sesak terasa dan tenggorokannya tercekat. Pria itu terlalu lemah melihat betapa terlukanya wanita yang sangat Ia cintai. Umpatan demi umpatan Edrik ucapkan didalam hati untuk dirinya sendiri.


"Maafkan aku, tolong jangan membenciku."