
ANNA berdiri di tengah-tengah teman-temannya, minus Bianca dan Gibran Mereka mendiskusikan jalan keluar dan masalah yang tengah dihadapi oleh Bianca dan Gibran saat ini
" Lo semua Percaya sama foto yang ditunjukkin Gibran kemarin,” tanya Anna.
Semua menggeleng tak Percaya Mereka mengetahui bagaimana sifat keduanya Anna sangat mengenal Bianca Walaupun Bianca sangat cerewet, dia yakin bahwa sahabatnya Tidak akan melakukan Tindak terpuji seperti itu
" Apa rencana lo Anna," tanya Arsen
Anna diam. Dia mengangguk setelah menemukan ide cemerlang.
" Kita harus menginterogasi siapa saja yang bersangkutan dengan masalah ini.”
" Siapa saja targetnya " tanya Gery
Anna menuliskan Bianca, Boy, dan Gita di Papan tulis kecil di depan mereka.
" Bianca dan Boy adalah orang yang ada di foto itu, sedangkan Gita adalah orang yang menyebarkan foto ini sama Gibran Jadi untuk sekarang target kita adalah mereka bertiga.”
Janne mengangguk setuju
" Bagi tugas "
" Ya benar kita bagi tugas. Gue sama Angga yang menginterogasi Bianca Arsen, Gery, dan Janne menginterogasi Boy, sedangkan Dylan dan Alexa akan menginterogasi Gita,” Papar Anna.
" Gue gak mau,” Protes Dylan tegas.
Anna menatap kesal Masih tak mau dia harus berdebat dengan Prince Ice Merah Putih.
" Lo harus mau, titik,” ucap Anna dengan nada final.
Dylan menggeleng tegas. " Gue gak mau.”
Anna menyunggingkan bibirnya kesal.
" Cuma sama lo dia akan ngomong yang sebenernya.” ”
" Lo aja,” balas Dylan. Dia tetap keras kepala.
" Gibran temen lo, bukan " tanya Anna.
Dylan mengangguk.
" Ya kalo gitu, anggap aja lo bantuin dia,” buyuk Anna.
" Enggak " jawab Dylan lugas.
Anna melirik Alexa. ini saatnya dia harus menggunakan gadis Polos itu Alexa Tidak mengerti maksud tatapan Anna yang menyuruhnya untuk menatap Dylan
Janne menyikut lengan Alexa dan membisikkan sesuatu.
Alexa menatap Dylan dan tersenyum manis
" Kak Dylan mau ya ? Buat Bianca sama Gibran " Pinta Alexa dengan mengeluarkan Puppy eyes-nya
Anna tak habis Pikir. Dylan menjadi speechless saat melihat Puppy eyes Alexa.
Akhirnya Dylan menghela napas dan mengangguk Pasrah. Kemenangan untuk Anna dan kemalangan bagi Dylan, Kekuatan cinta memang mengalahkan apa pun.
...••••...
Interogasi Boy
Boy duduk di hadapan Arsen, Geri, dan Janne. Awalnya dia bingung kenapa mereka mencarinya sampai mendatangi rumahnya. Saat Arsen memberi tahu bahwa mereka datang untuk membicarakan seputar Bianca barulah Boy bersedia bertemu ketiganya.
" Boleh kami nanya seputar hubungan lo sama Bianca " tanya Arsen.
Boy mengangguk.
" Hubungan lo sama Bianca sejauh mana " tanya Janne tanpa membuang waktu. Boy hanya memberikan waktu
" Kami teman " Jawab Boy datar
Gery Tidak memercayai jawaban Boy Kalau mereka hanya sebatas teman tentunya Boy Tidak akan mati-matian membela Bianca di depan Liam sewaktu di kafe.
" Lo suka sama Bianca, sayang, or something like that ? tanyanya
Boy mengangguk. " Gue suka dia Kenapa Ada masalah "
Jane tersenyum Penuh arti lalu menggeleng. " itu sama sekali gak salah. Jadi, lo seneng Bianca dan Gibran berantem seperti ini "
Boy menatap tajam Janne lalu menyunggingkan senyum. " Tentu tapi gue bukan orang yang melakukan Tindakan menusuk dan belakang. Gue akan Fight jika mereka bersama lagi.”
" Kalo lo suka sama Bianca, berarti lo gak keberatan melakukan suatu Tindakan yang tidak terpuji, kan,” Gery berusaha memojokkan supaya Boy membuka suara tentang hubungannya dengan Bianca
Boy menghela napas. " Hanya gue dan Bianca yang tahu.”
" Lo udah Ngelakuin apa aja sama Bianca," tanya Arsen dengan emosi Dia kesal Boy menanggapinya dengan santai Padahal yang Arsen tahu masalah ini begitu besar Sangat berdampak Pada hubungan Bianca dan Gibran yang semakin menegang
Boy tersenyum menyeringai," Apa pun yang gue lakuin sama Bianca itu sama sekali bukan urusan kan,” jawaban dengan senyuman Penuh kemenangan
" Lo " Tunjuk Jane kepada Boy
" Gue apa " tanya Boy
" Gue kira Lo itu baik Boy Ternyata itu Lo gak lebih dari sampah," sungut Janne. Dia kesal karena Boy tidak mengkonfirmasi hubungannya dengan Bianca tapi malah membuat dirinya semakin bingung dengan apa yang terjadi
" Mentari " ucap Janne syok.
" Masuk ke kamar kamu sekarang," tegas Boy
" Tap .... "
" Masuk " Potong Boy dengan suara tegas.
Mau Tidak mau Mentari mengikuti kemauan Boy. Dia masuk kembali ke kamarnya.
Kejadian ita membuat Janne, Arsen, dan Gery saling Pandang. Mereka berusaha mengumpulkan apa yang terjadi antara Boy dan Mentari. Mereka bukannya mendapatkan keterangan secara jelas apa hubungan Bianca dan Boy melainkan malah menemukan sesuatu yang Tidak satu keberadaan Mentari di rumah Boy.
" Lo sama Mentari " tanya Jane. Dia masih tidak Percaya dengan apa yang barusan dilihatnya,
" itu semua sama sekali bukan urusan kalian. Sekarang kalo kalian gak ada kepentingan lagi di rumah gue sebaiknya kalian keluar,” usir Boy sambil menunjuk ke arah Pintu keluar
" Tapi kami belum selesai bertanya sama lo Boy, dan Lo Pun belum menjawab sesuai dengan yang kami harapkan," Protes Arsen. Dia Tidak mau usahanya terbuang Percuma Perjalanan ke rumah Boy menghabiskan sebagian bensin mobilnya.
" Keluar " Perintah Boy
" Lo Tiduri Mentari dan Lo juga tiduri Bianca berengsek,” ejek Geri tidak Percaya.
" KELUAR " Suara Boy naik beberapa oktaf. Itu membuat kesan menakutkan untuk ketiganya Mereka tidak menyangka bahwa Boy bisa sekejam ini jika sedang marah
Arsen, Gery, dan Jane tidak bisa membantah lagi agar tetap bisa bertanya kepada Boy Mereka Tidak mau mengundang keributan di rumah orang. Dengan berat hati, ketiganya keluar dari rumah Boy. Sayangnya beberapa Pertanyaan tak sempat mereka ajukan karena kemunculan Mentari yang tiba-tiba.
...•••••...
Interogasi Gita
Gita keluar dan rumahnya dan membukakan pintu gerbang. Dia tadi menerima telepon dari Dylan bahwa lelaki itu akan datang ke rumahnya Jangan tanya Dylan Punya nomor Gita dari mana Tak susah untuk mendapatkan nomor Perempuan barbar seperti Gita.
" hai Dylan ada apa ? Gita Pikir tadi hanya penipuan,” ujar Gita saat melihat Dylan di depan rumahnya
" Bisa kita bicara di dalam ” tanya Dylan dingin. Suaranya terdengar tidak bersahabat.
Gita mengangguk. Dia mempersilakan Dylan masuk ke dalam rumahnya Dylan awalnya tegang karena Alexa ndak kunjung datang. Dia menyesali mengapa tidak berangkat bersama saja tadi.
" Mau minum apa " tanya Gita saat Dylan baru saya duduk.
" Terserah " jawab Dylan tak acuh. Lagi pula, dia udak akan menyentuh minuman buatan Gita, apalagi meminumnya, kecuali masih dalam kemasan dan tersegel.
Alexa yang sudah berada di ambang Pintu membuat Dylan mengembuskan napas lega. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana haru menghadapi Perempuan seperti Gita Dia tidak mau kejadian dulu terulang kembali
Gita datang dengan minuman di tangannya. Dia kaget melihat Alexa di samping Dylan. Padahal dia tabu bahwa Dylan tadi datang sendirian
" Loh kok ada Alexa di sini,” tanya Gita kepada Dylan.
Dylan menatap Gita datar. " Gue yang suruh dia datang, Ada masalah," tanyanya.
Gita menggeleng lalu duduk di depan kedua tamunya. " Ada apa Kak Dylan nyari Gita, sampe harus ke rumah Gita segala," tanyanya.
" Gue gak mau basa-basi Kenapa lo memberikan Gibran Foto yang gak Penting tentang Bianca,"
Pertanyaan Dylan sontak membuat Gita Pucat Pasi Dengan cepat Gita menetralkan emosinya kembali. Dia harus tetap tenang.
" Gue hanya kasih tahu apa yang gue tahu aja,” jawab Gita. Dia tahu, jika dia berbohong Tidak akan membuat Dylan Puas. Lelaki itu akan tahu dan semakin mencecarnya.
" Tanpa maksud tertentu " sindir Dylan.
Gita mengangguk Pelan. " Iya Kak tanpa ada maksud sama sekali Walaupun kemarin Gibran mutusin gue dengan cara yang gak adil gue gak mau Gibran disakitin sama Bianca Kak.”
Dylan menaikkan satu alisnya. " itu maksud lo," bentaknya Dia memicingkan matanya untuk menatap Gita lebih tajam
" Lalu lo dapet foto itu dari siapa "
Gita terdiam Dia sudah tahu bahwa akhirnya akan seperti ini Di depan Dylan, tidak ada seorang Pun yang akan berani berbohong. Gadis itu menelan ludahnya di susah Payah.
" Gue gak tahu Kak, foto itu dari mana Foto itu tiba-tiba di depan rumah gue Gita aja. Pas gue lihat, Foto Bianca Setelah itu gue langsung kasih tahu Kak Gibran soalnya yang gue gitu aja Pas Gibran lagi deket sams Bianca,"
Dylan tidak memercayai alibi murahan dan Gita. Lelaki itu tersenyum menyeringai Dia akan mengikuti Permainan Gita.
" Lalu Kenapa lo gak kasih kepada orang yang ada di dalam foto itu Pertanyaannya hanya satu, kenapa mesti Gibran,"
Napas Gita tercekat. Ternyata semua yang orang bicarakan tentang Dylan benar adanya. Lelaki di hadapannya ini ibarat racun yang sangat mematikan Sekali orang satu berbohong, Dylan akan mempermainkan dengan kosakatanya. Sampai kejujuran yang terucapkan.
" Terserah gue dong Kalo Kak Dylan ke sama cuma nanya masalah foto itu maaf Kak cuma segitu yang Gita tahu.” Gita mencoba mengalihkan topik agar Dylan Tidak menyelidikinya lagi.
" Jawab sebenernya apa yang lo tahu tentang foto itu sebelum gue bersikap kasar sama lo," Dylan mencekal lengan Gita dengan kencang. Gadis itu menangis kesakitan,
" Gue gak tahu apa-apa,” cicit Gita.
" Kalo lo bohong Pilihan lo ada dua mati atau rumah sakit,” bentak Dylan dengan suara keras.
" Sumpah Kak.” Air mata Gita mulai keluar dari Persembunyiannya Untung saja hari itu rumah Gita sedang sepi Jika ada orangtuanya, Dylan Pasti akan diusir karena hampir mencelakakan anaknya.
" Gue dapet foto itu dan Kak Jasmine dan disuruh kasih ke Kak Gibran,”
Kejujuran Gita membuat Dylan melepaskan cekalan tangannya. Dia pun menarik lengan Alex untuk Pergi dan rumah Gira saat itu juga. Dia memberi tahu teman-temannya yang lain untuk berkumpul di rumah Angga jika mereka sudah selesai menginterogasi mangsa-mangsanya.
...•••••...