
Bianca berjalan menuju kelasnya dengan wajah kurang Persahabat Akhir-akhir ini mood-nya kurang baik Gibran yang melihat itu berjalan ke arah Bianca sambil membawa kopi Panas di gelas Plastiknya. Dia dengan sengaja menabrak Bianca dan menumpahkan air kopi itu ke baju seragam Bianca
Gibran tak melirik sekilas Pun ke arah Bianca bahkan dia menjatuhkan gelas itu di hadapannya. Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan kedua tangan berada di sakunya. Teriakan Bianca yang kepanasan karena air kopi itu tidak membuat Gibran berbalik arah Dia hanya tersenyum melihat Bianca menderita seperti sekarang ini.
Tiba-tiba sebuah jaket disampirkan ke tubuh Bianca. Sontak Bianca melihat siapa yang melakukan itu. Sang ketua kelas tersenyum.
" Baju lo kotor "
Bianca melepaskan jaket Tio dari tubuhnya.
" Gak Perlu "
" Pake " bentak Tio
Bianca menyunggingkan senyum sinis Dia tepis jaket itu hingga jatuh ke lantai. Bianca sangat membenci Tio dari dulu. Lelaki itu adalah mantan Pacarnya Bianca. Spesies lelaki yang ini sangat Bianca hindari karena merupakan Penjahat kelamin. Fakta itu membuat Bianca malas berhubungan dengannya.
Bianca berjalan, namun tangannya ditahan oleh seseorang. " Tio lepasin tangan gue,” ketus Bianca, tapi orang tersebut tidak melepaskan cekalan tangannya. Bianca kesal dan membalikkan badannya. Di sana ada Boy yang menyunggingkan senyum Manisnya.
" Jangan senyum kayak gitu Gue jadi enek niatnya,” Cibir Bianca Boy hanya mengangguk, lalu dia membuka jaketnya, dan memakaikannya Pada tubuh Bianca. Walaupun kebesaran setidaknya itu bisa menutupi noda kopi di seragam Bianca
" Tadi baju lo menjijikkan,” ucap Boy selepas meritsletingkan Jaketnya Bianca tersenyum ke arah Boy lalu menggeleng.
" Lo baik sama gue Gak ada maksud tertentu, kan,"
Boy menggeleng, tapi kemudian mengangguk.
" Ada maksud atau tidak, gue gak akan nyakitin lo kayak yang Gibran lakukan sama Lo,"
Bianca memukul dada Boy dan tersenyum kecut.
" Dia memang berengsek.”
" Tapi gue enggak,” bantah Boy
" Mungkinkah " Bianca sedikit ragu dengan ucapan Boy.
Boy terkekeh Pelan lalu mengacak rambut Bianca dengan gemas. " Jangan nangis kayak kemarin. Lo jelek kalo lagi nangis.”
" Gue tahu "
" Jangan Pernah nangisin cowok kayak Gibran rugi buat Lo,”
Bianca menatap Boy dengan kedua tangan terlipat di dada. " Gue tahu gue bego. Gue terlalu bawa Perasaan masalah kemarin, dan gue sedang emosi. Makasih karena Lo selalu selamatin gue. Entah bagaimana lo tahu gue ada di gudang kemarin. Tapi intinya, gue makasih banget sama Lo Entah bagaimana Lo tahu gue ada di gudang kemarin. Tapi intinya, gue makasih banget sama Lo. Kalo lo gak ada, mungkin gue sama Gibran sudah saling bunuh-bunuhan.”
Boy menoyor kepala Bianca karena sudah berbicara ngawur. "Jangan ngomong kayak gitu. Jangan khawatir gue selalu Jagain lo bagaimana manapun caranya,"
" Ngomong lo udah kayak orang lagi jatuh cinta aja.”
Boy terkekeh geh. “Gue jauh cinta sama Lo,"
Wajah Bianca seperti kepiting rebus saat mendengar kalimat Boy barusan Bagaimana mungkin Boy mengatakan hal itu Secara terus Terang tanpa ada kata Pengantarnya ?
" Tuh kan, baper gue bercanda,” ucap Boy sambil mengulum senyumnya.
" Resek lo "
" Kantin yuk " ajak Boy.
Kare diam sambil menatap Boy, lalu tersenyum.
" Boleh, tapi lo harus traktir gue.”
Boy mengangguk. " Kalo buat lo, gue rela borong satu kantin sekolah "
...•••••...
Segala cara sudah dia lakukan, tetapi kedua orangtuanya tetap saya menginginkan Pertunangan itu terjadi
Tentu saya Gibran menginginkan calon istri yang baik, dan belum terjamah oleh lelaki lain selain dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa menerima Bianca dengan apa yang sudah dilakukannya secara terang-terangan seperti waktu di kafe ?
" Kamu melamun Gibran, kenapa,” tanya seorang Perempuan yang berada di samping Gibran
Dia Mentari, Pacar baru Gibran. Mentari sangat berbeda dengan mantah-mantannya terdahulu. Dia cewek yang Pintar, anggun, dan cantik Tidak Pernah terdengar gosip apa pun tentangnya selama dia bersekolah di SMA Merah Putih.
" Gak Papa, Sayang,” jawab Gibran sambil tersenyum Manis Pada Mentari
Mentari mengangguk dan tersenyum sangat lembut. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Gibran Mata indahnya menatap Gibran seakan meminta Penjelasan lebih lanjut lagi
" Kamu akhir-akhir ini banyak melamun. Pasti ada masalah, kan Atau ada sesuatu yang kamu Pikirkan? Aku tahu, Pasti memikirkan masalah kamu dan Bianca, kan,”
Gibran terdiam lalu menatap Mentari Dia menggeleng, “Aku hanya memikirkan kenapa Punya Pacar secantik kamu,” gombalnya.
Mentari hanya mengerucutkan bibirnya lucu.
" Gombal aja Gibran, gak seharusnya kamu hakimin Bianca kayak gitu Bianca juga berhak atas Pembelaan untuk dirinya, Kamu harus dengerin apa Penjelasan dia, kenapa dia berbuat begitu, untuk apa dia berbuat begitu, apa yang dia harapkan setelah melakukan hal itu Tentu saya harus dengan cara baik-baik Perempuan semakin dikasari akan semakin melonjak, Bereskan semua masalahnya, biar tidak terjadi kesalahpahaman,” saran Mentari
Gibran berpikir bahwa Mentari adalah Perempuan Paling sempurna di dunia ini. Dia memiliki apa pun untuk standar Perempuan. Bahkan, Mentari mempunyai semua yang membuat daya tarik perempuan mana pun. Gibran yakin, jika Cammila dan Jason mengenal Mentari lebih dekat, mereka akan lebih setuju Liam menikah dengan gadis itu daripada dengan Bianca
Gibran Pernah mengenalkan Mentari kepada Cammila, tapi hasilnya sang ibu cemberut sepanjang han. Dia Tidak mau mengobrol dengan Mentari. Gibran jadi merasa Tidak enak membawa Mentari kembali ke rumahnya. Cammila terlanjur sangat menyukai Bianca sehingga beranggapan bahwa tidak ada Perempuan yang lebih baik dari Bianca untuk Gibran
" Semua yang aku lakukan sama Bianca beralasan. Semua sudah jelas. Bukti sudah ada di depan mata, jadi semua itu Pantes Bianca dapatkan,” bela Gibran
Mentari menggeleng. Kedua tangannya menangkup kedua Pipi Gibran, " Setiap orang selalu dan Pasti Punya alasan khusus melakukan segala sesuatu,” jelasnya. Gadis itu mengeluarkan Puppy eyes-nya. “Kamu harus ngomong berdua sama dia supaya semuanya baik-baik aja. Gak ada yang salah Paham lagi," Pintanya.
Tatapan Mentari yang seperti itu membuat Gibran tidak bisa menolak apa yang di Pintanya.
" Aku bakalan ngomong sama Bianca nanti: kalo ada waktu, Semua itu aku lakukan demi kamu.”
" Bukan demi ku tapi demi kamu sendiri,” ralat Mentari
Gibran mengerutkan keningnya
" Demi aku "
Mentari mengangguk " Kamu harus belajar dewasa dan mendengar dan menerima keputusan terbaik.”
" Nanti aku Pikirkan lagi "
" Harus ya " Pinta Mentari lagi
Gibran menghela napasnya gusar
" Kamu kenapa sih, Tar ? Kok kayaknya kamu ngebet banget aku harus ngomong sama Bianca,"
" Aku juga Perempuan, Sayang. Aku bisa merasakan Jika aku ada di Posisi Bianca,"
Gibran tidak akan berani menolak lagi Pada Mentari sudah mengeluarkan Jurusnya. Jurus itu mampu membuat Gibran luluh dan Pasrah menerima apa pun yang dimintanya. Jurus Mentari adalah mengeluarkan Puppy eyes-nya dan memanggil Gibran dengan kata sayang.
" Janji dulu sama aku, kalo kamu bakalan ngomong sama Bianca tentang masalah ini,"
Gibran mengangguk. " Tapi sekarang jangan dibahas lagi ya,” Pintanya sambil menggenggam kedua tangan Mentari
Mentari mengangguk " Satu lagi Permintaan aku Jangan Pake emosi.”
Gibran hanya tersenyum lalu mengelus rambut Pacarnya dengan sayang
...•••••...