MY ENEMY MY LOVE

MY ENEMY MY LOVE
PART 15 HER AND HIM AGAIN



Gibran menunggu kelas Mentari bubar Ada yang ingin Gibran bicarakan dengannya. Setelah berpikir matang-matang, tenyata dia masih membutuhkan Mentari sisinya. Jika Gibran harus berpisah dengan Mentari gadis itulah yang harus mengakhiri semuanya. Gibran tahu, Mentari bukan Perempuan dengan segudang alasan untuk mendekatnya.


Mentari kaget melihat Gibran berada di luar kelasnya. Gibran menatapnya lalu tersenyum. Gadis itu tersenyum kikuk Dia Tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah tragedi Gibran memutuskannya kemarin.


" Lo ada waktu " tanya Gibran


Mentari diam lalu mengangguk


" Bisa ikut gue sebentar " ajaknya


" Bisa " jawab Mentari


Gibran menarik lengan Mentari menuju Parkiran sekolah Bianca yang melihat itu merasa sesak. Dia Tidak tahu bahwa Gibran sangat mengistimewakan Mentari. Dengan selalu menggandengnya ke mana pun dia Pergi Gibran tidak tampak risi seperti saat dia bersama mantan-mantan Pacarnya terdahulu


" Bianca " Panggil orang di belakangnya.


Bianca berbalik. Boy sedang melambaikan tangannya Bianca tersenyum singkat. Kenapa Boy harus ada Pada saat seperti ini


" Mau ke mana " tanya Boy


Bianca hanya tersenyum.


" Mau nemenin gue makan " Itu bukan Pertanyaan, melainkan ajakan.


Bianca menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Makan ? Ditraktir ” tanyanya.


Boy terkekeh Pelan lalu mengangguk


" iya "


Mungkin ada baiknya Bianca menemani Boy maka untuk menghilangkan rasa kesalnya. Boy melihat Bianca hanya terdiam. Dia Pun menarik lengan Bianca agar gadis itu bisa menemaninya makan siang.


Boy mengajak Bianca untuk makan di kafe dekat sekolah seperti biasanya Kate melihat ke sekeliling kafe yang dihuni Para siswa sekolahnya. Dia menghela Pelan dan menatap Boy


" Kita Pasti mendapatkan tempat jangan khawatir," ucap Boy


" Gue udah dapet tempat,” kata Boy tersenyum senang,


Lengan Bianca setengah diseret untuk mau ke kafe. Mereka berhenti di sebuah meja yang sudah ditempati dua orang


Bianca melihat siapa yang ada di meja itu. Gibran dan Mentari Bagaimana mungkin Bianca bisa makan satu meja dengan keduanya. Merekalah Penyebab Bianca kesal hari ini


" Kami boleh gabung " tanya Boy kepada Gibran dan Mentari


Gibran melepaskan sendoknya lalu memandang Bianca dan Boy.


" Gabung ? Tidak bisa cari tempat lain,”


Bianca menatap Boy. " Kita Pergi ”


Boy menahannya untuk tetap berada di situ.


" Gabung aja " ucap Mentari.


Gibran menatap Mentari lalu menghela napas dan mengangguk Itu mengisyaratkan bahwa Bianca dan Boy boleh bergabung


Boy menarik kursi untuk Bianca. Gadis itu duduk di samping Mentari sedangkan Boy duduk di samping Gibran


Sudut mata Gibran selalu mengikuti gerak-gerik Bianca Gadis itu sadar bahwa Gibran memperhatikannya, Hal itu tidak nyaman Dia menaikkan wajah untuk memberanikan diri menatap Gibran. Tatapan keduanya terkunci cukup lama. Gibran menatap Bianca dengan kebencian, sedangkan Bianca menatap Gibran dengan sayang.


Gibran berpaling dan kontak mata itu Dia memandang Mentari dan tersenyum. Senyum itu jarang Gibran Perlihatkan kepada semua orang Tangannya menggenggam tangan Mentari


" Gue yang akan mentraktir " ucap Gibran kepada Boy dan Bianca


Bianca menggeleng. " Gue Punya duit "


Gibran terkekeh. " Hari ini gue bahagia karena gue balikan dengan Mentari "


" Gue gak Peduli,” sahut Bianca sinis


" Gue membiarkan lo duduk di sini untuk merayakan hari bahagia gue dengan Mentari,” ungkap Gibran


Bianca berdiri tapi Boy menahannya Dia menyuruh Bianca untuk tetap duduk dan Tidak menghiraukan gangguan Gibran


Bianca akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan Boy Hatinya Panas saat Gibran menyuapkan makanannya ke arah Mentari Gibran memperlakukan Mentari seperti Perempuan Paling spesial yang ada di muka bumi


Boy yang melihat sudut mata Bianca terus-menerus mengikuti gerak-gerik Boy menggelengkan kepalanya. Di Pun menggenggam tangan Bianca


" Haruskah gue kayak gitu," tanya Boy.


Bianca mengerutkan keningnya, lalu menggeleng.


" Gak "


Boy hanya terkekeh Pelan lalu mengangguk.


" Tapi Lo suka "


" Gak terlalu " jawabnya.


Gibran mendengarkan pembicaraan keduanya, tapi tak satu Pun kalimat yang dia mengerti.


Gibran melihat tangan Bianca digenggam oleh Boy itu membuat dia ingin mengusir Boy dan membiarkan Bianca sakit hati karena melihatnya berduaan dengan Mentari. Gibran mengalihkan Pandangannya kepada Mentari yang juga sedang menatap Boy. Gibran menggeleng. Sebenarnya siapa orang yang selalu menjadi Pusat Perhatian ? Dirinya atau Boy ?


" Tari " Panggil Gibran


Mentari menoleh ke arah Gibran dan tersenyum.


" Kenapa lo Putus sama Boy,” tanya Gibran


Wajah Mentari memucat. Dia menunduk.


Boy yang melihatnya lalu menatap Gibran Dia balik bertanya


" Kenapa lo ingin tahu "


" Karena gue Pacar Mentari " jawab Gibran


" Lo gak Perlu tahu masa lalunya,” tegas Boy.


Gibran menaikkan sebelah alisnya


Boy menggeleng. " Tidak ada "


" Lalu "


" Karena gue itu gak Pernah cinta sama Mentari," jawab Boy Tegas. Hal itu menyakitkan bagi Mentari mengingat masa kelamnya dulu


Gibran menautkan keningnya. Dia Tidak habis Pikir. Kalua Boy Tidak cinta Mentari, mengapa mereka dulu berpacaran ?


" Lalu, kenapa dulu lo berpacaran dengan Mentari "


Gibran bersikeras ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi Pada Mentari dan Boy.


" Karena status " jawab Boy.


Bianca tak suka dengan Pertanyaan Gibran. Dia melihat Mentari yang menundukkan kepalanya. Karena secara tidak langsung, Boy mempermalukan Mentari di depan Pacarnya sendiri


" Status ? Tapi lo bisa Pilih yang lain bukan Mentari Kenapa harus dia ”


Boy menatap Mentari yang tak mampu mengangkat wajahnya lagi. " Yakin boleh gue bongkar di sini ? Lo gak liat ekspresi orang yang bersangkutan dengan cerita ," tanyanya.


Gibran menoleh ke arah Mentari yang sedang menunduk Gadis itu sudah Tidak ada muka lagi di depan Boy


" Tari boleh " tanya Gibran meminta Persetujuan tapi Mentari hanya diam


Boy mengangguk. " Gue lanjutkan karena Mentari adalah cewek yang—"


" Stop Boy " Potong Bianca. Dia tidak bisa membiarkan Boy membongkar semuanya di depan Mentari. menurut Bianca. Mentari adalah Perempuan sempurna


" Jangan lo terusin cerita gak jelas Lo," Bianca menarik lengan Mentari meninggalkan kedua lelaki itu


Mentari hanya menunduk, tak mau menatap Bianca. Bianca merangkulnya walaupun hanya Panas saat mengingat bahwa Mentari lah yang menggeser Posisi dirinya di hati Gibran


" Lo gak Papa " Tanya Bianca walaupun sebenarnya dia tahu bahwa Mentari itu kenapa-kenapa.


" Kenapa lo gak mau denger cerita itu sampe abis ” tanya Mentari datar


Bianca menggeleng. " Gue Tidak akan mendengarkan bualan itu, " jawab Bianca sambil terkekeh Pelan.


" Kenapa "


Bianca menatap Mentari senyumnya mengembang. " Gue sudah merasakannya Lo gak Perlu tanya bagaimana rasanya.”


Bianca mengeluarkan Ponselnya dan menelepon seseorang untuk menjemputnya.


Mentari hanya diam Dia berusaha mengingat apa yang akan dia lakukan Boy Padanya tadi. Boy yang sekarang sangat berbeda dengan Boy yang dia kenal dulu Mengapa dia berubah menjadi seperti itu ?


" Bianca ” Panggil Mentari.


" iya "


" Menurut lo, Boy itu orangnya gimana," tanya Mentari Penasaran


Bianca menerawang mencoba mengingat-ingat lagi. " Dia baik Cukup Populer, ngehargain cewek, dia gak Pelit dia Pengertian, Perhatian, banyak deh, dia juga cukup bawel untuk ukuran cowok. Kenapa Lo nanya gini,”


" Gue ingin tahu Awalnya gue kira Boy deket sama Lo karena gue Pacarnya Gibran, tapi justru sepertinya gue yang jadi korban di sini,” ucap Mentari Pelan


Bianca menautkan alisnya. Dia Tidak mengerti maksud Mentari.


" Gue kira lo baru deket sama Boy sekarang-sekarang, tapi ternyata Boy sudah mengenal lo dan sebelumnya Gue selalu beranggapan bahwa Boy itu gak bisa move on dan gue tapi ternyata gue salah Justru sepertinya gue yang gak bisa lupain dia.”


" Lo masih sayang Boy,” tanya Bianca Penasaran


Tin...tin...


Suara klakson mobil terdengar di depan mereka. Bianca tersenyum senang saat melihat Bara membuka kaca mobilnya dan menyuruhnya naik Bianca mengangguk, lalu mengajak Mentari Awalnya Mentari menolak dan berkata bahwa dia ingin Pulang sendiri Setelah menerima rayuan maut dari Bianca akhirnya Mentari ikut masuk ke mobil Bara.


" kok bisa berdua " tanya Bara Penasaran


" Kenapa Keberatan "


Bara menggeleng lalu mengelus rambut Bianca lembut.


" Heran aja "


Bianca terkekeh Pelan. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Bara yang menyetir


" Aneh ya gue akur sama Mentari padahal gue benci sama Pacarnya," tanya Bianca


Bara tersenyum. " Lebih tepatnya Lo bukan benci sama Gibran tapi Lo cinta sama Gibran,” ralatnya.


Bianca memukul Bara karena dia memang menyebalkan. Bagaimana mungkin Bara berkata begitu di depan Mentari ?


" Ish, Kak Bara resek "


Bara tertawa saat Bianca mengerucutkan bibirnya karena kesal Dia selalu menggodanya dengan mengatakan bahwa Bianca Tidak membenci Gibran tetapi mencintai Gibran


Mentari meminta diturunkan di gang sempit yang katanya tidak akan bisa dilewati oleh mobil. Awalnya Bianca ingin mengantar sampai rumahnya tapi gadis itu menolaknya secara halus Bianca Pun urung mengantarnya


Bara melihat Bianca yang merenggut seperti itu, berbeda dengan Bianca yang biasanya


" Kenapa ” tanyanya Penasaran


Bianca menggeleng


" Gue terlihat aneh ya "


Barra Mengusap lembut rambut Bianca


" Lo banyak berubah ,"


" Jadi lebih cantik kan, " Bianca mengerlingkan matanya kepada Bara


Barra mengalihkan tatapannya. " Lebih menyedihkan sih Bianca,"


" Resek "


Bianca mencubit Pinggang Bara Lelaki itu meringis dan memohon ampun agar Bianca melepaskan cubitannya


...••••...