MY ENEMY MY LOVE

MY ENEMY MY LOVE
PART 13 KETAHUAN



Jane memegang kepalanya. Dia kaget mendengarnya jawaban Bianca. Dia tahu Bianca sangat nekat. Tapi tidak sampai l menggantikan Posisi gadis cantik itu Bianca tidak tahu Perasaannya sekarang seperti apa. Yang jelas semakin dia berusaha membenci Gibran semakin kuat Perasaan rindunya terhadap Ielaki itu


Ponsel Bianca berbunyi. Dengan cepat Bianca menggeser layar Ponsel lalu ditempelkan di kupingnya.


" Halo "


" .... "


" Gue ada di kafe di dekat sekolah. Sorry gak bilang,"


" .... "


" Lo mau nyusul ke sini "


" .... "


" Ke sini aja gue tunggu ya "


Bianca menutup Panggilan itu. Ponsel itu disimpan kembali di atas meja.


" Dari siapa Bianca " tanya Jane. Dia selalu ingin tahu urusan orang lain


" Dari Boy " jawab Bianca singkat. Dia Tidak tahu bahwa Gibran menyunggingkan senyum setan ke arahnya.


" Bianca " Seseorang menepuk bahu Bianca. Gadis itu berbalik.


" Kak Bara " Panggil Bianca senang Bara mash tetap sangat tampan seperti dulu


" Murahan " cibir Gibran Pelan, tapi Bianca Punya telinga Yang super dahsyat. Dia bisa mendengarnya dengan sanga jelas


" Ada masalah Gibran, " tanya Bianca ke arah Gibran


Gibran berdiri dan kursinya lalu menatap rendah ke arah Bianca, " Lo itu Perempuan murahan. Gak lebih berharga dari tai ayam. Lo cabe cengtri Mau ama lelaki mana Pun, haus.”


Bianca mengambil jus mangganya, lalu menyiramkannya ke wajah Gibran


Jane memegang kepalanya. Dia kaget mendengarnya jawaban Bianca. Dia tahu Bianca sangat nekat. Tapi tidak sampai begini ini adalah kesalahan fatal Bianca yang selalu mengganggap bahwa ucapannya tidak berimbas pada apapun


" Lo gak coba minta maaf gitu sama Gibran," Tanya Alexa


Bianca menggeleng Tegas. " Gue gak akan minta maaf kalo gue gak tahu masalahnya apa Hingga diri gue lebih tinggi," jelasnya


Bianca Tidak menyadari bahwa ada Gibran dan Mentari di antara mereka Dia masih sibuk dengan gadget-nya dan tertawa terbahak-bahak.


Saat Bianca menyimpan Ponselnya di meja dan melihat ke sekelilingnya, dia kaget karena orang yang berada di meja bertambah banyak, bahkan hampir tiga meja disatukan. Bianca menatap satu Persatu Orang yang duduk satu mejanya, Dimata Gibran Gibran menatap Bianca sedatar mungkin. Bianca menghela napasnya dan melihat Mentari yangs sedang menatap Bianca sambil tersenyum tulus. Bianca Tidak membalas senyuman itu Dia tak acuh dan kembali fokus kepada teman-temannya.


Hati Bianca sangat Panas melihat Mentari di samping Gibran dan tangan Gibran merangkulnya. Bianca ingin menggantikan Posisi gadis cantik itu Bianca tidak tahu Perasaannya sekarang seperti apa. Yang jelas semakin dia berusaha membenci Gibran semakin kuat Perasaan rindunya terhadap Ielaki itu


Ponsel Bianca berbunyi. Dengan cepat Bianca menggeser layar Ponsel lalu ditempelkan di kupingnya.


" Halo "


" .... "


" Gue ada di kafe di dekat sekolah. Sorry gak bilang,"


" .... "


" Lo mau nyusul ke sini "


" .... "


" Ke sini aja gue tunggu ya "


Bianca menutup Panggilan itu. Ponsel itu disimpan kembali di atas meja.


" Dari siapa Bianca " tanya Jane. Dia selalu ingin tahu urusan orang lain


" Dari Boy " jawab Bianca singkat. Dia Tidak tahu bahwa Gibran menyunggingkan senyum setan ke arahnya.


" Bianca " Seseorang menepuk bahu Bianca. Gadis itu berbalik.


" Kak Bara " Panggil Bianca senang Bara mash tetap sangat tampan seperti dulu


" Murahan " cibir Gibran Pelan, tapi Bianca Punya telinga Yang super dahsyat. Dia bisa mendengarnya dengan sanga jelas


" Ada masalah Gibran, " tanya Bianca ke arah Gibran


Gibran berdiri dan kursinya lalu menatap rendah ke arah Bianca, " Lo itu Perempuan murahan. Gak lebih berharga dari tai ayam. Lo cabe cengtri Mau ama lelaki mana Pun, haus.”


Bianca mengambil jus mangganya, lalu menyiramkannya ke wajah Gibran