MY ENEMY MY LOVE

MY ENEMY MY LOVE
PART 11 PROBLEM



" Ma, Pa, Bianca berangkat dulu Assalamu’alaikum, " Pamit Bianca dengan mencium Punggung tangan Karlie dan Betrand. Bara pun meniru Bianca


" Wa'alaikum salam. Hati-hati ya. Bara Tante Titip Bianca ya,” ucap Kirana


Bianca pun mengikuti Bara menuju mobilnya. Dia tidak mau membuka suara selama Perjalanan. Seolah-olah Bara adalah makhluk ndak terlihat. Bara terus-menerus mengajak bicara tapi tak ada satu pun ucapannya yang Bianca tanggapi


Sesampainya di sekolah, Bianca turun dari mobil Bart Setelah berterima kasih gadis itu segera berlalu Dia tidak memperdulikan Bara yang berteriak meminta agar dia berhenti dan berjalan bersama menuju kelas masing-masing


Bianca berjalan menuju kelasnya. Dia berdoa semoga saja Tidak bertemu dengan Gibran har ini. Ada yang mengganjal di hatinya saat dia berpapasan dengan Gibran. Rupanya keinginan Bianca sia-sia. Dia berpapasan dengan Gibran yang sedang berjalan bersama Mentari diiringi canda tawa. Hal itu membuat Bianca meringis Dadanya sesak.


Bianca ingin menangis tetapi dia tahan Dia tidak mau menangis di depan umum. Dia sadar bahwa jika dia sedang menangis, wajahnya akan sangat jelek


" Bianca " Panggil Tio ketua kelasnya


Bianca menaikkan sebelah alisnya.


" Makin cantik aja sih " goda Tio.


Bianca tersenyum sinis. Para siswa di kelasnya memang suka sekali menggoda Bianca tapi gadis itu selalu membalasnya


Bel masuk Pun berbunyi. Bu Angelina guru matematika, masuk ke kelas Kate Mendadak kelas sunyi seolah tak berpenghuni. Walaupun guru itu cantik tetap saja dia guru Paling tegas di sekolah.


Belajar selama dua jam bersama Bu Angelina seperti belajar selama dua tahun. Bianca menghela nafas karena jam istirahat tak kunjung berbunyi Ponselnya bergetar. Dia pun melihat siapa yang mengiriminya Pesan. Dia membaca Pesan masuk itu. Ternyata dari Gibran. Lelaki itu mengajaknya berbicara di gudang sekolah. Jelas saja Bianca sangat senang. Mungkin Gibran akan mengajaknya berbaikan. Bel istirahat pun berbunyi Gibran segera menuju gudang.


Tak Peduli jika dia terlihat seperti orang tidak waras yang berlari-lari di koridor sekolah. Bianca masuk ke dalam gudang. Tak ada siapa pun. Gadis itu berpikir mungkin saya Gibran belum sampai. Pintu gudang Perlahan bergerak dengan sendirinya hingga tertutup rapat. Bianca kaget karena tad: dia sama sekali tidak menutup Pintunya Lalu, siapa yang menutup Pintu barusan ? Bianca yakin anginlah dalangnya. Tetapi, saat Bianca mencoba membuka, Pintu itu sama sekali Tidak bisa terbuka. Dia terkunci di dalam gudang.


" Siapa yang kunci gue nih ? Jangan bercanda dong,” keluh Bianca sambil mengetuk-ngetuk Pintu gudang. Dia merogoh sakunya lalu menghela Pelan Dia meninggalkan Ponselnya karena terlalu bersemangat berlari menuju gudang.


Tak ada yang melewati gudang sekarang. Bianca naik ke atas meja-meja yang ndak terpakai untuk melihat jendela. Siapa tahu ada orang yang dia kenal lalu dia akan berteriak meminta tolong. Tapi, Percuma saja Kawasan gudang adalah daerah yang sangat jarang dilalui oleh Para siswa sekolahnya.


Bianca memegang Perut Dia merasa sangat lapar. Di tidak sarapan karena tidak berselera. Kate Menunduk Mungkin sekarang dia harus menerima nasibnya karena terkurung di gudang


Bianca terus-menerus berteriak minta tolong. Dia berharap suaranya bisa didengar oleh satu sekolah. Tap, tak ada satu Pun siswa yang menolongnya untuk keluar dari gudang


Tiba-tiba tangan Bianca terasa geli Tampak tikus yang sedang mencoba menggigit tangannya. Gadis itu menjerit sekeras-kerasnya, lalu dia menangis Tikus adalah binatang yang Paling Bianca benci karena sangat jorok


Bianca terus-menerus menangis. Dia berjanji akan berbaik hati kepada siapa pun yang menolongnya keluar dari gudang menjijikkan ini.


" Bianca lo di dalem," Terdengar suara lelaki dari luar gudang.


Bianca menoleh dan mengangguk, lalu menghampiri Pintu dan mengetuknya Dia menjawab dengan suara Parau bahwa dia berada di dalam.


" Lo gak Papa, kan " tanya lelaki yang Kate tidak tahu siapa.


" Cepet keluarin gue Gue takut " teriak Bianca histeris.


" Jangan Panik tunggu,” Perintah lelaki di luar gudang itu.


Bianca mengangguk meskipun orang yang berada di luar tidak bisa melihat anggukannya.


Saat Pintu gudang terbuka Bianca langsung memeluk lelaki yang dia anggap Penolongnya itu. Gadis itu Tidak Peduli siapa lelaki itu. Mau dari kalangan nerd atau Famous, yang jelas dia sangat berterima kasih.


" Lo message gue Cuma ingin mata gue melihat adegan lo Pelukan,” tuding suara dari belakang Bianca


Gadis itu melepaskan Pelukannya lalu dia berbalik Gibran sedang menatap nyalang kepada Bianca dan orang yang menolongnya. Bianca Pun menoleh siapa yang menjadi Penolongnya barusan. Di samping Bianca ada Boy yang menatap datar Gibran


" Bukannya lo yang nyuruh gue ke gudang ya Sampe gue kekunci di gudang dan hampir mati ketakutan,” cerocos Bianca Tidak terima.


" Gue " tunjuk Gibran ke dirinya sendiri " message lo duluan ,” Dia tersenyum mengejek. " Mimpi lo terlalu kejauhan Bangun Sudah siang Cih,"


Gibran membuang ludahnya di depan Kate seolah-olah gadis itu adalah hal Paling menjijikkan baginya. Itu membuat dada Bianca sesak. Dia tidak bisa membalas Perkataan Gibran. Dia ingin menangis sekeras-kerasnya.


" Salah gue apa sih, Gibran ? Kenapa lo tiba-tiba marah-marah sama gue Jelasin Bagian mana dari dalam diri gue yang salah,” teriak Bianca frustrasi Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Gibran yang semakin menyesakkan. Dia Tidak Peduli Pada orang yang menganggapnya gila atau apa pun karena berteriak seperti itu


" Lo masih gak tahu salah lo apa ? Apa semua itu kebiasaan lo, Bianca,” sindir Gibran


Bianca mengerutkan keningnya


" Kebiasaan apa ? Makan? Shopping Atau apa," tanyanya.


" Di mana sih otak lo ? Pikir Selama ini lo sudah melakukan kesalahan apa," teria Gibran. Dia kesal karena Bianca sama sekali tidak menyadari apa kesalahannya.


Bianca mengacak rambutnya kasar


" Gimana gue bisa tahu, kalo lo sendiri cuma marah-marah sama gue ? Gue gak ngerti,” bentaknya.


Tatapan mata Gibran sangat tajam dan mengintimidasi Bianca tahu, jika Gibran sudah mengeluarkan tatapan itu artinya dia sedang marah besar. Bianca Pernah melihat Tatapan Gibran yang seperti ini sewaktu ada orang yang mengganggu dirinya. jika Gibran sudah seperti ini, dia bisa lepas kendali dan tak Peduli apakah lawannya sejenis atau tidak. Tapi, sekarang bukanlah saatnya bagi Bianca untuk merengek meminta Penjelasan. Gibran yang ada di depannya bukanlah Gibran yang dulu dia kenal.


" Gue bukan cenayang, Gibran, yang bisa tahu segalanya. Gue gak bisa tahu apa salah gue sama lo. Karena yang gue tabu, gue gak Pernah melakukan kesalahan sama lo Tolong lo jelasin sama gue, hal apa yang salah dari gue agar gue bisa introspeksi diri,” kata Bianca


Boy menatap iba ke arah Bianca Dia Tidak tahu bahwa Bianca mempunyai Perasaan vang sang sensitif seperti ini Boy mengelus punggung Bianca Dia berusaha menenangkan Bianca Namun gadis itu tetap tak bisa mengontrol emosinya kareng Gibran membalas semua ucapan Bianca, bukan meredakannya, Gibran semakin mengompor-ngompor agar Bianca berbuat konyol seperti ini


Gibran tahu Bianca adalah orang yang blak-blakan. itu yang membuat Boy geram. Apa untungnya buat Gibran saat dia melihat kemarahan Bianca ?


" Lo " Tunjuk Gibran ke arah Bianca


" Gak usah tunjuk-tunjuk gue.” Bianca menepis tangan Gibran yang menunjuknnya


" Murah " ejek Gibran


" Murah ? Hah ? MAKSUD LO APA," teriak Bianca tak terima dirinya disebut murah. Liam mengangguk lalu tersenyum menyeringai


" Barang second kayak lo gak Pantes bersikap jual mahal.”


" Ngomong sama gue, salah gue apa Jangan bilang kalo gue barang murah GIBRAN,” teriak Bianca


Gibran menatap nyalang Bianca, " Salah lo itu Kenapa harus lahir di dunia ini dan kenapa gue harus dijodohin sama lo," bentaknya. Tangannya menunjuk Bianca


" Ayam Lo beraninya sama cewek Emangnya gue mau tunangan sama lo Dan awal gue udah nolak lo mentah-mentah, tapi lo tetap berusaha mempertahankan itu semua. Gak konsisten,” cibir Bianca


" Lo yang ayam bahkan tai ayam lebih mulia dibanding Lo,"


" Berengsek " maki Bianca Pelan


Gibran mengangguk lalu menatap Bianca


" Lo Cuma manfaatin gue, kan Gue kira lo tulus untuk memperbaiki hubungan kita saat Camping kemarin Ternyata gue salah Lo adalah orang terpicik yang Pernah gue kenal Jelaskan, bagian mana dari diri lo yang membuat lo Pantes berjalan seiring dengan gue,” Suara Gibran mulai berubah menjadi datar. Itu berarti kemarahannya mulai mereda.