My Cold Wife

My Cold Wife
PART 19



saat mendengar perkataan ibu mereka,wajah Jovan dan Zelina seketika memerah.Ami dan Karin yang melihat reaksi sepasang kekasih tersebut tertawa terbahak-bahak


Zelina dan Jovan sangat malu karena kedatangan ibunya yang mendadak.Zelina yang terus ditertawakan ibu mertuanya memilih untuk kembali bersembunyi dibalik selimutnya


*kenapa aku bodoh begini hanya karena perlakuan Jovan. ooh ya tuhan sungguh membuatku malu saja* batin Zelina


Ami dan Karin berhenti tertawa,ia juga merasa tak enak hati jika terus mentertawakan menantunya.


Pagi hari yang cerah,dan suasana ruangan rawat Zelina yang damai,membuat Zelina menyunggingkan senyumnya.


ia bahagia karena bisa melihat ibunya kembali tersenyum


Karena koma dan baru sadar,Zelina merasa lapar.ia sangat menginginkan makanan yang pedas,tapi Jovan melarangnya.


"aku ingin makanan yang pedas" ucap Zelina sambil memperlihatkan wajah sedihnya


"tidak boleh,kau baru saja sadar "larang Jovan


"tapi aku menginginkannya"


"tidak boleh"


"aku mengingnkannya"


Zelina bersikeras ingin memakan makanan pedas,namun Jovan tak mengubrisnya. melihat Jovan hanya diam,ia merengek memintanya pada ibunya


"mom,aku ingin makanan pedas,apapun itu asalkan pedas" pinta Zelina


"ikuti kata suamimu,jangan membantah" ucap Ami


"itu benar sayang kau baru saja sadar,jika kau memakan makanan yang tak sehat begitu,bagagimana kau bisa lekas sembuh" tambah Karin


Zelina menundukkan kepalanya, ia sedih karena tidak dibolehkan memakan makanan yang pedas.Jovan hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang keras kepala


"bagaimana jika kau makan buah saja dulu" ucap Jovan


"baiklah" ucap Zelina


Jovan bergegas untuk pergi membeli buah di supermarket terdekat.kini hanya tinggal Zelina,Ami,dan Karin yang ada diruangan itu.


"sayang,saat berumah tangga,jangan pernah bersikap egois ya,cobalah untuk saling mengerti.jika ada masalah,bicarakan baik-baik.jangan sampai rumah tanggamu hancur ya nak" Ami memberikan nasehat untuk putrinya


"baiklah mom" balas Zelina sambil tersenyum


Zelina menunggu sekitar 30 menit lamanya agar jovan segera datang.


saat Jovan sampai,matanya berbinar karena Jovan tak hanya membawa buah, namun juga membawa 4 kotak tteokbokki


Jovan menaruhnya diatas nakas,ia mencuci dan mengupas buah untuk Zelina.Zelina bingung karena Jovan tak memberikan tteokbokki tersebut.ia mengernyitkan dahinya


"kenapa kau tak memberi tteokbokki itu untukku" protes Zelina


"itu bukan untukmu,namun untukku,dan ibu" ucap Jovan


"lalu mengapa kau memblinya 4"


"dua untukku" Ucap Jovan sambil menyengir


Zelina kesal,ia mengerucutkan bibirnya dan bersedekap.


Kelakuan Jovan membuatnya ingin memukul pria yang berstatus sebagai suaminya.


Jovan tertawa akan tingkah lucu Zelina,ia sangat tak ingin kondisi istrinya itu memburuk.


Ami dan Karin bahagia akan kelakuan Zelina yang sudah mulai membaik


5 hari kemudian


Zelina diperbolehkan untuk pulang,namun Zelina tak diperbolehkan untuk terlalu banyak bergerak.Zelina sekarang duduk di kursi roda karena kondisi kakinya yang cukup parah


karena kasih sayang dari Ami dan karin,serta kehangatan yang diberikan oleh Jovan.membuat hari-hari perawatan zelina terasa menyenangkan


Ami dan Karin telah pulang terlebih dahulu,Jovan mendorong kursi roda Zelina menelusuri koridor yang cukup ramai,para suster yang melihat Jovan langsung terbuai akan ketampanan pria tersebut.


Zelina sedikit kesal karena perawat yang selalu menatap Jovan,dimatanya semua perawat yang berbuat demikian pada suaminya itu sangat-sangat menjijikkan.


"dasar,mata keranjang" gumam Zelina


Jovan yang mendengar Zelina marah tersenyum,baginya itu adalah hal yang sangat ia tunggu-tunggu.sesampainya diparkiran,ia mencari keberadaan pak Anwar,yang dulu supir pribadi Ami berubah menjadi Supir keluarganya.


Saat menemukan sosok yang dicari mata Jovan,Jovan memanggil pak Anwar agar segera membawa mereka pulang. Pak Anwar menghampirinya,beliau mengambil barang-barang yang dibawa Jovan saat berada dirumah sakit tersebut


"baiklah"


Zelina tak membantahnya,ia juga tak ingin memaksakan dirinya untuk berjalan. Jovan tersenyum karena Zelina tak memukulnya saat digendong


mereka berdua masuk kedalam mobil,pak Anwar memasukkan kursi roda Zelina dalam bagasi.dan bergegas untuk membawa Jovan dan Zelina pulang.


Keadaan jalanan kota yang ramai,dan suara klakson mobil yang ada dijalan tersebut,membiat telinga Zelina sakit dan merasa gerah karena udara yang panas


Jovan yang peka,melihat wajah istrinya yang memerah akibat panas,dan keringat yang keluar dari kulit istrinya.


mengambil kipas dan mengibaskannya pada istrinya,Zelina tersenyum kepada Jovan


melihat senyuman Zelina,membuat jantungnya seperti ingin meledak


"terima kasih "ucap Zelina


"sudah tugasku" balas Jovan


Jalanan yang mereka lalui semakin macet, membuat Zelina mengantuk,Jovan berhenti mengibaskan kipasnya pada Zelina,ia memperbaiki posisi duduknya dan meminta istrinya yang mengantuk tersebut untuk tidur.


kantuk yang tak bisa ditahan Zelina,membuatnya tak bisa menolak.ia menyenderkan kepalanya ke dada bidang Jovan dan tertidur.Jovan memeluk Zelina,hangat tubuh Jovan yang begitu nyaman,sangat disukai Zelina.


Pak Anwar tersenyum saat nelihat kemesraan pasangan yang ada dibelakangnya.butuh 2 jam agar sampai di kediaman Zelina.


Jovan tak tega membangunkan istrinya yang masih terlelap dipangkuannya. Ia menggendong Zelina,membawanya kekamar mereka dan merebahkan tubuh Zelina secara perlahan pada ranjang king size mereka ia menyelimuti istrinya itu


karena merasa gerah,Jovan memilih untuk mandi,setelah itu ia pergi menemui ibunya.kini Karin telah tinggal dirumah Zelina.


Jovan ikut bergabung diruang keluarga bersama ibu dan ibu mertuanya.


"emm,ma aku ingin membicarakan sesuatu" ucap Jovan memulai percakapan


"katakanlah nak" ucap Karin,


Ami membalalasnya dengan sebuah anggukan,ia juga penasaran dengan apa yang akan dibicarakan menantunya itu.


"apakah aku boleh pindah rumah ma?" tanya Jovan


"kenapa kau ingin pindah nak?" kini giliran Ami ikut berbicara


"mungkin,dengan kami tinggal berdua dan menghabiskan waktu bersama.akan mempercepat timbulnya rasa cinta dihati Zelina"ucap Jovan meyakinkan kedua wanita tersebut


"jika itu mwnurutmua dalah hal yang bagus,maka aku akan mengijinkannya" ucap Ami


"ya,mama juga setuju nak,mungkin dengan cara seperti ini akan membuat kami cepat mempunyai seorang cucu" ucap Karin sembarangan


Jovan tersenyum malu mendengar ucapan sembarangan ibunya itu.


"ibu ada-ada saja" ucap Jovan


"tidak aku serius" balas karin


"kau benar karin,bagaimanapun itu adalah cara yang cepat agar kita mempunyai cucu" ucap Ami


"baiklah,jika ibu mengijinkannya,aku akan pindah hari dalam 3 hari lagi" ucap Jovan


"secepat itukah,apa kau telah membeli rumah?" tanya ami


"benar,aku telah mempersiapkannya ma"


"dasar anak muda" ucap Karin


Jovan merasa lega karena ibunya mengijinkannya, ia meminta ijin sebelum pergi kekamarnya


"baiklah ma,aku pergi kekamar dulu" ucap Jovan


"silahkan" ucap ami dan karin kompak


Jovan bergegas pergi,saat sedang menaiki tangga,ami berteriak dari ruang keluarga


"berikan kami cucu yang imut" teriak ami


"yang banyak ya nak" tambah Karin


Jovan tak mengubris perkataan dua wanita paruh baya itu,dia memilih untuk tidur bersama Zelina. ia masuk kamar dan menemukan istrinya yang masih terlelap.Jovan menaiki ranjang,Ia merebahkan dirinya disamping Zelina dan memeluknya dari belakang, Jovan meletakkan dagunya dicuruk leher Zelina.


Zelina merasakan tangan kekar berada diatas perutnya,nafas yang beraturan terasa disamping lehernya, detak jantung yang begitu terasa,dan hangatnya tubuh Jovan.Ia merasa nyaman saat dipeluk oleh Jovan.


Selama dirumah sakit,Jovan tak pernah lepas dari sisi Zelina