
Selamat membaca gais ❤
.
.
.
Sampainya kami di kosku kehujanan. Aku tidak mungkin menyuruhnya pulang dalam cuaca hujan. Ku suruh kak Arpan naik ke lantai 2 masuk kamar ku. Untungnya sebelum berangkat tadi aku sempat membersihkan kamar ku ujar ku dalam hati. Malam itu memang tidak ada orang, mereka sedang pulang kampung semua, hanya aku yang ada di kos. Malam itu sangat sepi dan turun hujan sangat deras. Pikirku, kalo tidak ada kak Arpan aku sudah langsung tidur dengan selimutku.
Kami berdua saling diam, tidak lama kak Arpan mendekati. "Kamu kedinginan? Mau alu peluk?" ucap kak Arpan sambil membuka tangannya seakan-akan ingin dipeluk.
"Oh gak makasih kak, gak dingin" kata ku
Kak Arpan tarik tangan ku dan aku dipeluknya. Aku cuma kaget dan diam. Aku terasa nyaman dan aku bersender di pundaknnya. Itu membuat aku lama-lama merasakan kantuk berat tapi hujan belum juga berhenti. Kak Arpan sepertinya sedari tadi melihati handphonenya lalu melihat wajahku lalu handphonenya lagi dan wajah ku lagi seperti itu terus menerus. Kak Arpan berdiri, melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di ganggang pintu kamar kos ku. Tapi ternyata kak arpan menutup pintu saat aku sedang mengambil melihat handphone ku.
"Loh kak kenapa ditutup pintunya?" tanya ku sambil berdiri ingin membuka pintu. Tapi dia dengan cepat memegang pundak ku. Melihat wajahku, langsung aku diciuminya dengan nafasnya yang tidak beraturan. Aku mencoba mendorongnya tapi tidak bisa, kak Arpan maju sampai aku berada di ujung tembok. Aku tidak bisa mundur. Tangan ku dua-duanya ditahan dengan tangannya yang kiri, tangan kanannya lagi meremas pa****ku. Kak Arpan menciumi leher ku sampai rasanya sakit sepertinya kak Arpan menggigit leherku. Yang aku rasakan sekarang takut dan nikmat. Tangan kanan kak Arpan masuk ke dalam baju ku mencoba meremas pa****ku dari balik BH ku.
Aku mengerang seperti orang kenikmatan "emm ahh emm.." Aku seperti kehabisan nafas, aku menutup mataku seperti mimpi tapi bukan ini sangat nyata dan terasa. Kak Arpan mulai memasuki tangannya ke balik BH benar-benar menyentuh pa**** ku dan memainkan pu**** ku sampai aku kegelian. Dibawanya aku duduk berhadapan, kak Arpan melepaskan tanganku dan memindahkan tanganku supaya tanganku berada posisi mengalungkan di lehernya. Dua tangannya benar-benar bermain dan meremas pa**** ku. Aku sengaja membelai leher belakang kak Arpan supaya menghentikan kak Arpan tapi itu tidak bisa malah itu makin menjadi, kak Arpan kegelian dan melampiaskannya dengan meremas kuat pa**** ku.
Aku tidak tau berapa lama kami berciuman sambil kak Arpan meremas dan memainkan pu**** ku yang kak Arpan lama kelamaan mendorong badanku supaya tubuhku rebahan. Kak Arpan mengangkat bajulu sampai ke atas leherku, kak Arpan mulai mencium dan menggigit kecil pu**** ku. Aku makin kegelian seperti cacing kepanasan.
Kak Arpan mulai capek dan berbaring di sebelahku. Nafas kami berdua tidak beratura. "Cup" kak Arpan mencium keningku.
"Maafkan aku, tapi aku sangat suka. Aku tidak akan melebihi batas, aku tidak akan bermain sampai bawah" ucap kak Arpan
Aku hanya terdiam. Aku tidak tau harus mengekspresikan atau berkata tentang apa? Aku tidak tau, ini sangat amat tidak baik tapi nikmat. Aku tidak akan mengulanginya lagi.
.
.
.
Hai hai halooo gais👋❤
Jangan lupa kasih likenya dan komen yahh😘