
Setelah itu, kami jadi sering jalan bareng, makan bareng juga. Pulang ke kos aku diantar sama kak Arpan. Aku naik ke lantai2, saat mau buka pintu tiba-tiba Lidia mengagetkan aku dari belakang.
"Baaa!! Bhahahah" tawa Lidia
"Lid, bangke ih. Kaget tau njir. Hampir jantungan aku" ucapku
"Ciee jalan terus nih yee. Udah ditembak belum? Pajak jadiannya dong uhuy hahha" ujar Lidia yang sedang mengejekku.
"Apa sih Lid? Kami lo cuma sharing-sharing aja" ujar ku lagi
"Waktu kita rapat semalam, waktu kamu lagi menjelaskan kak Arpan senyum-senyum gitu liatin kamu ta. Kayanya suka deh makanya dia ngajak jalan terus" ucap Lidia
"Ih gak boleh gitu. Mungkin memang aku ini memang manis makanya kalo orang liatin aku bawaannya pengen senyum terus wkwk" aku ketawa
Setelah mandi, aku tiduran dan memikirkan apa kata Lidia. Aku merasa dia selalu senyum dan bersikap baik denganku. Selalu membantuku kalo aku ada kesusahan tentang komunitas kami ataupun tentang pelajaran dikuliah ku meskipun kami beda jurusan.
Aku sekarang seperti lebih mengenalnya. Dia lebih tua satu tahun denganku. Nilai kuliahnya lumayan tinggi daripada aku wkwk. Dia penerima beasiswa dan berhasil mempertahankan beasiswanya sampai sekarang. Dia sangat pintar dalam pelajaran hitungan, sedangkan aku sangat bodoh. Mantan pacar terakhirnya cantik, badannya berisi, putih tapi sayangnya mereka beda kampus dan beda kota, itu sebabnya hubungan mereka pun kandas.
Pernah waktu mengerjakan tugas kuliah statistika, aku gak bisa. Jadi aku ketemuan dengan dia untuk minta tolong mengajarkan tugas statistika ku.
"Kak, aku gak bisa nih yang ini. Aku bodoh dihitungan gimana?" ucapku yang banyak mengeluh dari tadi gara-gara gak bisa jawab.
"Iya ini coba liat aku ngajarin sabar sabar pasti bisa jangan nangis lah dek" ucap kak Arpan dengan mengelus elus kepalaku sambil tertawa kecil
Setelah selesai mengerjakan tugas sampai larut malam sekitar jam setengah 12 malam, kami pulang ke kos. Jalanan begitu sepi kendaraan. Cuma ada gerobak kecil yang menjual nasi goreng dan minimarket yang masih buka. Sampai sudah di depan kos. Aku bilang makasih ke kak Arpan sambil senyum.
"Makasih ya kak udah bantuin ngerjakan tugas" ucapku sambil senyum
"Iya sama-sama Tata"
"Iya mau ngomong apa kak?" tanya ku penasaran
Kak Arpan perlahan meraih tanganku dan menggenggam.
"Kamu mau gak pacaran denganku?" tanya kak Arpan dengan penuh harap
"Emm.. Gimana ya kak, aku belum tau perasaan aku sekarang gimana ke kak Arpan" jawab ku dengan ragu-ragu
"Aku harap kamu menerima aku. Aku bakal jadi pacar yang pengertian, yang gak cemburuan seperti yang kamu bilang. Aku akan baik ke kamu" penuh harap dari kak Arpan
Aku bingung dan aku gak tau harus jawab apa??
Jadi dia menggenggam tanganku dengan erat, seolah-olah dia sangat berharap aku menerimanya jadi pacarku.
"Oke dah, aku mau" jawabku
"Yesss okee" dia senang dan memelukku
Aku kaget dan cuma diam tidak membalas pelukannya.
"Oke sayang, masuk kamar sana. Selamat tidur dan selamat malam. Hari ini hari pertama kita jadian" ujarnya dengan muka yang senang
Aku cuma membalas senyuman. Sampai kamar entah kenapa dadaku berdegup kencang seperti aku menyukai kak Arpan. Aku langsung ganti baju dan tidur.
Besok pagi aku ke kampus. Berpapasan dengannya membuatku gugup. Dia sempat menyapa dan aku hanya membalas senyum karena aku sedang dengan teman-temanku. Aku tidak mau mereka tau kalo aki punya pacar. Sekarang yang tau hanya Lidia dan Rizka.