My Beloved DADDY

My Beloved DADDY
kenyataannya



"setelah kepergian mu, berlina menjadi gadis pendiam, tdk ada tawa sama sekali pada wajahnya. Meskipun begitu dia tetap melanjutkan hidupnya dan hanya fokus menyelesaikan kuliahnya hingga Lulus menjadi mahasiswa terbaik." Lirih marcell menahan sesak ketika harus mengingat bagaimana berlina berusaha menerima keadaannya.


Orang tua bercerai dan hidup sendiri meskipun pernah tinggal dengan auntynya tapi itu tdk lama karna auntynya juga sudah berkeluarga dan meski tau orang tuanya selama ini mencarinya tapi berlina selalu berpikir bahwa hidupnya yang dulu tenang dan bahagia disaat mereka masih menjadi keluarga harmonis tidak akan pernah kembali sama disaat orang tua tidak lagi bersama disatu atap.. daripada bersama kedua orang tuanya dalam status berbeda..berlina lebih memilih hidup sendiri karna tidak ingin mengingat moment bahagianya dulu yang akan membuatnya sedih.


Divon yang mendengarkan seketika matanya berkaca-kaca pikirannya menerawang jauh tentang perlakuannya saat terakhir mereka bertemu.


Bukankah harusnya dia bahagia?


Apalagi dia sudah bersama dengan Marcell, seorang pria yang digilai semua wanita. Kenapa hanya karna dirinya, gadis itu berubah?


Bukan kh hubungan mereka hanya sahabat?


"Dan saat tau kau pulang kembali, dia sangat bahagia, bahkan disepanjang perjalanan senyumannya tidak pernah luntur sedikitpun." Marcell menjeda ucapannya, menetralkan rasa sesaknya untuk menyelesaikan kata-katanya yang akan membuat divon semakin menyesal. " Saat tiba di rumahmu dan melihatmu berada disana, senyumannya semakin merekah tapi kemudian..kemudian kau mematahkan senyumannya itu." Geram marcell menatap tajam divon ."Hingga dia mengakhiri semuanya..SEMUANYA! Teriak Marcell dan menekan kata terakhirnya.


"Kau bohong! Kau pikir aku tidak tau, kau menjalin kasih dengan berli-


"Hentikan kesalahpahaman mu divon." Teriak Marcell lagi memotong ucapan divon. Marcell sangat geram dengannya, divon tidak pernah berubah. Dia selalu mengambil kesimpulan sendiri tanpa tau yang sebenarnya.


"Kesalahpahaman seperti apa hah! Sebelum berlina bunuh diri..dia sempat melihatmu bersama wanita lain, aku melihatnya dia pergi dengan menangis." Divon tak kalah berteriak dihadapan Marcell.


Terdengar kekehen kecil dari mulut marcell. Divon bener-bener bodoh...jelas saja bodoh, marcell sangat ingat betul apa yang sebenarnya terjadi di taman saat itu. Kejadian itu tidak akan bisa dia lupakan.


Ya, setelah pemakaman papa divon...berlina berniat untuk pergi menenangkan dirinya dan Marcell yang mengetahui itu lantas mengajukan diri untuk menemani dan tentu saja berlina mengizinkan karna dia ingin menumpahkan kesedihannya, membiarkan orang lain mendengarkannya meski tdk bisa menghilangkan rasa sakitnya tapi setidaknya ada orang yang bisa menyemangatinya, dia ingin ada orang yang bisa menenangkannya, dia takut akan melakukan hal diluar batas maka dari itu dia mengizinkan marcell menemaninya.


Ditaman lah tempat berlina menenangkan diri ditemani dengan sahabatnya, siapa lagi kalau bukan marcell. Awalnya dia sudah keliatan baik-baik saja sebelum disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati, berlina bisa melihat divon bersama kekasihnya sedang berciuman didekat pintu masuk taman. Tidak ingin tambah sakit hati, berlina memutuskan untuk pergi, Marcell yang ingin mengejarnya panggilan seseorang menghentikan langkahnya. Ternyata bersamaan dengan suara seseorang, divon tak sengaja melihat berlina berlari kearahnya..bukan, lebih tepatnya kearah pintu masuk sambil mengusap air matanya dan divon juga melihat Marcell bersama dengan seorang wanita.


Lantas divon segera mengejar berlina, awalnya dia ingin memberikan bogeman untuk Marcell, tapi mengingat berlina dalam keadaan tidak baik" saja, dia mengurungkan niatnya, gadis itu lebih penting..divon tidak ingin sesuatu terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada berlina. Sedangkan Marcell yang sudah tau siapa yang memanggilnya hanya menyapa sebentar lalu pergi menyusul divon mengejar berlina. Pencarian mereka tidak ada hasilnya hingga keesokan harinya mereka mendapatkan kabar bahwa seorang gadis telah meninggal dengan ciri-ciri yang sangat mereka berdua kenal. Dan benar saja gadis itu adalah berlina..mayatnya didapat mengapung disungai.


Pada saat itu divon dan Marcell meyakini bahwa berlina pergi dengan cara bunuh diri..alasannya karna terkahir mereka melihat berlina dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.


Dan setelah kejadian itu, divon bertekad akan membalaskan rasa sakit hati berlina dan juga rasa sakitnya kehilangan seseorang yang dicintainya pada Marcell.


"Heh! kau benar-benar bodoh. Bukankah kau saat itu juga berada disana." Ucap divon dengan wajah datarnya. "Ingat, apa yang kau lakukan dengan kekasihmu saat itu."


Divon yang mendengarkan ucapan marcell lantas kembali mengingat apa saja yang dia lakukan saat itu..awalnya dia terkejut dengan apa yang telah dia ingat tapi keterkejutannya itu hanya sementara.


Mungkinkah berlina melihatnya dan yang membuatnya menangis? Tapi kenapa?


"Bukankah wajar kalau sepasang kekasih berciuman?" Ucap divon dengan santai saat sudah mengingatnya.


Divon terkejut


Siapa yang sakit hati? Berlina? Tdk mungkin!


"Ya, berlina..kau alasan kenapa berlina menangis. Kau alasan kenapa berlina mengakhiri hidupnyaaa." Teriak Marcell dan tentu saja divon lagi-lagi terkejut bahkan sangat terkejut.


Benarkah berlina sakit hati?


Apakah berlina menyukainya tapi sebagai apa? Sahabat atau sebagai seorang pria yang dicintai?


"Kau tau, luka dihatinya yang kau berikan karna meninggalkannya belum sembuh, lalu luka baru datang dengan pengakuanmu yang memiliki kekasih malah membuat lukanya tambah lebar" marcell menjeda ucapannya, dia bener-bener tidak sanggup untuk meneruskannya. Tapi dia harus bisa untuk membalas rasa sakit berlina pada orang yang ada didepannya. " Dia pergi karna tidak bisa lagi menampung semuanya, dia sendiri...tdk ada orang tua, meskipun ada aku yang selalu disampingnya tapi aku tau dia selalu kesepian..dia kehilangan cinta dan kasih sayang dari orang tua dan juga darimu..ya aku tau kau tdk tau kalau berlina juga mencintaimu tapi bisakah kau melihatnya bagaimana cara dia memperlakukanmu bukan sebagai sahabatnya hmmm." Aku" tunjuk Marcell pada dirinya sendiri. " Aku saja bisa melihatnya knp kau yang lebih dekat dan mengenalnya bertahun-tahun darinya tdk bisa HAH!." Teriak Marcell


Semua pengakuan Marcell bener-bener membuat divon sangat terkejut bahkan untuk bernafas pun sangat susah untuknya.


Benarkah berlina juga mencintainya?


Benarkah selama ini dia hanya salah paham?


Dan perkataan Marcell lagi membuatnya dirunduh rasa bersalah yang sangat membuat dadanya sesak.


"Aku sudah mengatakan padamu saat itu bukan, bahwa kau saat itu salah paham, aku menyuruhmu untuk mendengarkan kata-kata ku sampai akhir tapi saat itu sepertinya kau memang tidak membutuhkannya. Rasa cemburumu membuatmu salah paham dan ya, welcome PENYESALAN." ucap marcell dengan menekan kata terakhirnya lalu mengambil sesuatu dalam saku jasnya yang memang sengaja dibawa karena tau siapa yang akan dia temui lalu melemparkan ke wajah divon sebelum pergi Marcell mengatakan sesuatu yang mungkin saja divon tdk mempercayai dengan benda yang dibuang kewajah divon.


"Terserah kau mau percaya apa tidak, tapi aku tau kau lebih tau semua tentang berlina." Setelah mengatakan itu, Marcell dan Mark meninggalkan divon dan para anak buahnya langsung membuka ikatan kaki dan tangan divon setelah Marcell memberikan kode pada mereka.


Kenapa Marcell tidak membunuh divon?


Karena Marcell merasa membunuh mantan sahabatnya pun tidak akan mengembalikan berlina dan seseorang yang sudah dijadikan divon sebagai balas dendam kepadanya.. dan menurutnya penyesalan adalah hukuman terberat baginya karena penyesalan akan terbawa selama orang itu hidup dan membuat hidupnya tidak akan pernah tenang.


Marcell memang seorang mafia, dengan kekuasaannya dia bisa saja membunuh setiap orang yang mencari perkara dengannya tapi sejauh ini Marcell tidak pernah melakukannya. Ya, selama Marcell menjadi mafia, tidak satupun nyawa melayang ditangannya. Ada beberapa pertimbangan yang Marcell pikirkan sebelum menghilangkan nyawa seseorang salah satunya Marcell tidak ingin seorang anak dan istri kehilangan tulang punggung keluaga meski orang itu sudah berbuat fatal padanya tapi orang itu tetap akan diberikan hukuman yang akan membuatnya menyesal dan tidak berani lagi mengulangi kesalahan yang sama.


..."Kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru."...


...🌼🌼🌼...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.


Like , comment, vote n gift biar aku tambah semangat updatenya πŸ€— 😘