My Beloved DADDY

My Beloved DADDY
Divon dan berlina



Melihat wajah kesel divon, berlina mendekati divon dan langsung memeluknya dengan erat.


"Aku merindukanmu".lirihnya, divon yang mendengarnya sangat bahagia lalu membalas pelukan berlina tidak kalah eratnya.


Berlina melepaskan pelukannya karna sadar bahwa mereka menjadi tontonan. Lalu menarik tangan divon untuk pergi dari kantin itu menuju taman.


Mereka yang ada disitu hanya melongo saja melihat berlina dan divon pergi entah kemana. Yang ada dipikirannya saat ini ada hubungan apa diantara mereka.


Saat ini mereka sudah berada ditaman, Duduk saling berdampingan.


Sudah 3 menit semenjak mereka duduk tapi tdk ada yang memulai obrolan.


"Kamu".ucapnya barengan seketika mereka tertawa bersama.


Suasananya memang sedikit canggung, maklumlah mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama.


"Kamu aja duluan von". Berlina mempersilahkan divon untuk berbicara karna dirinya tau pasti divon penasaran kemana dirinya selama ini.


"Hmm, sepertinya kamu tau apa yang akan aku tanyakan" .ucap divon membuat berlina terkekeh


"Ternyata kamu tdk berubah ya tetap peka".ucap berlina dengan senyum manisnya dan divon yang melihatnya juga ikut tersenyum. Sudah lama dirinya tidak melihat lebih dekat senyum indah itu. "Eh kamu berubah".ucapnya seketika melihat tubuh divon dari bawa keatas.


Divon yang sdh tau maksud Berlina pun , menyentil pelan kening berlina, bukannya marah Berlina malah tertawa.


"Kamu tidak pernah berubah ya, selalu mengejek ku". Dengus divon sedikit kesel, apalagi bibirnya sdh monyong 5 centi.


ya, divon dulunya adalah anak kecil yang gendut dan berkaca mata bahkan sampe usianya remaja


"Hahaha, mukamu lucu". Berlina malah semakin ketawa melihat wajah divon, divon sekarang masih sama seperti dulu kalo sedang kesel.


Walopun Divon kesel sama berlina, tapi dia juga merasa senang bisa bertemu lagi dengan berlina , apalagi saat ini mereka sedang bercanda dan tertawa bersama mengingatkannya saat mereka kecil.


"Sudah lah, kalo kamu ketawa terus bisa disangka kamu gila sama orang yang berlalu-lalang disini". Divon balik meledek berlina dan sukses membuatnya menghentikan tawanya lalu menatap tajam divon.


Divon yang melihatnya hanya menahan senyumnya, bukannya terlihat menakutkan malah terlihat menggemaskan.


"Ishh masa cantik-cantik begini dibilang orang gila". Ucapnya yang tidak terima


" Iya iya kamu cantik bahkan sangat cantik". Ucap divon mengalah. Berlina yang mendengarnya pun langsung tersenyum manis.


Untuk sementara hanya ada keheningan diantara mereka dengan pikiran masing-masing


"Kamu selama ini kemana? Kenapa pergi gk memberitahu aku? nomor kamu juga knp gk aktif". Tanyanya beruntun. " Bahkan orang tuamu tdk tau kamu pergi". Sambungnya lagi.


Ya, sampe sekarang kedua orang tua berlina tdk tau anaknya pergi kemana, bahkan bibi..saudara dari mama berlina tdk bisa menghubungi adiknya. Mereka merasa emang keduanya sengaja tdk memberitahukan keberadaan mereka.


Mendengar pertanyaan beruntun divon, membuatnya sadar bahwa selama ini dirinya membuat divon sangat merindukannya apalagi saat divon memeluknya sangat erat tadi. Berlina merasa bersalah sekali.


Berlina menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menatap wajah divon dengan lekat.


Aunty berlina berprofesi sebagai chef pastry. Dan untuk kedua orang tua nya, berlina tau kalo selama ini mereka mencari berlina, informasi itu dia dapatkan dari maid yang ada dirumahnya dan sampe tahun ke dua dirinya pergi, berlina tdk pernah lagi mendapatkan informasi dari maidnya karna maid itu sdh keluar dari rumahnya karna sdh menikah dan akan fokus untuk rumah tangganya saja.


"Mengenai aku tidak menghubungimu, aku memang sengaj-


"Why". Divon memotong perkataan berlina


"A-aku hanya tdk ingin membebanimu dengan masalahku" lirinya


Divon mengusap wajahnya kasar setelah mendengar jawaban berlina lalu mengenggam dua" tangan berlina.


"Dengar! Aku tidak pernah merasa kamu membebani ku". Tegasnya. "Justru kepergian mu membuatku terbebani". Ucap divon dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf". Divon meletakkan jari telunjuknya dibibir gadis cantik didepannya.


"Kamu gk perlu minta maaf , aku tau niatmu baik..aku hanya kecewa saja pd diriku yang tidak bisa membuatmu bahagia. Mendengar ucapan divon, membuatnya semakin bersalah.


Berlina melepaskan genggaman tangan divon dari tangannya lalu memeluk erat divon lagi.


"Maaf..maaf sekali lagi maaf..hiks". Divon membalas pelukan berlina.


"Sudah, jangan meminta maaf terus".ucap divon sambil mengelus punggung berlina.


Divon melepaskan pelukannya lalu menatap lekat wajah cantik walau matanya sedikit sembab karna menangis.


"Semua akan baik-baik saja".ucapnya sambil mengelus kepala berlina dengan lembut. Berlina hanya mengangguk.


"Von..orang tuamu apa kabar?". Setelah dirinya merasa tenang, berlina teringat dengan uncle auntynya yang sangat dia sayangi.


"Mereka baik-baik saja".


"Syukurlah".


Disaat mereka asik melepas rindu, tiba-tiba ada seseorang memanggil namanya


"Divon".


...🌼🌼🌼...


jangan lupa, tekan favorite biar masuk notif cinta dari aku😘


vote, like, comment n gift biar aku semangat up-nya🤗


salam sayang


fani