
Mereka berdua sudah berada dalam mobil lebih tepatnya mobil Marcell...ya Marcell dan berlina memang pergi bersama keperusahaan divon. Di dalam mobil sempat terjadi keheningan, dimana Marcell yang sejak tadi diam dan merutuki kebodohannya dan berlina yang setelah menahan agar dirinya tidak menangis pun seketika runtuh..hatinya begitu sakit saat melihat divon pergi begitu saja, dia tau bahwa divon kecewa akan sifatnya tapi respon divon menurutnya sangat berlebihan.
"Apa kau menyukai divon?" Tanya Marcell tiba-tiba saat berlina sudah meredahkan tangisannya meski terdengar sesekali sesegukan.
Berlina yang ditanya seperti itupun hanya diam. Dan diamnya itu, semakin membenarkan dugaan Marcell bahwa berlina memang menyukai divon.
" Kenapa kau tidak mengatakannya." Marcell menjeda sebentar ingin melihat respon berlina tapi tetap saja gadis itu hanya diam. "Bisa saja divon juga menyukaimu selain sebagai sahabat." Sambungnya. Marcell memang sengaja tidak mengatakan secara langsung bahwa divon memang mencintai berlina. Karna Marcell ingin, berlina melihat sendiri bahwa divon sangat mencintainya.
"A-aku..."
"Kau harusnya tau gmn karakter divon, dia tidak akan memulai jika tidak dipancing."
Begitulah divon, ambil contohnya aja seperti tadi dicafe..baru saja Marcell mengatakan seberapa dekat divon dan Rara sudah keliatan marah meski Marcell tidak menduga reaksi divon akan seperti itu.
"Yakinkan dia bahwa perlakuan mu padanya sebagai lawan jenis bukan sebagai sahabat maka kau akan melihat apakah divon juga merasakan apa yang kau rasakan untuknya atau tidak karna laki-laki juga butuh kepastian bukan hanya perempuan saja" ujar Marcell
Walaupun marcell tdk punya pengalaman sama sekali dengan kisah asmara bahkan merasakan jatuh cinta pun tidak pernah tapi dia tau seperti apa kelakuan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Ya divon tau ciri-ciri jatuh cinta seperti apa, seperti apa yang dikatakan dan dilihat dari orang tuanya dan juga divon dari merekalah divon bisa mengetahui bagaimana sikap seseorang yang sedang jatuh cinta,
Mungkin bagi beberapa orang yang susah bahkan belum merasakan jatuh cinta akan mencoba-coba untuk memulainya dengan dekat dengan lawan jenis agar perasaan itu bisa tumbuh. Tapi marcell tetaplah marcell yang cuek..baginya urusan asmara tidak penting dan hanya akan membuatnya membuang-buang waktu berharganya.
Cukup buku saja yang menjadi teman kencannya, pikir marcell.
Tapi dirinya tidak akan cuek untuk urusan asmara sahabatnya. Saat dirinya tau kalo Sabrina juga menyukai divon lebih dari kata sahabat, marcell bertekad untuk mempersatukan mereka jika divon sampe sekarang tidak bertindak tapi untuk sekarang biarlah perkataannya mewakili niat baik untuk hubungan asmara mereka berdua.
Marcell juga sangat kesal dengan sifat divon yang tdk gentleman sekali dalam asmaranya. Sudah tau menyukai seseorang tapi prakteknya nol besar..ck, diambil orang, tau rasa dia. gerutu Marcell.
"Aku akan mencobanya." Ucap berlina pd akhirnya setelah memikirkan perkataan marcell, menurutnya tidak masalah untuk mencoba.
Marcell tersenyum mendengarnya lalu mengangkat satu tangannya ke kepala gadis dihadapannya dan mengelus lembut kepala berlina dengan sayang. Marcell sudah menganggap berlina sebagai adiknya karna Marcell yang memang anak tunggal.
"Sekarang tersenyumlah, kamu jelek loh kalau nangis." Ledek Marcell bermaksud menghibur gadis dihadapannya yang dibalas dengan ledikan tajam berlina lalu setelahnya mereka tertawa bersama-sama.
Mereka gak tau aja bahwa kelakuan mereka sejak tadi diperhatikan oleh sepasang mata yang sudah menatap mereka dengan tajam..hatinya terbakar cemburu bahkan tangannya terkepal sangat kuat Dan orang itu adalah divon yang sejak tadi berdiri diruang parkiran khusus petinggi perusahaan, niat hati ingin melihat keadaan berlina setelah dia pergi begitu saja meninggalkan sahabatnya malah disuguhkan dengan pemandangan menyayat hati.
divon memang keluar duluan dari cafe tapi setelah masuk keperusahaanya, Divon tdk langsung masuk keruangannya tapi berbelok ke parkiran dimana mobil marcell berada sedangkan Rara setelah keluar dari cafe, Rara izin pamit untuk menemui boss besarnya yang tak lain adalah papa divon yang memang sejak dicafe Rara menerima telpon dari tuan besarnya. Saat sampai dibassment, divon dapat melihat dari kejauhan berlina yang sedang menangis dimana membuat divon dirunduh perasaan bersalah bahkan hatinya seperti teriris puluhan pisau didadanya tapi perasaan bersalahnya tidak bertahan lama karena setelah itu dia dapat melihat tatapan bahagia dari berlina yang diperlihatkannya pada Marcell.
Divon tidak terima! Senyuman dan tawa berlina hanya boleh diperlihatkan untuknya
Divon tdk terima itu, harusnya dirinya berada disitu untuk membuat berlina kembali ceria..tapi apa!
Dengan perasaan marah, cemburu dan kesalnya divon berbalik menuju ruangannya.
Arrrghhhhhh..teriaknya marah bahkan semua yang ada di mejanya dijatuhkan.
Karyawan yang memang menyaksikan tuan mudanya dari jauh sejak masuk keperusahaan dengan wajah memerah menahan amarah langsung menunduk dan saat berada diruangannya pun, mereka bisa mendengar pintu yang dibuka secara keras dan begitupun dengan menutup pintu dengan cara dibanting dan mendengar barang-barang yang terjatuh.
Mereka pun mulai bertanya-tanya
Ada apa dengan tuan mudanya?
Bukan kah meeting tadi berjalan lancar?
*****
Seminggu kemudian
Setelah kejadian itu, mereka bertemu kembali bukan Karna pertemuan temu kangen sebagai sahabat tapi karna pekerjaan yang tak lain adalah proyek kerja sama mereka yang sudah berjalan.
Ada rasa canggung yang mereka rasakan dalam pertemuan kali ini, mereka bak orang yang sama sekali baru bertemu. Dan itu tambah membuat berlina merasa bersedih tapi mengingat usulan marcell saat itu, dia pun mulai mencoba.
"Divon." Panggil berlina setelah mereka selesai mengadakan meeting yang saat ini ruangan hanya ada dirinya juga divon dan Marcell.
Lalu Rara kemana?
Rara juga segera ikut keluar dari ruangan meeting karna Rara cukup tau situasinya seperti apa.
Divon yang dipanggil hanya melihat berlina dengan muka yang sangat datar. Berlina menyadari itu tapi berlina tdk akan menyerah.
Untuk sesaat hanya dua pasang mata yang berbicara, seolah mereka mengatakan aku sangat merindukanmu. hingga perkataan dingin divon memecahkan keheningan itu.
"Jika tidak ada yang ingin anda katakan, saya pamit keluar karna saya harus segera pergi." Ucap divon sambi melihat jam tangannya bahkan setelah mengatakan itu, divon sama sekali tak melihat lawan bicaranya
Jedarrrr
Bahkan perkataan divonpun berubah, tdk ada lagi kata aku kamu, divon saat ini bersikap formal padanya. Mata berlina mulai meneteskan air , dia memegang dadanya yang berdenyut nyeri.
Apakah perbuatannya saat itu sangat melukai divon.
Berlina bener-bener tidak sengaja melakukannya.
Bahkan marcell yang hanya menyimak pun kaget akan sikap divon bukan hanya bahasa formalnya tapi kata pergi . Ya, marcell cukup tau maksud kata terakhir divon ,apalagi Marcell memperhatikan divon sejak tadi sesekali divon melihat jamnya.
Marcell merasakan perasaan buruk, ada apa ini. Batinnya
"Divon! Apa-apaan kau ini, hah!." Sentak Marcell dengan marah. Berlina yang mendengarkan suara keras Marcell, langsung kaget. Dan tak kalah kagetnya divon saat berbalik matanya langsung melihat kearah berlina yang sedang menangis.
Seketika divon terdiam kaku, dia sebenarnya tidak tega tapi dia harus bersikap egois..dirinya juga terluka. Dan saat kesadarannya mulai kembali Marcell mendekat kearahnya dan langsung menarik kerah kemejanya.
"Kenapa kau melakukan semua ini, divon."geram marcell semakin menarik kuat kerah baju divon bahkan divon bisa merasakan napas Marcell.
" Apa perkataanku seminggu lalu ada yang menyinggung mu?." Meski Marcell tau tapi semuanya telah terjadi, dan diivon hanya diam saja
Marcell yang melihat keterdiaman divon pun kembali berbicara.
"Apa karna respon berlina saat itu padamu? JAWAB!."bentak Marcell
Divon yang dibentak pun tidak terima, divon juga menarik kerah baju Marcell tdk kalah eratnya
"Kau- kau harusnya tau semua itu." Lalu divon melepaskan tangannya dari kerah baju Marcell dan mendorong kuat Marcell sehingga tangan Marcell yang sedari tadi memegang erat kerah bajunya terlepas.
Marcell yang didorong pun terhuyung hampir jatuh kelantai kalau tidak ada berlina yang menahannya bahkan seperti memeluk Marcell.
Lagi dan lagi divon yang melihatnya,.karna marah dan cemburu menguasainya menyalah artikan tindakan berlina pada Marcell.
Lalu setelah itu divon keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu dengan keras..dan membuat kedua orang yang masih ada di ruangan itu sangat terkejut
"Marcell tunggulah disini, aku akan mengejar divon." Setelah mengatakan itu, berlina langsung berlari mengejar divon yang sudah masuk dalam lift..berlina terlambat dan mulai berlari menuruni tangga ke lantai dasar dimana divon menekan lift menuju lantai dasar padahal ruangannya berada dilantai 8 sedangkan ruangan meeting berada dilantai 5.
Saat tiba lobi kantor, berlina terus memanggil divon tapi divon malah mengabaikannya. Tidak ingin semakin jauh dari langkah divon yang juga berjalan cepat, sekuat tenaga berina berlari bahkan dia mengabaikan rasa sakit dikakinya karna berlari dengan menggunakan high heels.
"Divon, jangan seperti ini."lirih berlina saat sudah berada didekat divon bahkan langsung memeluk erat divon yang sudah akan membuka pintu mobil yang sudah menunggunya.
Berlina tdk peduli tatapan orang-orang yang melihatnya, biarlah mereka mau menganggapnya seperti apa..dia hanya tidak ingin divon marah padanya.
Divon tersentak kaget mendapatkan pelukan tiba-tiba dari berlina, dirinya yang sudah akan masuk kedalam mobil dibuat terkejut dengan tindakan gadis yang masih sampe sekarang menempati tata tertinggi dihatinya tapi karna tidak ingin terluka terlalu dalam , dia terpaksa memperlakukan gadis yang masih memeluknya dengan cara egois. Dia harus bener-bener ikhlas melepaskan berlina untuk sahabatnya dan saat hatinya sudah tenang dan menerima semuanya, dia akan memulai kembali untuk dekat dengan mereka.
Picik sekali kau divon.
Ya, divon sudah bertekad untuk menjauh dari divon dan berlina untuk sementara. Dan meeting tadi adalah untuk terakhir kalinya dia terlibat dalam proyek tersebut dan pertemuan terakhirnya dengan kedua sahabatnya sebelum benar-benar pergi menjauh. Hanya rara lah yang tau rencananya, divon bahkan menyerahkan semuanya ke Rara untuk meneruskan proyek yang sedang berlangsung. Divon percayakan tanggung jawabnya kepada Rara.
Divon berusaha melepaskan tangan Rara pada tubuhnya saat matanya tak sengaja melihat Marcell yang berjalan kearahnya . Marcell semakin dekat dengannya dan dengan sekali hentakan kedua tangan berlina terlepas, untuk sementara divon memandang berlina dengan tatapan sedih..sekali lagi dia memperlakukan berlina dengan kasar.
Dia juga merasakan sakit bahkan sangat sakit ketika dia harus bersikap kasar sekali lagi pada gadis yang sangat dicintainya. Tapi dia bisa apa? Hatinya juga selalu sakit melihat berlina dan Marcell.
"Von, dengar kan aku..aku tau apa yang kamu pikirkan tapi percayalah semua tidak seperti yang ada dipikiranmu. Aku minta maaf jika aku bener-bener menyinggungmu kemarin dan aku ingin mengatakan kepadamu bahwa ber-
"Sudahlah ,aku cukup tau dengan apa yang kuliat." Sela divon cepat memotong perkataan Marcell dia cukup bersabar mendengarkan penjelasan Marcell tapi itu hanya akan membuang waktunya saja, lalu segera masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.
" Suatu saat kau akan menyesal divon." Teriak Marcell saat mobil itu mulai berjalan. "Berlina sangat mencintaimu." Teriak Marcell lagi.
Berlina tidak henti-hentinya berhenti menangis bahkan membuat divon untuk tidak pergi pun dia tidak sanggup. Sedangkan Marcell juga sama, memandang sedih kearah berlina.
Sedangkan divon, dirinya masih mengingat perkataan Marcell bahwa dirinya suatu saat akan menyesal. Seketika dirinya dilanda keraguan.
Apakah dirinya salah paham? Tdk! Itu tidak mungkin. Divon sangat yakin dengan apa yang dilihat dan itu membuktikan bahwa dugaannya benar.
Sayang sekali Divon tidak mendengar perkataan Marcell yang terakhir...bersamaan Marcell selesai mengatakan kata menyesal, divon mengalihkan fokusnya pada hpnya yang berdering..telpon dari Rara bahwa pesawat pribadinya telah tiba.
"bahkan divon pergi dengan membawa kesalahpahaman antara diriku dan berlina." Lirih marcell
Yeah, Marcell tau kalau divon akan pergi jauh untuk cukup lama ,dia mengetahuinya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Rara dan seseorang ditelpon tapi kemana divon pergi marcell tidak tau..dia tidak sempat menanyakan pada Rara karna ingin menghentikan divon agar tidak jadi pergi tapi ternyata divon tetap pada keputusannya tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih detail.
Sedangkan berlina hanya tau, kalau divon marah dan kecewa karna perlakuannya terhadap divon saat itu padahal berlina tidak tau saja kalau ada yang lebih membuat divon marah.
Dan benar saja untuk pertemuan mereka selanjutnya hanya divon lah yang tidak hadir dan saat itu juga berlina mengetahui fakta bahwa divon tidak lagi terlibat langsung dengan proyeknya ini dan tidak lagi memegang perusahaan papanya. Padahal berlina sudah berencana untuk menyatakan perasaanya pada divon, berlina juga sudah mengetahui dari Marcell bahwa divon juga mencintainya..berlina yang mengetahui hal penting itupun seketika marah pada Marcell. Berlina mulai mendiami Marcell selama seminggu dan selama itu juga Marcell selalu berusaha menemui berlina untuk meminta maaf , tak tega melihat Marcell yang selalu meminta maaf padanya berlina pun memaafkannya, berlina sadar bahwa Marcell tdk salah sepenuhnya hanya saja divon yang memang sudah tak ingin lagi mendengarkan Marcell pada pertemuan terakhir mereka saat itu belum lagi sifat pengecut divon, yang menjadi pertanyaan,...knp divon tidak mengatakan perasaannya padanya. Pikir berlina
Rara juga hanya sebagai bawahan dan diberikan kepercayaan tdk bisa memberikan informasi kepada orang lain meski itu untuk orang terdekat bosnya sendiri. Berlina dan Marcell memaklumi itu.
Setelah mengetahui fakta itu, Berlina menjadi orang berbeda, tdk ada lagi berlina yang cerewet dan ceria bahkan marcell yang biasanya mampu membuat berlina kembali ceria sudah tidak mampan lagi untuk berlina.
Marcell tidak dapat lagi menghubungi nomor divon karna divon sudah memblokirnya. Bahkan perusahaan papanya sudah diambil ahli oleh assistant tuan Alexander. Keberadaan divon juga tidak diketahui oleh keluarganya. Marcell juga harus terpaksa berbohong bahwa dirinya tidak mengetahui alasan divon pergi saat papa divon menanyakan kenapa divon tiba-tiba keluar dari perusahaan. Marcell hanya tidak ingin masalah asmara diketahui tuan Alexander yang menyebabkan divon pergi, baginya itu adalah hal memalukan untuk urusan pekerjaan.
Satu tahun berlalu, berlina juga sudah menyelesaikan studinya dan langsung dijadikan sekretaris tetap oleh Marcell..dan sekretaris lama Marcell diangkat menjadi personal assistant karena Marcell juga sekarang sudah sepenuhnya memegang kendali perusahaan Agra group.
Berlina sudah mulai berdamai dengan hatinya, meski perasaannya semakin kuat setelah divon pergi, dia sudah mengikhlaskan kepergian divon tapi dia tetap berharap bertemu kembali dengan divon dan mengatakan semuanya yang selama ini dia pendam rasa cinta dan kerinduan ..dan benar saja mereka dipertemukan kembali tapi dalam suasana berduka. Ya , tuan Alexander yang tak lain adalah papa divon telah meninggal dunia. Ada rasa sedih dan bahagia yang dirasakan berlina. Bahagia karna bisa melihat lagi teman sahabat dan pria yang dicintainya dan sedih karna divon yang seperti tidak menganggapnya ada bahkan sudah mempunyai kekasih, yeah kekasih...seperti divon katakan pada tubuh kaku dan dingin papanya bahwa dia membawakan calon menantu untuknya.
Dia sudah menahan rasa sakit karna ditinggalkan dan sekarang? Dia merasakan sakit yang lebih besar lagi. Hingga rasa sakit itu tidak bisa tertampung lagi..berlina menyerah dan memilih mengakhiri hidupnya.
Flashback off
...πΌπΌπΌ...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Like , comment, vote n gift biar aku tambah semangat updatenya π€π