My Beloved DADDY

My Beloved DADDY
Divon, Berlina dan Marcell



hi guys...disini aku masih menceritakan masa lalu divon dan Marcell , bagaimana mereka sampai bermusuhan.


masih satu bab lagi ya, jadi jangan bosan dengan mereka😁😁😁 selamat membaca🤗


*****


Marcell yang merasa bahwa divon telah pergi cukup lama membuatnya sedikit pusing, Karna sebentar lagi kelas selanjutnya akan dimulai. Kalo bukan Karna kelompoknya akan tampil presentasi,dirinya tdk akan ambil pusing mencari divon, tapi mengingat bahwa nilainya akan berkurang jika mereka tdk lengkap, mau tdk mau dia harus mencari sahabatnya itu.


Marcell mulai mencari divon ketempat -tempat yang sering divon atau mereka datangi. Mulai dari aula,lapangan bola basket dan juga perpustakaan tapi nihil, divon tdk ada ditempat itu.


Marcell yang sdh lelah akhirnya menyerah, menelpon pun , divon tdk mengangkatnya, padahal terdengar terhubung dengan nomor divon. Sejenak dirinya berpikir, divon memang sengaja mengsilent hpnya karna tidak ingin diganggu. Mungkin saja dia sudah bertemu pujaan hatinya. Saat Marcell berjalan melewati taman, dirinya tdk sengaja menangkap seseorang yang dikenalnya sedang asik mengobrol dengan perempuan..ya itu adalah divon dan cinta pertamanya..ternyata bener divon sudah bertemu dengan gadis itu, mercell segera menghampiri mereka. karena sebentar lagi kelas dimulai dan dirinya harus mempersiapkan presentasi.


"Divon". Panggil marcell


Divon yang merasa dipanggil pun menoleh kebelakang, dan terlihatlah tampang kesel sahabatnya.


Saat Marcell sdh berada dihadapannya, tanpa basa-basi dirinya langsung menarik tangan divon.


"Eh mau dibawa kemana aku". Divon bingung karna Marcell menariknya dengan cepat seperti diburuh waktu


Sedangkan berlina yang melihat itu hanya berdengus kesel karna dirinya ditinggal.


"Lah, aku kok ditinggal".gerutunya sambil berjalan mengikuti dua makhluk aneh didepannya. "Siapa si dia".gumamnya karna sedari tadi dirinya juga penasaran dengan pria tampan yang menyeret sahabatnya.


Divon yang sadar jika dirinya meninggalkan berlina pun langsung menghempaskan tangannya dari tangan Marcell dengan kasar karna sedari tadi dirinya meminta untuk melepaskan tangannya tapi Marcell tak mengindahkan permintaan sahabatnya itu, malah Marcell semakin memegang erat tangan divon.


Marcell menghentikan langkahnya dan menatap tajam sahabatnya itu.


"Huft". Divon menghela napasnya. "Kamu gk liat tatapan mereka." Seketika Marcell menatap sekelilingnya dan bener saja apa yang dikatakan divon. Mulai dari tatapan bingung orang-orang melihat mereka bahkan ada yang berbisik dan menertawai mereka.


"Pasti mereka mengira kita pasangan kekasih yang sedang bertengkar." Dengusnya dan kemudian tersenyum geli karna perkataannya itu.


Berlina pun sudah ada dihadapan mereka. Menatap bergantian dua makhluk didepannya yang saling pandang dengan ekspresi berbeda.. yang satu menatapnya dengan tajam yang satunya malah menatap dengan tampang menggelikan.


"Von dia siapa.."tanya berlina membuyarkan mereka


"Eh berlina".kaget divon."dia teman aku".sambungnya


Berlina hanya mengangguk-angguk, tanpa berniat berkenalan secara langsung karna melihat wajah datar dan dingin Marcell


"Kamu lupa ya, kalo sebentar kita akan presentasi".mercell melihat jam mahal ditangan kekarnya menunjukkan waktu mereka tinggal dua menit lagi.


"Astagaaa". Divon menepuk keningnya yang baru menyadari tugasnya


"Ayo". Bukannya mengajak Marcell malah langsung menarik tangan berlina dan membuat Marcell seketika melongo.


*****


"Kekantin yuk". Ajak divon pd Marcell karna memang sudah jam istirahat..yang lain sdh pada keluar hingga tersisa lima orang saja dikelas


"Malas.." divon hanya memutar matanya jengah mendengar jawaban Marcell. Walopun sudah tau jawabannya entah kenapa dirinya ttp bertanya


"kamu punya trauma dengan kantin". Ledeknya


"Sialan.." kesel Marcell


Divon hanya tertawa melihat wajah kesel marcell, dirinya sangat suka kalo marcell kesel itu jadi kesenangannya sendiri. Padahal awal pertama bertemu, divon kira hanya ada dua macam ekspresi yang melekat abadi di diri marcell selain datar dan tajam.


"Divon".panggil seseorang


Divon yang mengenal suara itupun langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Terlihatlah gadis cantik dengan body yang sempurna yang berdiri didepan pintu kelas.


"Hi berlina.." gadis cantik itu berjalan mendekat dengan senyum manisnya tapi sayangnya Marcell yang melihat hanya menunjukkan ekspresi datar.


Tapi berlina tdk peduli karna tujuannya hanya satu orang dan orang itu adalah sahabatnya, divon.


"Ke kantin yuk.." ajak berlina yang sdh berdiri dihadapan mereka.


"Ayuukk.."ucap divon dengan semangat 45 dan berdiri dari duduknya.


Saat akan melangkahkan kakinya, divon berhenti dan melihat Marcell dari samping yang sejak tadi hanya diam mendengarkan dirinya dan berlina berbicara.


"Bener gk mau ikut.." tanya divon


Marcell tetap pendiriannya, yang tdk ingin ke kantin


"Ya udah, kamu mau titip apa.." tawarnya


"Seperti biasa.."divon pun hanya mengangguk saja dan mereka pun pergi meninggalkan marcell menuju kantin.


...🌼🌼🌼...


jangan lupa, tekan favorite biar masuk notif cinta dari aku 😘


vote,like, comment n gift biar aku tambah sangat update🤗


salam sayang


fani