My Beloved DADDY

My Beloved DADDY
masih kisah mereka



"sial,.mana bengkel masih jauh lagi" gerutu seorang gadis yang melihat ban mobilnya kempes.


Berdiri disamping mobil sambil menatap langit yang gelap gulita, tdk ada bulan yang bersinar bahkan bintang-bintang bersamanya hanya ada angin yang berhembus kencang menyerpanya.


"Sepertinya akan turun hujan..."gumamnya seraya masuk kedalam mobilnya untuk mengambil hp, berniat menelpon seseorang lalu keluar kembali dari mobilnya, sambil menelpon tak lupa iya merentangkan satu tangannya yang nganggur buat menyetop kendaraan lain guna meminta bantuan namun nihil, mereka malah mengabaikan gadis ini.


Sesudah menelpon, gadis ini masuk kembali kemobilnya lalu mengatur kursi kemudinya untuk dijadikan tempat berbaring..karna merasa bosan menunggu seseorang yang akan menjemputnya, akhirnya dia memejamkan mata, tak lupa dirinya mengunci semua pintu mobilnya. Meski sebenarnya dirinya takut, tapi dia mengalihkannya dengan tidur, berharap saat bangun, orang suruhannya sudah tiba menjemputnya.


Sangking terlelapnya, dirinya tidak menyadari dari luar seseorang terus mengetok kaca mobilnya. Hingga saat dia merasakan mobilnya bergoyang..


Mata gadis ini terbuka lebar dan "GEMPA!GEMPA.."teriaknya panik. Sangking paniknya, saat ingin keluar dari mobil..dirinya malah menggedor-gedor pintu karna terkunci..dia tidak bisa berpikir dengan jernih hanya bisa mengatakan "tolong! tolong!..."


Sedangkan seseorang diluar sana yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala..emang dirinya tadi menggoyangkan mobil gadis itu. Karna melihat gadis itu masih tertidur meski dari tadi dirinya mengetuk-ngetuk kaca. ya, kaca mobil gadis ini sangat transparan jadi orang diluar bisa sangat jelas melihat kedalam mobil . Tidak ingin waktunya terbuang lagi, hanya karna gadis itu, dia pun kembali mengetok kaca mobil agar gadis itu diam, dan benar saja..seketika gadis itu mengarahkan pandangannya pada seseorang yang mengetok kaca mobilnya.


"Kamu..."ucapnya terkejut dan dirinya pun tersadar kalau dia mengunci pintu mobilnya sedari tadi, lalu membukanya kembali.


Turun dari mobilnya, meski dia merasa malu karna mungkin seseorang didepannya melihat kelakuannya tadi tapi dia berusaha terlihat biasa saja.


"Ehemm.."dehemnya keras untuk menetralkan perasaanya dan juga suasana canggung saat sudah berada dihadapan sesorang yang sangat dia kenal .ya dia mengenal wajahnya tapi tidak kepribadiannya.


"Marcell, kamu Marcell kan..."tanyanya basa-basi.


Dan pria yang dikatakan sebagai Marcell hanya mengangguk saja.


Seketika suasana menjadi hening. Tapi itu tidak lama.


"Kelihatannya kamu lagi dalam masalah, apa perlu bantuan?.."ucap marcell.


Mendengarkan ucapan Marcell, gadis ini seketika tersenyum sangat manis, seperti mendapatkan jackpot saja.


Pria ini emang keliatan mukanya datar dan terkesan dingin ,tapi ternyata punya sisi kemanusiaan juga..aku pikir gk. batinnya


" Apa perlu bantuan.."tanyanya lagi, karna gadis didepannya ini dari tadi hanya senyum dan sesekali terkekeh seperti orang gila saja, pikirnya.


"Eh i-iya..."ucapnya setelah tersadar dari kelakuannya. "Ban mobilku kempes, aku tadi sudah menelpon pekerja dirumahku, tapi sepertinya butuh waktu lama dia sampai kesini.."jelasnya


Ya, jarak antara rumah dan posisi gadis ini butuh sekitar sejam buat sampe tujuan.


"Lebih baik saya saja yang mengantar kamu, ini udah malam banget ,gk baik perempuan malam-malam begini masih diluar, mobil kamu biar saya suruh bodyguard saya yang mengambilnya..."ucapnya panjang lebar jangan lupa mukanya yang stay datar dan dingin, untung saja gadis ini hanya memperhatikan ucapannya yang terkesan perhatian, setidaknya masih ada yang mau menolongnya..pikir gadis ini


Saat ini mereka sudah berada dalam perjalanan pulang, lebih tepatnya memulangkan gadis disampingnya, tapi sebelum mereka pergi tadi..sudah ada dua bodyguard yang ditelpon marcell tadi mengambil mobil gadis yang duduk disampingnya dengan perasaan canggung.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, marcell yang pada dasarnya tidak pandai memulai obrolan pun hanya diam saja


"Terima kasih ya, sudah mau ngantar aku.."ucapnya saat sudah berada didepan pintu rumahnya, saat akan membuka pintu, ucapan marcell membuatnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil Marcell.


"Sabrina.."panggil marcell yang baru pertama kali memanggil gadis didepannya yang dia ketahui dari divon namanya adalah Sabrina.


"Kenapa?" Tanya Sabrina yang sudah duduk kembali ketempatnya dan menghadap samping dimana lawan bicaranya melihatnya.


Marcell yang ditanyapun hanya fokus melihat berlina dan malah membuat berlina salah tingkah.


"Marcell.."panggil Sabrina yang melihat pria itu hanya melihatnya saja


"Hmmm gak jadi.."ujar marcell yang membuat berlina bingung.


Karna merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, marcell segera menyalahkan mobilnya lalu pergi dari rumah berlina begitu saja, dan berlina melihat sikap marcell hanya mendengus kesal.


"aneh.."gumamnya lalu masuk kedalam rumahnya.


*****


Kampus


" Semalam jam berapa sampai..." tanya divon pada Marcell yang duduk disampingnya sambil membaca buku ekonominya


"Jam 12..." Ucap marcell tanpa melihat divon,.matanya hanya fokus dengan buku yang dia pegang.


Ya, mereka semalam menghadiri acara pembukaan hotel dari kolega bisnis orang tua mereka. Orang tua mereka sengaja mengajak anak-anak nya untuk memperkenalkan divon dan marcell sebagai penerus kerajaan bisnis keluarga mereka nantinya. Dan itu tidak disia-siakan oleh divon dan marcell sebab mereka memang mau belajar bagaimana beradaptasi langsung dengan petinggi-petinggi perusahaan , acara itu untuk pertama bagi mereka sebab kedua orang tua mereka masing-masing hanya sering mengajak anaknya ke kantor saja untuk belajar. Dan sampailah dimana divon dan marcell dipertemukan diacara itu tanpa sengaja.


"Von, kemarin aku bertemu dengan Sabrina..."ucapnya yang mengingat semalam dirinya bertemu dengan Sabrina.


"Oh..ya.."


"Iya.."


"Dimana.."tanya divon


"Dijalan menuju pulang, aku melihat mobilnya dipinggir jalan, aku pikir mobilnya mogok jadi aku samperin dia dan bener saja mobilnya mogok.."jelas marcell tanpa berniat menceritakan kekonyolan gadis itu semalam.


"Trus, kamu benerin mobilnya.."tanya divon dan dibalas gelengan kepala oleh marcell.


"Tidak, aku mengantarnya pulang saja lalu menyuruh bodyguard ku untuk mengambil alih mobil sabrina..."jelasnya lagi


"Oh.."divon mengangguk-angguk pelan kepalanya.


"Kamu tumben masih disini.."heran marcell karna biasanya temannya ini gk pernah absen untuk ke kantin.


"Malas aja..ngantuk.."jawab divon lalu meletakkan kepalanya dimeja.


Jelas saja divon ngantuk, semalam habis acara bukannya pulang langsung tidur malah main hp dulu..biasalah, dirinya malah kepoin sosial media berlina.


Didalam kelas hanya ada mereka berdua saja sampai dimana suara seseorang yang mereka kenal membuat mereka menoleh ke sumber suara.


" Hi, divon marcell.."sapanya yang sudah berada didepan bangku mereka berdua.


"Hi berlina.."balas divon sedangkan marcell hanya mengangguk saja dan kembali fokus pada bukunya


Akhir-akhir ini memang berlina sering menghampiri kelas divon marcell, dia lebih suka bergaul dengan orang yang sudah sangat dirinya kenal daripada orang yang baru dikenalnya. Meski sebenarnya marcell termasuk seseorang yang baru dikenalnya tapi karna ada divon yang selalu bersama pria datar itu jadinya dia merasa biasa saja.


*****


Hari-hari nya mereka lalui bertiga, bahkan Sabrina tidak merasa canggung lagi didekat marcell meski pria itu masih terkesan datar dan dingin tapi Sabrina tidak mempedulikannya karna ternyata pria itu tdk seperti pertama kali dia kenal..ya marcell akan memperlihatkan sisi lainnya hanya pada orang yang dekat dengannya...selebihnya dia akan bersikap cuek dan tidak peduli terhadap orang lain .


Tak sedikit yang iri dengan Sabrina, bahkan gadis lain terang-terangan melarang Sabrina mendekati kedua pria populer dikampusnya, tapi Sabina tdk mempedulikan itu sebab dia merasa mereka tidak punya hak melarangnya selagi Divon dan Marcell mau berteman dengan dirinya.


Hingga suatu hari persahabatan mereka mulai sedikit renggang, dimana divon dan marcell yang mulai sibuk dengan ujian skripsinya, disamping itu divon juga mulai sibuk memimpin perusahaan ayahnya sebab ayahnya yang sering sakit-sakitan. Karna hal itu mereka bertiga sangat jarang lagi bersama hanya Sabrina dan Marcell lah sesekali bertemu sekedar mengobrol bahkan tak jarang Sabrina menanyakan keadaan divon dan keluarganya pada marcell, ya marcell sering bertemu divon diperusaahan karna perusahaan ayahnya dan divon menjalin kerjasama. Tak jarang pula Sabrina menghubungi divon tapi divon tidak pernah mengangkatnya dan ketika Sabrina datang kerumahnya, divon malah tidak ada disana. Tak ingin menganggu konsentrasi divon yang sangat sibuk, akhirnya Sabrina menyerah dan menunggu saja divon yang duluan menghubunginya.


Tibalah saat hari kelulusan divon dan marcell, untuk pertama kalinya Sabrina melihat divon setelah satu bulan lamanya tak bertemu.


"Divon..."panggil Sabrina dan melangkah mendekat lalu memeluk erat tubuh divon


Divon yang mendapat pelukan mendadak seperti itu sangat senang dan tak kalah memeluk erat Sabrina, dia juga sangat merindukan gadis yang sangat dicintainya dalam diam ini. Ya, Sampai sekarang divon belum berani menyatakan perasannya ke Sabrina, bahkan ada waktu dimana dirinya ingin menyerah karna melihat Sabrina yang sangat dekat dan seperti menyukai marcell karna hal itu dia berusah untuk mengalah dan melupakan cintanya karna tidak ingin persahabatann mereka rusak meski suatu saat dia akan menerima kenyataan bahwa Sabrina dan marcell akan bersama.


"Huu-uu kau jahat sekali, tidak pernah menghubungiku selama sebulan ini.."kesal Sabrina sambil memukul-mukul dada bidang divon yang masih berada dipelukan divon


"Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini, bahkan papa kembali drop lagi.."lirihnya yang masih memeluk erat sabrina


Sabrina yang mendengarkan ucapan divon pun, menghentikan aksinya yang sedari tadi memukuli divon,


Sabrina mendongakkan kepalanya, melihat wajah lelah divon bahkan Sabrina bisa melihat jelas kalau berat badan divon cukup menurun, wajah yang agak tirus, kantong mata yang sedikit menghitam. Sabrina iba bahkan sangat melihat sahabatnya yang seperti tidak memiliki semangat, bahkan yang seharusnya kelulusan menjadi hari kebahagiaan tapi tidak bagi divon. Mungkin bener divon bahagia tapi itu tertutup dari rasa lelahnya, tidak ada semangat hanya senyuman yang beberapa kali dia berikan kepada Sabrina, menandakan kalau dirinya baik-baik saja.


... 🌼🌼🌼...


maaf ya guys, baru update🙏... kemarin-kemarin othornya disibukkan dengan perayaan natal, hari ini terakhir sibuknya😁 hari ini satu dulu ya guys, ini pun dari seminggu lalu ngetiknya..cuman belum ke update karna aku harus baca ulang lagi kalau ada yg gk srek, aku ubah dan baru ini aku perbarui..karna baru ada kesempatan..hehe.


jangan lupa seperti biasa.


like,comment, vote n giftnya🤗