Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 9



Malam itu berbeda dengan malam yang lainnya. Ya, Tisa dan Egi berkencan di sebuah restoran termahal. Dengan nuansa yang sangat romantis mereka menghabiskan malam mereka di sana.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Egi sambil meyodorkan menu ke Tisa.


"Aku mau steak dan minum orange juice," ucap Tisa.


Egi mengangguk lalu memanggil seorang pelayan restoran dan pelayan restoran itu segera datang.


"Mau pesan apa, Mas?" tanya pelayan perempuan memakai baju hitam dengan rambut dikuncir satu.


"Steak dua sama orange juice dua."


Pelayan itu mengangguk dan beberapa saat  kembali dengan pesanan mereka. Ia meletakkannya di meja lalu beranjak dari meja itu.


Akhirnya Egi dan Tisa melahap makanan mereka. Sesaat kemudian mereka selesai dan pulang dengan mobil. Di tengah perjalanan, Egi meminggirkan mobilnya membuat Tisa bertanya-tanya.


   "Kok mobilnya berhenti, Sayang?" tanya Tisa mengerutkan keningnya. Egi hanya terdiam dan menyodorkan sebuah tas belanja.


      "Ini buat kamu." Tisa terbelalak kaget dan langsung menerima pemberian Egi.


"Ya ampun, Sayang. Pasti ini mahal." Ternyata Egi membelikan Tisa sebuah gaun mahal. Gadis itu sangat senang karena Egi membelikannya barang mahal.


  "Nggak mahal kalau buat kamu."


Tisa menyenderkan bahunya di badan Egi dan cowok itu membelai rambut Tisa.


Setelah beberapa saat, Egi melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Tisa ke rumahnya.


"Makasih buat malam ini, Sayang. Kamu cinta kan sama aku?" tanya Tisa sebelum keluar dari mobil Egi saat sudah sampai di depan rumahnya.


Egi hanya mengangguk, "pasti.


"Kalau gitu,  kamu mau kan membelikan apa yang aku inginkan?" tanya Tisa lagi. Ia paham betul kalau Egi benar-benar sudah jatuh kepelukannya dan pasti akan menuruti apa yang ia mau.


Dari kejauhan Tisa menatap mobil Egi yang sudah tak terlihat. Ia bergumam dalam hatinya, akhirnya ia bisa menemukan sosok laki-laki kaya yang mau membelikannya barang-barang mahal.


***


Kevin melangkahkah ke kelas Zara untuk menemui kekasihnya itu. Sesampainya di sana, tak ada sosok Zara, yang ada hanya Tisa dengan beberapa temannya yang lain. Tisa yang mengetahui Kevin langsung menghampirinya.


“Nyari Zara, ya?”


Entah kenapa akal bulus Tisa muncul, memang sikap buruknya selalu iri dengan kebahagiaan orang lain. Ya, tanpa Zara sadari selama ini dia salah memilih teman. Kelihatannya Tisa baik, padahal sebaliknya, dia selalu punya seribu cara untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain.


Kevin mengangguk. “Iya, kamu tahu Zara di mana?”


“Belum berangkat. Kamu udah jadian sama Zara?” tanya Tisa menyelidik.


“Kenapa?”


“Nggak apa, sih. Hati-hati aja kalau kamu jadi bahan pelampiasannya Zara,” celetuk Tisa bermaksud jahat dan berusaha menghancurkan hubungan keduanya.


“Maksud kamu apa bilang kayak gitu?” Kevin tak tahu arah pembicaraan Tisa yang menurutnya nyeleneh.


“Kamu nggak paham maksudku?”


Kevin menggeleng.


“Aku jelasin ya, aku tahu dari dulu Zara suka sama Ian, dan sayangnya Ian memilih aku, tapi udah putus. Kemungkinan besar Zara sakit hati, dan melampiaskan sakit hatinya sama kamu, terus dia mau jadian sama kamu. Kasihan, ya!” Tisa tertawa sambil menepuk bahu Kevin. Ucapan Tisa barusan membuat Kevin sedikit emosi. Sebenarnya Kevin juga sudah tahu kalau Zara memang suka dengan Ian yang dimaksud Tisa, tetapi dia mencoba tak memedulikan perkataan Tisa. Dia paham tipe perempuan apa Tisa ini, perempuan yang mudah mengobral cinta pada laki-laki. Benar saja, belum lama putus dengan Ian,  dia sudah berpacaran dengan Egi, Kevin tahu karena Egi adalah teman satu kelasnya.


“Udah ngomongnya? Aku nggak peduli! Aku yakin Zara bisa nerima aku suatu saat nanti!”  ucap Kevin dengan rasa percaya diri. Apapun akan dilakukannya demi mendapatkan cinta Zara.


“Terserah, jangan terlalu percaya diri, nanti kecewa.” Tisa mengibaskan tangan di hadapan muka Kevin. Enggan menanggapi, cowok itu memilih pergi meninggalkan Tisa dengan perkataannya yang julid.