
Zara melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Dilihatnya Ian sedang menunduk seperti orang yang sedang dirundung masalah. Zara bermaksud bertanya pada Ian, tapi niatnya itu ia urungkan. Ia hanya tak mau ke kepoannya membuat perasaannya pada Ian kembali.
Zara harus tetap kokoh pada pendiriannya untuk melupakan Ian yang kini berpacaran dengan temannya sendiri. Akhirnya Zara memutuskan untuk ke tempat duduknya. Belum Zara duduk di kursinya terdengar keributan, Zara menengok ternyata yang ribut antara Ian dan Tisa.
"Tis, aku nggak mau putus sama kamu." Ian mengenggam tangan Tisa sambil memohon-mohon supaya Tisa tak memutuskan hubungannya dengannya.
"Apaan sih. Putus ya putus." Tisa melepas genggaman Ian. Tisa mulai kesal dengan sikap Ian yang tak mau ia putuskan. Toh, buat apa ia memedulikan Ian, ia memilih Egi yang lebih kaya dibandingkan Ian.
Di tempat duduknya, Zara tak habis pikir dengan Tisa. Bagaimana mungkin Tisa memutuskan Ian secepat itu setelah Zara mencoba mengikhlaskan mereka berdua untuk menjalin hubungan.
Tiba-tiba Ilma datang, dan langsung menghampiri Tisa dan Ian yang masih berseteru dengan topik yang sama.
"Ini ada apa, sih?" tanya Ilma kepada keduanya.
"Ini Ian, aku putusin nggak mau,"gumam Tisa dengan nada agak kesal.
"Emang Ian salah apa kok kamu putusin?"
"Udah bosen aja sama dia. Cowok nggak guna!" pekik Tisa sambil mendorong tubuh Ian. Tisa langsung keluar kelas begitu saja tanpa memedulikan perasaan Ian sedikit pun.
Zara masih terdiam di tempat duduknya, di lain sisi Zara tak tega Ian diperlakukan seperti itu oleh Tisa, tapi di lain sisi Zara s mencoba menjaga jarak supaya lekas melupakan Ian. Hati Zara mulai goyah, akhirnya Zara memberanikan diri untuk menghampiri Ian yang tengah sedih di bangkunya.
"Kamu nggak apa?" tanya Zara sesampainya di bangku Ian.
Ian menggeleng, "Nggak apa, Ra. Maaf, kalau aku pernah abaikan perasaanmu dan malah memilih Tisa," gumam Ian merasa bersalah. Ternyata Ian salah besar sudah memilih Tisa yang ternyata perempuan matrealistis.
Zara mengangguk tanda paham, "Udah aku maafin, kok. Soal perasaan nggak usah dibahas lagi. Aku udah ada gantinya kok. Oh, ya, kenapa Tisa mutusin kamu?"
"Gara-gara cowok yang lebih tajir dari aku. Ya, alasan dia itu. Aku nggak nyangka aja dia tega sama aku."
Zara menggeleng tak percaya, teman yang ia kenal selama ini ternyata sikap aslinya seperti itu, fakta mengatakan semuanya.
"Sabar, ya. Udah nggak perlu disesali. Kamu juga bakalan yang dapat yang tulus dan menerima kamu apa adanya." Zara berusaha menasihati Ian supaya tidak terpuruk dengan keadaan ini. Zara paham betul bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang dicintai, pasti rasanya sakit. Ia juga pernah mengalaminya saat Tisa berpacaran dengan Ian. Tapi... ia mencoba melupakan kejadian menyakitkan itu.
Zara tersenyum kemudian kembali ke tempat duduknya.
***
Sepulang kuliah, Zara bertemu dengan Tisa dengan seseorang cowok berbadan tinggi, berambut cepak dan berparas tampan di taman kampus.
Zara slangsung menghampiri keduanya. Dengan nada marah gadis itu mengungkapkan kekesalannya pada Tisa kenapa dia tega memutuskan Ian begitu saja. Zara tahu, itu bukan urusannya, tapi di lalin sisi Zara tidak tega melihat Ian. Ya, walaupun Ian juga pernah menyakiti perasaannya, semua bukan halangan untuk mengklarifikasi semuanya.
"Tis maksud kamu apa sih mutusin Ian semau kamu?" tanya Zara dengan nada sedikit emosi.
Tisa mengeryitkan keningnya, ia kaget dengan perkataan Zara yang tiba-tiba berkata demikian. "Udah lah, Ra. Aku udah bosen pacaran sama dia, kalau kamu mau, ambil aja. Aku udah nggak butuh dia," ucap Tisa sambil menunjukkan jarinya ke arah Zara.
Zara menggeleng tak percaya, Tisa akan menjawab perkataannya dengan sedikit kasar. Zara te diam beberapa saat dan akhirnya angkat bicara, "Terserah kamu, aku cuma nasihatin kamu. Ingat karma masih berlaku!" Emosi Zara memuncak dan menyunggingkan sedikit senyum tanda tak menyangka Tisa yang selama ini ia kenal baik, ternyata sekarang sisi buruknya terlihat.
"Diam kamu! Udah Sayang, pergi aja daripada ngurusin orang nggak jelas!" Tisa akhirnya pergi begitu saja mengajak cowok itu pergi dari taman kampus.
Zara masih terpaku di sana, sampai ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang dan ternyata ia adalah Kevin.
"Kamu ngapain ribut sama teman kamu?"
"Kamu nguping?" tanya Zara mendadak sewot.
Kevin hanya mengangguk," Kamu suka,ya, sama Ian? Segitunya belain dia." Kevin melontarkan kata itu yang membuat Zara langsung diam seribu bahasa.Dia akhirnya mengelak perkataan Kevin. Ia hanya tak mau Kevin terlalu mencampuri urusannya.
"Nggak. Aku nggak suka aja Tisa bersikap semaunya sama orang lain,"gumam Zara sambil memutarkan kedua bola matanya.
Kevin mengangkat sebelah alisnya," Yakin? Kalau aku lihat kamu suka sama dia?" desak Kevin. Ya, Kevin melihat dari sorot mata Zara, dia menyembunyikan sesuatu. Apalagi kalau tentang perasaannya pada temannya bernama Ian. Cukup menjawab pertanyaan Kevin. Mau tak mau Kevin harus menerima kenyataan bahwa Zara menyukai orang lain. Tapi hal itu tak membuatnya menyerah pada tujuan awalnya untuk membuka hati Zara untuk dirinya.
"Nggak!" Mulut Zara berkata lain.
Kevin hanya mengangguk tanda mengiyakan walau ia sudah tahu yang sebenarnya.