
Tisa meletakkan belanjaannya di tempat tidur seusai pergi bersama Kevin beberapa jam lalu. Niat Tisa untuk memutus hubungan dengan Kevin belum juga gadis itu lontarkan. Tisa berpikir ulang, dan dia rasa masih membutuhkan Kevin.
"Gue masih butuh Kevin. Besok aja kalau gue udah mau tunangan sama Rehan, baru deh gue putusin dia."
Drt
Drt
Panggilan masuk dari Kevin dan segera Tisa mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tisa dalam telepon.
"Aku baru dikabari Papa aku, kalau usaha papaku bangkrut Tis. "
Tisa terdiam mendengar pernyataan Kevin yang menyebutkan bahwa Papa Kevin bangkrut, tandanya Kevin jatuh miskin dan tidak bisa membelikan Tisa barang mewah lagi. Tisa mengernyit dan beberapa saat terdiam.
"Tis, kamu nggak bakal tinggalin aku, kan?"
Tidak ada sahutan. Tisa masih berpikir. Akhirnya gadis matre itu memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kevin. Untuk apa dia berpaacaran dengan cowok kere. Toh, Tisa sekarang punya Rehan yang kaya raya dan sudah mapan.
"Vin, kita putus aja, ya. Kamu tahu, kan, kalau aku nggak bisa susah. Maaf, ya."
"Tis, tapi aku nggak mau putus sama kamu. Aku sayang sama kamu."
"Aku nggak bisa, Vin. Maaf."
Tisa langsung memutuskan sambungan telepon. Tisa bernapas lega karena sesudah dia putus dengan Kevin, dia sudah mendapatkan ganti laki-laki yang kaya dan mapan.
"Kevin udah miskin sekarang. Males banget tahu! Untung gue udah punya Rehan."
Tisa mengibaskan rambutnya dengan elegan. Sebentar lagi dia akan bertunangan dengan orang kaya. Lengkap sudah hidupnya, sudah cantik dan nasibnya selalu baik.
***
"Tis, aku nggak mau putus sama kamu," kata Kevin pada Tisa. Tisa tidak memedulikan Kevin, gadis itu tetap berlari menelusuri koridor. Kevin tetap mengejar Tisa dan menarik paksa gadis itu.
"Aku nggak mau putus dari kamu."
Setelah berkata dengan sadis, Tisa berlalu meninggalkan Kevin yang masih terpaku.
Rencana gue berhasil. Kevin tersenyum miring. Ada misi yang sedang dilakukan. Hanya dia dan salah seorang yang tahu misinya.
Kevin lalu menghampiri Zara yang kebetulan sedang ada di kelas bersama Keyla. Keyla yang melihat Kevin hendak menghampiri Zara mendadak sensi. Buat apa Kevin menghampiri Zara setelah menyakiti perasaan temannya sesuka hatinya.
"Ra, aku mau bilang sesuatu," kata Kevin.
Zara kaget dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba. "Ya?"
"Ngapain lo deketin Zara lagi? Oh, lo udah putus sama cewek matre itu, ya?" sahut Keyla sengit.
"Tunggu dulu," ucap Kevin.
Kevin mendekat dan membisikan sesuatu kepada Zara dan Keyla. Mereka berdua mengangguk dan mulai paham rencana Kevin.
"Jadi?" tanya Zara tidak habis pikir.
Kevin mengangguk. "Jaga rahasia, ya?"
Zara dan Keyla menganggukan kepala lagi. "Oke," jawab keduanya serempak.
Kevin berlalu meninggalkan kelas Zara. Kevin tidak mau rencana yang sudah disusun rapi terendus oleh Tisa. Dengan langkah cepat, Kevin menuju kelas yang tak jauh dari kelas Zara. Kevin yakin rencananya kali ini akan berhasil.
"Orang kayak lo memang pantes, Tis!" Lagi-lagi Kevin tersenyum miring. "Semua ini akan jadi pembelajaran seumur hidup yang nggak bakal lo lupain sampai kapanpun."
Kevin menelepon seseorang.
"Target sudah berada dalam perangkap," kata Kevin.
"Bagus," jawab seseorang di dalam telepon.
***