
Tisa melihat para mahasiswa melihat papan pengumuman sangat ramai. Tisa yang ingin tahu segera bergegas ke papan pengumuman itu. Tisa kaget bukan main saat melihat ada foto dirinya bersama Ruli saat Ruli menyatakan perasaannya kemarin. Gadis itu sangat malu dan di sekelilingnya mereka mulai berbisik sambil melihat ke arah Tisa.
"Tipe dia turun kali, ya. Masak sama Ruli , sih."
"Dasar cewek nggak tahu diri."
Umpatan-umpatan itu terdengar sadis di telinga Tisa. Tisa langsung pergi dari kerumunan dan segera mencari Ruli sampai ketemu. Tisa merasa malu, dia merasa dipermainkan. Tisa juga tidak tahu siapa yang menempel foto itu di papan pengumuman.
"Ruli!" teriak Tisa saat melihat Ruli sedang berada di kantin sambil makan. Seluruh orang yang ada di kantin hanya memandang Tisa dengan tatapan aneh, bahkan mungkin ada yang tidak suka.
Ruli menelan makanan dan menghampiri Tisa.
"Ya?"
"Lo yang nempelin foto itu di papan pengumuman?"
"Foto apa?" jawab Ruli seolah tidak tahu.
"Waktu lo nembak gue kemarin!" Emosi Tisa semakin memuncak. Gadis itu langsung mendorong tubuh Ruli dan Tisa langsung berlalu begitu saja.
"Tis, tunggu." Ruli mengejar Tisa yang berjalan cepat di depannya.
"Saya bisa jelasin ke kamu," ucapnya.
Tisa berbalik arah. "Jelasin apa? Lo sengaja mau bikin gue malu?"
"Ayolah, Tis, kita pacaran, apa yang salah dengan foto itu?"
"Gue udah bilang kalau di kampus jangan anggep gue pacar lo, gue malu. Paham?"
"Iya, saya tahu. Tapi bukan saya yang nyebarin foto itu. Jangan marah, ya? Nanti sehabis kuliah nanti saya belikan barang bagus, deh."
Emosi Tisa mereda setelah Ruli mengiming-iminginya barang bagus. "Oke. Gue nggak marah. Tapi janji, ya?"
"Iya, Cantik,"Ruli tersenyum.
****
Tisa melangkahkan kaki menuju papan pengumuman. Sorot mata semua orang di kampus masih saja menatapnya dengan jijik. Ya, mungkin karena kejadian tempo hari itu. Dengan percaya diri , Tisa tetap tak memedulikan keadaan sekitar. Biar saja mereka tahu siapa dirinya. Tisa bodoh amat.
Tertulis papan pengumuman
Pembayaran SPP Variabel paling lambat 7 Agustus 2018.
Tisa menghela napas. Tandanya, besok terakhir membayar kuliah. Tisa berpikiran untuk segera menelepon Marko untuk menagih uang yang dipinjam beberapa minggu lalu. Setelah Marko meminjam uang dari Tisa, Marko tidak pernah ada kabar sama sekali. Tetapi, Tisa tetap berpikiran baik pada cowok itu. Tidak mungkin, kan, laki-laki kaya akan menipu Tisa.
Tisa mengambil ponsel dari saku dan menggeser ponsel, mencari nama pacar kesayangannya itu dan menekan call.
Beberapa menit Tisa menunggu. Tak ada jawaban sama sekali. Terpaksa Tisa mencoba menghubungi Marko lagi. Tetap tidak ada jawaban.
"Ini orang ke mana, sih?" gerutu Tisa, sebal. Mau tidak mau Tisa harus mendatangi rumah Marko dan menagih uang itu. Tisa berjalan keluar kampus dan memesan ojek online. Tak berselang lama, ojek online datang dan Tisa segera naik.
Lima belas kemudian, Tisa sudah sampai ke rumah Marko. Tidak lupa Tisa membayar ojek online itu. Suasana rumah Marko sepi. Gerbang tertutup. Tisa memencet bel yang ada di dekat gerbang. Sesaat kemudian, ada seorang paruh baya menuju gerbang itu.
"Nyari siapa, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu pada Tisa.
"Marko, Bu."
"Marko sudah tidak di sini lagi. Dia sudah dipecat."
Pernyataan Ibu itu membuat Tisa semakin kebingungan. Tisa tidak paham apa yang dimaksud Ibu itu.
"Maksudnya?"
"Marko itu supir di sini. Dia sudah berani mengambil uang majikan saya dan suka berlagak jadi anak orang kaya. Sudah banyak perempuan yang ditipu sama dia, Mbak."
"Ibu tahu alamat rumahnya?"
Wanita paruh baya itu menggeleng. "Nggak, Mbak," jawabnya. "Saya permisi." Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan gerbang dan masuk ke dalam rumah.
Tisa bingung harus berbuat apa sekarang. Tempo pembayaran SPP Varibel besok. Sudah tidak ada waktu lagi.
"Sial banget hidup gue!" pekik Tisa, menggepalkan tangannya erat-erat.
Tidak ada yang bisa Tisa lakukan. Tisa tidak mungkin meminjam uang pada Reina lagi. Tisa mendecak. Pikirannya kacau. Gadis itu sudah tidak bisa berpikir jernih.
Tisa menurunkan ego dan mencoba menelepon Rehan.
"Halo, ngapain lo gangguin gue lagi?"
Suara Rehan terdengar seperti tidak suka saat Tisa meneleponnya.
"Han, tolongin gue. Sekali ini aja, setelah itu gue janji nggak bakalan ganggu lo lagi."
"Baiklah."
"Gue tunggu lo di kontrakan gue, ya."
"Iya."
Tisa menutup sambungan telepon dan memesan ojek online untuk ke kontrakannya.
"Ada apa lo ngajak gue ke sini?" tanya Rehan sesampainya di rumah Tisa.
"Gue mau pinjem lo uang."
"Kenapa harus gue? Kenapa lo nggak minta sama cowok lo yang banyak itu?"
"Gue habis ketipu, Han, sama cowok."
"Makanya jadi cewek jangan sok. Gue bisa minjemin lo duit. Tapi ada syaratnya. Di dunia ini nggak ada yang gratis!"
"Apa syaratnya?"
"Sebagai gantinya lo harus kerja di kafe gue jadi pelayan kafe. Kalau lo nggak mau, ya udah."
Tisa terpaksa mengangguk. Tidak ada pilihan lain lagi. "Oke, gue mau."
"Oke. Selama tiga bulan lo harus kerja di sana. Gue juga tahu lo masih kuliah. So .... lo bisa atur jadwal lo sendiri. Gue baik, kan?"
Tisa mengangguk.
Rehan lalu menyodorkan surat perjanjian. Rehan takut kalau seusai Rehan meminjamkan uang, Tisa tidak mau bertanggung jawab.
"Tandatangan," suruh Rehan.
Tisa langsung menandatangani surat perjanjian itu.
"Makasih, ya, lo udah bantu gue, Han."
Rehan mengangguk dan menyodorkan uang dua juta lima ratus ribu pada Tisa. "Cukup, kan?"
Tisa menerima uang itu dan mengangguk.
"Gue pulang dulu, ya. Lain kali kalau ngincer cowok kaya yang pinter dikit," ucap Rehan bermaksud mengejek.
Tisa sebenarnya marah dengan perkataan Rehan. Tetapi dia tidak memperlihatkan kemarahannya. Tisa bersyukur Rehan sudah mau membantu dirinya.