Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 17



Rehan menyeruput kopi panas. Sesekali dia tertawa menceritakan saat dia mengerjai Tisa habis-habisan.


      "Ya, kali belum jadi istri gue aja dia minta suruh beliin ini itu. Kesel gue. Akhirnya dengan cara kejam gue jual apartemen itu dan nyuruh petugas buat usir dia. Ide gue bagus, kan?" Rehan menjentikkan tangan di depan wajah Kevin. Kevin ikut tertawa. "Bagus. Cewek kayak dia memang perlu dikasih pelajaran! Emang enak gue tipu kalau gue jatuh miskin! Ketahuan matrenya dia. Sandiwara gue bagus juga." Tertawa Kevin semakin menggema.


    "Kalian ini jahat banget, ya?" sahut Keyla yang sedari tadi mendengarkan obrolan Rehan dan Kevin. Keyla dan Zara setelah mengetahui misi Kevin dan Rehan menyetujuinya. Ya, biarkan Tisa mendapat pelajaran yang berharga dalam hidupnya supaya dia tak memperlakukan seseorang sesuka dia.


  "Gue juga udah nyuruh Ruli buat ngerjain dia juga," kata Kevin. Lo kenal, kan, sama Ruli?" tanya Kevin pada Keyla.


Keyla mengangguk, "Oh Ruli yang punya kontrakan itu, kan?"


"Bener. Gue nyuruh dia buat ngerjain Tisa juga, dan berhasil. Gampang banget itu cewek kasih imbalan dengan iming-iming "kalau mau jadi pacar dia, ngontraknya gratis dan cewek sok cantik itu mau." Kevin menaikkan sebelah alis.


"Apa kita nggak keterlaluan, Vin, Han, Key?" Zara merasa iba saat ketiga temannya mengerjai Tisa habis-habisan.


  "Udah lah, Ra, ngapain juga kamu kasihan sama Tisa." Keyla menepuk bahu Zara. "Orang kayak dia itu perlu dikasih pelajaran!"


  "Tapi aku kasihan sama dia."


  "Zara, Zara, kamu terlalu baik jadi orang," sahut Rehan. "Tisa itu cewek yang nggak baik untuk jadi yang namanya teman. Lihat aja kelakuan dia, matre gitu. Gue akuin dia memang cantik, tapi kalau gue sebagai cowok mikir lagi buat jadiin pacar atau pun pendamping hidup," ucapan Rehan berhenti. "Baru pacaran aja dia udah berani minta ini-itu apalagi kalau udah nikah? Kalau suaminya udah miskin, pasti dia tinggalin dan bakalan pergi sama cowok lain."


Zara membenarkan perkataan Rehan. Benar sekali-sekali Tisa memang harus diberi pelajaran supaya gadis itu kapok. Zara akhirnya mengikuti jalan drama yang  selanjutnya akan dikerjai oleh Ruli.


   "Apa misi kita selanjutnya?" tanya Rehan pada Kevin.


"Gue udah ada ide, lihat aja besok di kampus." Kevin tertawa senang.


"Jangan kelewatan kamu, Vin!" seru Zara.


"Nggak, Zara. Santai aja."


"Aman, tenang aja." Keyla ikut berunding menyetujui. Apapun rencana Kevin, dia akan ikut berpatisipasi menyalurkan ide-ide untuk memberi pelajaran pada Miss Primadona itu.


***


Kevin menelepon Tisa. Tetap saja Tisa mengangkat telepon Kevin.


"Apa?"


"Tisa aku nggak mau putus sama kamu," ucap Kevin sambil dalam hati tertawa licik.


"Lo itu udah miskin, gue nggak mau!"


"Tapi, Tis." Kevin memandang ke sebelah sudah ada Zara dan Keyla yang turut tertawa lirih.


"Udah lah, lo balikan aja sama Zara. Gue ogah balikan sama lo."


"Tis, gue bakalan lakuin apa aja buat lo!" suara Kevin meninggi.


"Bodo amat, gue nggak peduli. Lagian bentar lagi gue mau tunangan sama orang yang kaya! Udah, bye , jangan ganggu gue!"


Tisa mematikan sambungan telepon.


"Langkah selanjutnya, Vin?" tanya Keyla.


"Tunggu instruksi!" Kevin tersenyum licik.


***


Tisa sudah mendapat kontrakan yang akan dia tinggali. Sesekali gadis itu mendecak sebal. Bagaimana tidak, kontrakan yang sekarang lebih kecil dan sangat panas. Mau tidak mau dengan lapang dada Tisa harus menerimanya.


         "Gue cari mangsa lain, atau balikan sama?" Tisa berpikir dan memikirkan cara supaya dia tetap hidup tanpa kesusahan.


Saat Tisa sedang di depan rumah, anak pemilik kontrakan datang menghampiri Tisa. Tisa mengibaskan rambut panjangnya dan berkata, "Ada apa, ya?"


"Nggak apa, Mbak," jawabnya ramah. "Saya mau kenalan sama Mbak Tisa."


Tisa memasang muka tidak suka dengan cowok dihadapannya ini. Tampan tidak, kaya juga tidak. Akhirnya Tisa memilih untuk menghiraukan cowok itu.


Cowok itu tidak menyerah, dia langsung menjabat tangan Tisa. "Kenalin saya Ruli, Mbak. Kayaknya kita satu kampus."


Tisa mengernyitkan dahi. Apa yang dikatakan cowok bernama Ruli itu benar. Samar-samar Tisa pernah melihat cowok ini di kampus. Entah kapan.


  "Lo udah tahu nama gue, ngapain kenalan?" Tisa melepaskan tangan dari Ruli dan mengusap tangannya dengan tisu.


"Karena saya sudah lama suka sama Mbak. Saya cuma berani memandang Mbak dari jauh."


Ruli tetap berperilaku sabar dan cowok itu tersenyum mendengar perkataan Tisa. "Kalau Mbak mau jadi pacar saya, saya gratiskan tinggal di sini."


Tisa memutar otak dan membenarkan kata Ruli. Ya, lumayan kalau Tisa pacaran dengan cowok di Hadapannya lumayan untuk mengurangi pengeluaran bulananya. Lagian, Tisa memacari Ruli untuk memanfaatkan dia saja, jadi tak ada salahnya.


  "Oke, gue terima lo jadi pacar gue. Tapi inget kalau di kampus pura-pura aja kita nggak pacaran. Kalau lo nggak mau ya udah, gue nggak jadi nerima lo."


Ruli mengangguk. Baginya tidak masalah yang penting dia bisa berpacaran dengan Tisa. Sejak awal masuk kuliah Ruli sudah jatuh cinta dengan Tisa yang cantik. Ruli tahu tabiat Tisa seperti apa, tapi Ruli tidak peduli. Bagi Ruli mencintai seseorang itu apa adanya.


"Saya akan nyenengin, Mbak. Saya tahu mbak lebih tua dari saja, tapi itu nggak masalah. Apa pun Mbak Tisa minta, pasti saya turuti "


Tisa mengangguk dan berjalan mendekati Ruli. "Panggilnya Tisa aja, jangan Mbak," kata Tisa berbisik di telinga Ruli. "Janji ya lo turutin apa aja yang gue mau?"


Ruli mengangguk. "Pasti Tisa. Lagian kontrakan yang ada di sini sepenuhnya sudah milik saya."


Akal licik Tisa mulai muncul. Lumayan pikirnya untuk dimanfaatkan dan tetap Tisa akan mencari laki-laki lain lagi untuk mangsa dan Ruli hanya menjadi tempat pelampiasannya saja.


"Oke. Gue masuk dulu." Tisa masuk ke dalam kontrakan."


Ruli membalikkan badan dan pulang ke rumah. Seusai Ruli tak terlihat, Tisa keluar kontrakan dan berjalan menuju kafe yang berada di seberang jalan. Uang yang diberikan Reina setidaknya masih cukup untuk bulan ini dan untuk bulan berikutnya, Tisa akan mengandalkan laki-laki incarannya kali ini.


  "Nggak ada cowok ganteng kali, ya," kata Tisa sembari mengedarkan pandangan. Setelah Tisa berucap, Tisa melihat cowok berparas tampan hendak duduk. Dengan sengaja, Tisa berdiri membawa gelas dan sengaja menabrakan diri seolah Tisa menumpahkan air itu ke jas cowok incarannya itu.


   "Sori gue nggak sengaja." Tisa langsung membersihkan jas cowok itu dengan tisu kering yang kebetulan dibawanya.


   "Nggak apa," jawab cowok itu langsung berlalu begitu saja tanpa melihat wajah Tisa yang cantik.


Kok dia nggak tertarik sama gue, sih?


Tidak menyerah, Tisa menghampiri cowok itu. "Gue boleh duduk di sini?" tanya Tisa hati-hati.


   "Silakan," jawab cowok itu.


Tisa langsung duduk dan mengajak cowok itu berkenalan. "Gue Tisa, kalau lo?"


"Marko."


"Lo di sini sendirian?"


Marko mengernyit. "Lo nggak lihat gue sendiri. Lo nggak buta, kan?"


Perkataan Marko membuat Tisa kesal. Bagaimana tidak? Selama ini tidak ada laki-laki manapun yang cuek dengan Tisa. Semua laki-laki care dengannya.


"Sori. Gue boleh minta nomor lo?"


"Boleh." Marko segera mencatat nomor teleponnya pada sebuah kertas kosong dan Tisa langsung mengambil kertas itu. "Makasih."


"Sama-sama."


"Nanti gue WhatsApp."


Marko mengangguk dan tangan satunya memanggil pelayan untuk memesan makanan. Seorang pelayan datang dan menyodorkan menu. Dengan sigap, Marko memilih menu. Pelayan itu mencatat menu dan beberapa saat kembali dengan pesanan Marko.


Hanya butuh waktu , sepuluh menit, Marko menghabiskan makanan. Sedari tadi, Tisa hanya memandangi wajah Marko yang tampan dan Tisa yakin Marko anak orang kaya.


  "Lo nggak balik? Gue mau balik." Marko berdiri dan menuju kasir. Tak mau ketinggalan, Tisa mengikuti langkah Marko.


"Totalnya dua ratus ribu," ucap sang kasir.


Marko merogoh kantong belakang dan menyodorkan uang lima ratus ribuan. "Kembaliannya ambil aja, Mbak."


Tisa yang menyadari kejadian itu menjadi sangat yakin kalau Marko anak orang kaya. Ya, mana mungkin kalau dia tidak kaya, uang kembalian itu tidak dipermasalahkan.


Kasir itu mengangguk.


"Jangan lupa telepon gue, ya?" Marko menaikkan sebelah alis sambil mengedipkan mata sebelahnya.


"Iya. Lo tinggal di mana?"


"Kapan-kapan lo gue ajak ke rumah gue."


Tisa mengangguk. "Oke."