Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 22



Tisa mengantarkan pesanan dengan sebuah baki pada pelanggan di kafe milik Rehan. Sialnya, hari itu ada teman  SMA yang mengenali Tisa saat gadis itu meletakkan baki di atas meja.


 "Lo Tisa, kan?" tanyanya.


Tisa mengangguk, "Oh, musuh bebuyutan gue."


 Ya, Ira adalah musuh bebuyutan Tisa semasa SMA, mereka selalu bersaing satu sama lain untuk mendapatkan satu laki-laki yang sangat terkenal di SMA, Vino namanya. Akhirnya, Tisa yang mendapatkan cowok itu. Sayang, hubungan Tisa kandas karena Vino tidak tahan dengan Tisa yang matre.


  Tidak lama kemudian, datang seorang laki-laki, Tisa ingat benar siapa dia. Ya, Vino, mantan Tisa.


 "Udah nunggu lama?" tanyanya.


Tisa memijat kepalanya. "Sejak kapan lo pacaran sama Ira?"


  Vino mengernyit, mencerna perkataan Tisa. Cowok itu terdiam dan menjawab. "Belum lama," kata Vino.


  "Hebat lo, Ra, lo embat juga mantan gue." Tisa bertepuk tangan, lalu menyilangkan kedua tangan.


  "Lo nggak terima?" Ira berdiri dan memiringkan senyum.


  "Ambil aja," jawab Tisa. Tisa menghentakkan kaki dan berbalik menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Tisa masih kesal. Dia masih tidak percaya kalau mantannya dulu berpacaran dengan musuh bebuyutannya. Tisa menggeleng, dia rasa dia tidak perlu memikirkan hal itu. Tisa duduk di kursi plastik berwarna hijau. Pikiran Tisa menuju ke Tio. Entah semenjak melihat Tio sekarang,  Tisa menjadi tertarik pada cowok itu. Tisa melamun membayangkan wajah cowok tampan itu yang membuat dirinya terkesima.


  "Lo nggak kuliah?" tanya Rehan yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Tisa.


  "Jam satu," jawab Tisa.


 "Ya udah, lo bisa ke kampus sekarang," kata Rehan. "Habis kuliah, lo ke sini lagi."


 Tisa mengangguk dan berlalu meninggalkan kafe. Tisa mulai berjalan dan melihat ke arah ke jam tangan menunjukkan pukul sebelas siang.


   "Apa gue nemuin Tio dulu,  ya?" Tisa tersenyum tipis dan memesan ojek online untuk menuju ke indekos Tio. Tak berselang lama, driver ojek online datang, Tisa segera naik jok belakang.


 Sepuluh menit kemudian, Tisa sudah sampai di indekos Tio, Tisa turun dari motor dan membayar, lalu mengetuk pintu indekos. Semenit kemudian, Tio membuka pintu dan kaget melihat siapa yang datang.


  "Tisa?"


Tisa mengangguk. "Iya. Gue main ke sini, nggak apa, kan?"


Tio mengangguk. "Bukannya nggak boleh, tapi nggak enak dilihatin yang lain," kata Tio menengok kanan kiri. "Kalau mau ketemu aku bisa di luar kos, Tisa. Mendingan kamu segera pergi. Gue harap lo paham."


Tisa mengangguk. "Oke, sebelum itu gue minta  nomor lo?"


Tio mengeja nomornya dan Tisa segera mencatat segera di ponselnya.


  "Makasih," Tisa membalikkan badan dan pergi dari indekos Tio. Tisa senang bukan main sudah mendapat nomor Tio. Sambil berjalan kaki, Tisa  chat Tio via WhatsApp.


 Ini gue Tisa.


     Send.


"Kok nggak dibalas, sih? Ya udah, nanti malem gue ajak dia makan malam. Urusan kerja di kafe Rehan, mendingan gue pura-pura sakit aja!"  Tisa tersenyum licik.


***


Tisa menelepon Rehan dan Rehan langsung menjawab panggilan cewek itu.


  *Kenapa?


Gue nggak bisa kerja, gue baru sakit!


Ya udah, lo istirahat aja. Tapi, besok lo harus kembali kerja*.


 


Tisa menutup sambungan telepon. Gadis itu senang bukan main bisa secara mudah membohongi Rehan. Tisa kemudian menelepon Tio. Tidak ada jawaban. Tidak menyerah, Tisa berulang kali menelepon dan akhirnya diangkat.


   *Siapa?


 Ini Tisa, Tio. Malam ini kamu ada acara? Gue mau ngajakin lo makan malam.


Sori, Tis, gue nggak bisa.


Ya udah. Next time, ya?


Oke*.


Tisa menutup sambungan telepon. Sungguh, Tisa kecewa karena Tio tidak bisa diajak makan malam. Sia-sia sudah harapannya kali ini. Tisa menghela napas dan keluar dari kontrakan. Dia duduk di teras depan rumah dan tiba-tiba Ruli datang, mengatakan maksud kedatangannya.


   "Tis, gue mau nagih uang kontrakan."


 Tisa berdiri dan mengerutkan kening.


     "Tunggu-tunggu? Gue nggak salah denger?"


 "Nggak, Tis.


  "Katanya gratis?"


  "Di dunia ini nggak ada yang gratis, Tis," kata Ruli. "Gue minta lo bayar secepatnya, ya? Gue nggak mau tahu."


  "Berapa? Bukannya pas lo itu bilang gratis ke gue?"


 "Sembilan ratus ribu."


"Oke, gue akan bayar!" Tisa kesal dan masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Ruli segera pergi dan dari gorden Tisa melihat punggung Ruli yang sudah tidak terlihat.


  "Sialan!" umpat Tisa semakin kesal. "Gimana gue bisa bayar? Utang sama Rehan aja belum selesai." Tisa mondar-mondir, kepalanya semakin pusing memikirkan ini semua. Tisa mulai berpikir, dan akan meminta tolong pada Tio. Ya, kali saja Tio bisa membantunya.


  "Tio!" Tisa mulai mencetuskan nama itu.