Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 28



Tak berhenti sampai di situ, Alri terus-terusan menganggu hidup Tisa. Tisa berada di kamarnya sambil mengintip dari dalam. Alri masih di depan rumahnya sambil terus mondar-mandir. Tisa semakin tidak nyaman dengan keberadaan Alri. Tisa menutup gorden dan menelepon Rehan.


Han, lo bisa ke sini. Alri masih gangguin gue.


Bisa, Tis. Tunggu, ya.


Oke, Han.


Tak berselang lama, Rehan turun dari mobil. Terdengar kericuhan antara Alri dan Rehan.


“Jangan gangguin Tisa!” pekik Rehan.



“Urusan lo apa?”



“Lo itu sadar harusnya, lo udah punya istri, Ri.”



“Gue tahu. Tapi Tisa itu cantik. Gue suka sama dia dan gue tertarik sama dia. Apa itu salah?”



“Salah. Lo punya istri.”



“Oke, gue ngalah. Gue nggak bakalan ganggu dia lagi.” Alri angkat tangan, dia sadar akan kesalahannya selama ini. Lagi pula, Tisa juga tak pernah menanggapinya sama sekali. Di rumah, Alri sudah punya wanita cantik yang setia. Alri berlalu dan masuk ke dalam mobil. Mengetahui Alri sudah pergi, Tisa keluar rumah dan menghampiri Rehan.



“Makasih, ya, Han.”


Rehan menganngguk dan berpamitan pada Tisa.


***


Reina membuka loker kamarnya, tak sengaja dia menemukan nota pembayaran bucket bunga yang beralamatkan alamat Tisa. Reina mengernyit dan mulai curiga dengan suaminya itu. Perlahan tapi pasti, Reina turun dari lantai dua menuju lantai dasar untuk menemui Alri yang sedang makan pagi.


    "Ini apa?" tanya  Reina sambil melemparkan nota itu pada tubuh Alri. Alri terperangah dan kaget bukan main.  Lehernya tercekat, tidak berbicara apa pun. Rahasia yang selama ini disembunyikan terbongkar sudah. Alri berdiri dan menepuk bahu Reina. "Gue bisa jelasin, Rein."


 "Ini nggak kayak  yang kamu pikirin, Rein."


Rein mengangkat sebelah alis. "Berarti bener selama ini kamu selingkuh sama dia?"


Alri terdiam, dia tak sanggup menjawab. Akhirnya cowok itu mengakui semuanya. Percuma juga dia tetap mengejar Tisa. Toh, selama  ini Tisa tidak menanggapinya sama sekali. Dia sudah tersadar sejak kemarin, tetapi Alri belum berani jujur pada Reina. Alri takut Reina sakit hati dan meninggalkannya. Sekarang Alri sadar, kalau sudah ada perempuan yang setia padanya selama ini.


     "Aku udah fitnah Tisa, Rein. Sebenarnya, Tisa nggak pernah nanggapin aku sedikit pun, tetapi aku yang selalu menganggu dia selama ini," ucapnya terhenti. "Rein, maafkan aku. Sekarang aku sadar, kalau aku udah punya istri yang setia dan perhatian sama aku. Kamu mau kan maafin aku?"


Rein tampak berpikir sejenak. Dengan senang hati, Rein mau memaafkan kesalahan Alri. Baginya, Alri adalah laki-laki yang baik. Ya, mungkin saja Alri hanya sedang khilaf dan melakukan hal itu semua karena selama ini Rein hanya memikirkan belanja, belanja dan belanja, tanpa memikirkan perasaan Alri yang butuh perhatiannya. "Aku yang seharusnya minta maaf, Al. Mungkin  selama  ini aku kurang memperhatikan kamu. Maafkan aku." Rein menyandarkan bahu di lengan Alri. "Kita saling memaafkan, ya, Rein? Aku janji nggak akan ngulangin kesalahanku lagi.


Reina mengangguk dan mulai saat itu mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk saling memperhatikan satu sama lain.


***


Tisa dan Alri mendatangi rumah Tisa. Reina mengetuk pintu dan tak berselang lama, Tisa membuka pintu. Betapa terkejutnya Tisa saat melihat ada Reina dan Alri dihadapannya. Tisa hanya terdiam. Reina maju satu langkah dan memeluk sahabatnya itu. “Tis, maafin gue udah nuduh lo yang enggak\-enggak.” Reina melepas pelukan, tetapi Tisa masih terdiam. Gadis itu masih terpukul dengan kejadian beberapa waktu lalu.


“Lo masih marah sama gue, Tis?”



“Gue nggak tahu, Rein.”



“Tolong maafin Reina, ya, Tis. Ini semua salah gue.”


Tisa mengangguk. “Oke, gue maafin.”


“Maafin gue juga ya, Tis,” sahut Alri. Tisa mengangguk.



“Kita masih temenan kan, Tis? tanya Reina.



“Masih kok, Rein,” jawab Tisa. “Gue mau berubah jadi orang yang lebih baik lagi, Rein. Gue udah nggak mau hidup glamour.”


“Gue juga mau berubah kok, Tis.” Reina menepuk bahu Tisa. “Maafin gue juga udah ngajarin lo yang jelek.”


“Nggak apa, Rein. Supaya buat pembelajaran untuk kita.” Tisa tersenyum.