Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 6



Kevin berjalan menelusuri koridor  kampus menuju ke parkiran untuk mengambil motornya.   Sesampainya di sana, Kevin bertemu dengan Zara. Terlihat gadis itu sedang kesusahan untuk menyalakan mesin motornya.


"Motor kamu kenapa, Ra?" Kevin menghampiri Zara. Zara hanya terdiam, tak menjawab sepatah kata pun.


"Motor kamu mogok?" tanya Kevin lagi yang hanya dijawab Zara dengan anggukan.


"Sini aku bantuin nyalain mesinnya. Kamu minggir sebentar." Zara akhirnya melangkah ke belakang, sambil menunggu Kevin menyalakan mesin motornya yang tidak bisa menyala. Dengan tenaga yang Kevin punya, akhirnya cowok itu berhasil menyalakan mesin motor Zara.


"Ini udah nyala," gumam Kevin. Napasnya sedikit tersengal, keringat mulai bercucuran mengenai wajahnya.


"Makasih. Sori jadi ngerepotin," jawab Zara.


Kevin mengangguk. Dia senang bisa membantu Zara walaupun gadis itu selalu bersikap acuh padanya. Terbesit di hatinya untuk membuka hati Zara yang beku dan sulit dijamah.


Zara akhirnya meninggalkan parkiran. Dari jauh Kevin memandangi punggung Zara yang tak lagi terlihat.


"Kamu Kevin, kan?" tanya seseorang  gadis yang menghampirinya.


"Iya. Aku kayak pernah lihat kamu." Kevin mencoba mengingat siapa gadis itu. Tapi tetap saja ia tak ingat siapa dia


"Tisa, temannya Zara."


Kevin mengangguk, dan akhirnya teringat.


"Kamu suka ya sama Zara?" tanya Tisa tiba-tiba.


"Iya, kenapa?"


"Aku bisa kok bantuin kamu deket sama Zara."


Tisa menawarkan Kevin untuk mendekatkannya dengan Zara. Tapi, Kevin menolak karena ia bisa mendekati Zara dengan caranya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Dari insting Kevin, Tisa bukan perempuan baik-baik, pasti ada maksud dibalik semuanya.


"Ya udah kalau nggak mau dibantu," ucap Tisa pada akhirnya. Gadis berparas cantik itu melangkah menjauhi parkiran.


Pasti ada maksud, aku harus cari tahu. Kevin sepertinya sudah tahu kelicikan Tisa.


      ***


"Aku harus cari tahu tentang Tisa, dan membuktikan pada Zara kalau Tisa bukan teman yang baik," gumam Kevin antusias. Ia hanya tak mau Zara berteman dengan orang yang salah. Ya, walaupun sebenarnya tak berhak sebab Kevin bukan siapa-siapa Zara.


***


Tisa berjalan menuju ke kelasnya. Di setiap langkah, gadis itu disapa cowok yang sangat menganggumi sosok Tisa yang cantik jelita. Hanya dengan senyuman saja, mereka semakin kagum dengan Tisa.


"Hai," sapa salah satu dari mereka. Tisa tersenyum, "Iya, ada apa?" tanya Tisa lembut.


Cowok yang menyapa itu bernama Egi yang termasuk dalam kategori cowok paling keren satu kampus, sederajat dengan Tisa. Kalau mereka disandingkan, mungkin mereka berdua menjadi pasangan yang cocok.


"Tisa, mau nggak makan bareng sama aku di kafe Permata sehabis kuliah?" Cowok itu berharap Tisa mau makan berdua dengannya. Jujur, Egi juga menyukai Tisa. Ya, walaupun Egi tahu, Tisa sudah mempunyai pacar. Cowok itu tak peduli, dia akan terus mengejar cinta Tisa sampai dapat.


Tisa terdiam sejenak dan bingung harus menjawab apa. Di lain sisi, takut kalau ketahuan makan dengan cowok lain, Ian akan marah. Akhirnya, tanpa pikir panjang Tisa menerima ajakan Egi. Tak ada yang salah, pikirnya selama Ian tidak memergokinya.


"Hore." Egi tampak senang karena Tisa menerima ajakannya. Egi memegang tangan Tisa erat, Tisa hanya tersenyum.


"Kalau Ian tahu gimana?" Tisa harap-harap cemas.


"Kenapa harus takut? Kamu putusin aja Ian dan pacaran sama aku. Aku bakal kasih apa yang kamu mau, gimana?"


Tawaran Egi seolah mengebrak dinding hati Tisa. Ia mulai berpikir kalau ia pacaran dengan Egi pasti ia akan senang dan bahagia. Pikiran itu mulai bersarang di otaknya.


"Oke, aku bakalan putusin Ian. Tapi, kamu janji, pacarin aku, ya?"


Ini adalah langkah awal Tisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang glamor. Toh, Ian tak ada apa-apanya dibandingkan Egi. Egi anak konglomerat, pasti barang-barang mahal pun pasti dibelikan.


Egi mengangguk," Iya, apa sih yang nggak buat kamu." Egi mencolek pipi Tisa yang lembut.


Egi menggandeng Tisa menuju ke kelas Tisa yang berselang dua kelas. Egi juga menyuruh Tisa untuk memutuskan hubungannya dengan Ian.


Kebetulan saat itu, Ian sedang di depan kelas. Tisa langsung menjalankan aksinya untuk memutuskan Ian tanpa belas kasihan kata 'putus' langsung terucap dari mulut Tisa. Ian menggeleng tak percaya Tisa akan tega memutuskannya. Dan lebih parahnya lagi, Tisa sudah menggandeng cowok lain dihadapannya.


"Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa. Aku bosan pacaran sama kamu. Ya, walaupun baru berapa hari," gumam Tisa sambil menyilangkan kedua tanggannya.


"Tapi...," Ian menggantungkan kata-katanya. Ia hancur, orang yang dicintainya tega meninggalkannya demi laki-laki lain. Apa mau dikata semua sudah terjadi. Ian hanya bisa meratapi nasibnya.