
Tisa menyilangkan duduknya di sofa. Sesekali gadis berparas cantik itu menggerutu kesal. "Gimana caranya gue lunasin utangnya Rehan!" Tisa menompangkan dagu di sebelah tumpuan pada sofa. "Sial banget!" rutuknya semakin kesal.
Tisa berpikir keras untuk mengembalikan uang Rehan, tetapi dia tidak tahu caranya bagaimana. Tisa juga tidak mungkin meminta uang orangtuanya lagi. Ya, semua ini memang salah Tisa, karena terlalu percaya pada Marko, dan akhirnya Tisa ditipu habis-habisan oleh cowok itu.
Drt
Drt
Reina :Jangan lupa besok datang ke nikahan gue, Tis.
Tisa semakin pusing. Gadis itu sudah tidak mempunyai uang sama sekali. Mana mungkin Tisa tidak membawa apapun ke pernikahan Reina. Tisa menarik napas kasar dan menuju ke kamarnya. Tisa membuka lemari dan mengambil sebuah kotak perhiasan yang pernah diberikan oleh Marko . Siapa tahu, dengan perhiasan itu, Tisa bisa membeli kado untuk Reina, dan untuk menyambung hidupnya beberapa minggu. Untuk selanjutnya, Tisa harus berusaha keras mencari kerja. Yang penting halal. Dia tidak mungkin mengandalkan siapa-siapa lagi. Hidupnya sudah kacau sekarang. Seolah semua menjauhi Tisa.
"Apa ini karena perbuatan gue, ya?" pikir Tisa. Tetapi kemudian gadis itu membuang pikiran itu jauh-jauh. "Nggak, lah. Gue lagi sial aja!"
Tisa membawa kotak berisi perhiasan itu ke toko perhiasan yang berada di seberang jalan dari kontrakan. Tak berselang lama, Tisa sudah sampai dan dia menyodorokan kotak perhiasan itu pada penjual.
"Itu laku berapa, Mbak?" tanya Tisa.
"Saya cek dulu," jawabnya lalu mengecek keaslian perhiasan itu. "Mbak, ini bukan perhiasan asli."
Tisa mengerutkan kening, tidak percaya. Lalu, gadis itu menyuruh penjual perhiasan itu untuk mengecek lagi. Penjual perhiasan itu mengecek ulang keaslian perhiasan itu. Nihil. "Sudah saya cek. Hasilnya palsu." Penjual itu menyodorkan kotak perhiasan berwarna cokelat itu. Dengan berat hati, Tisa menerima kotak perhiasan itu dan pulang dengan perasaan kesal. "Sial, gue ditipu!"
Sesampainya di rumah, Tisa membaringkan tubuh di tempat tidur. Tisa benar-benar bingung harus berbuat apa. Uang sudah tidak punya sama sekali. Sekarang hidupnya sedang diuji.
"Apa gue jual jam tangan mahal gue yang dikasihin para mantan, ya?"
Tisa mengangguk mantap. "Nggak apa, lah, daripada nggak makan."
Tisa meletakkan kotak perhiasan palsu itu di lemari dan mengambil beberapa jam mahal miliknya. "Kalau dijual, laku berapa, ya?"
Tisa berjalan menuju toko penjualan jam tangan yang berada di sebelah kontrakannya.
"Mas, ini laku berapa, ya?" tanya Tisa pada penjual jam.
"Ini sih laku lima ratus ribu, Mbak."
Tisa kaget setengah mati. Bagaimana tidak? Jam tangan itu jam tangan mahal, harganya jutaan. Mana mungkin Tisa melepas jam tangan itu dengan harga murah.
"Mas, nggak bisa ditambahi lagi?"
Penjual jam itu menggeleng. "Nggak, Mbak."
Tisa menekan ego dan merelakan jam mahalnya dijual dengan harga sesuai kesepakatan. "Ya udah, nggak apa, Mas."
Penjual jam tangan itu menyodorkan uang lima ratus ribu rupiah pada Tisa. Tisa menelan ludah, masih tidak rela. Tetapi, gadis itu tidak punya pilihan lain. "Makasih, Mas."
Penjual jam itu mengangguk. Tisa kembali ke kontrakan.
"Uang segini mana cukup buat beli kado. Pasti acara pernikahan Reina mewah," gerutu Tisa.
Mau tidak mau Tisa terpaksa membelikan kado untuk Reina seadanya. Tidak ada pilihan lain. Lagi pula, uang itu juga belum cukup untuk membayar utang pada Rehan.
"Gue harus kerja!" Tisa termotivasi untuk mencari kerja mulai besok.
Tisa mengangguk dan berlalu menuju toko untuk membelikan Reina kado pernikahan.