
Suasana kampus sangat ramai. Banyak mahasiswa yang berbondong-bondong membayar SPP karena hari ini adalah hari terakhir pembayaran. Sedari tadi Tisa mengantri lebih dari lima belas menit. Sesekali gadis berparas cantik dan berambut panjang itu menggerutu. "Lama banget, sih! Keburu masuk, nih! Tisa menghentak-hentakkan sepatu flat shoes ubin putih.
Kebetulan ada laki-laki yang mangantri di depannya. Tisa mencoba berbicara pada laki-laki itu dan mencoba menego agar dia mau mengalah demi Tisa.
"Mas, saya bentar lagi ada kelas. Mas-nya, mau nggak tukaran posisi sama saya?"
Laki-laki itu menoleh ke arah Tisa. "Enak aja lo ngomong. Nggak, deh! Ngantri dong, Mbak!"
Mulut Tisa terkunci, dia tidak berbicara setelah itu. Dalam hatinya dia masih menggerutu. Tisa pikir semua laki-laki yang melihatnya akan terkesima semua, nyatanya tidak.
Tak berselang lama, akhirnya giliran Tisa yang membayar. Gadis itu menyodorkan uang yang diterima oleh bagian akademik. Setelah membayar dan mendapat cek bukti pembayaran, Tisa menuju kelas.
Saat Tisa sudah masuk kelas, suasana kelas menjadi hening. Ya, mereka tidak suka dengan tingkah Tisa yang akhirnya terbongkar. Tisa tidak peduli dengan cemoohan teman kelasnya. Gadis itu langsung duduk paling belakang.
Drt
Drt
Ada pesan WhatsApp dari Rehan.
Inget, pulang kuliah lo langsung ke kafe gue buat kerja. Jangan kabur!
Tisa membaca pesan itu dan membalas.
Iya. Gue janji nggak kabur.
***
Sepulang kuliah, Tisa menuju kafe Rehan menggunakan ojek online. Sesampainya di sana, Rehan sudah menghadang Tisa di depan kafe.
"Cepetan, pelanggan baru banyak!" Rehan menarik tangan Tisa menuju dapur.
"Gue harus ngapain?"
"Lo angkat baki-baki itu sesuai pesanan. Oke?"
Tanpa menjawab, Tisa langsung mengangkat baki itu menuju ke pelanggan nomor delapan. Sesampai di meja, baki itu jatuh, minuman jus mengenai pelanggan. Pelanggan itu marah bukan main.
"Mbak, bisa kerja nggak, sih?" Pelanggan itu membersihkan pakaian yang terkena tumpahan air.
"Enak saja lo bilang maaf-maaf," jawab pelanggan itu semakin sadis.
"Biasa aja, nggak usah nyolot!" Tisa ikutan kesal dan menuju dapur.
Pelanggan itu lalu mendatangi dapur dan berteriak-teriak. "Mana Manajer di sini?" Teriakannya semakin kencang, membuat yang berada di dapur menoleh ke arahnya.
Rehan yang mendengar teriakan itu, langsung menuju ke dapur.
"Ada apa, Mbak?"
"Kalau cari waiters yang bener dong, Mas! Masak kelakuan kayak gitu."
"Ya, ada apa, Mbak?" Rehan tampak kebingungan.
Pelanggan berjenis kelamin perempuan itu langsung menggeret Tisa yang malah duduk di sebuah kursi dekat dapur.
"Dia kerja nggak becus! Lihat baju saya basah gara-gara Mbak ini!"
"Lo bener-bener keterlaluan, Tis," kata Rehan. "Untuk itu nanti saya ganti , Mbak."
Rehan mau tidak mau mengganti kerugian pelanggan itu gara-gara Tisa. Akhirnya, Rehan mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah.
"Makasih, Mas. Mending pegawai kayak gini pecat aja!" Pelanggan itu berlalu pergi.
"Lo keterlaluan, Tis."
"Dianya aja yang nyolot!"
Rehan semakin emosi. "Lo itu udah salah, tapi nggak mau salah," ucapan Rehan terhenti. "Lo pergi dari kafe gue, dan jangan lupa lo bayar utang lo, gue nggak mau tahu caranya.
Tisa memegang lengan Rehan. "Kok lo gitu, sih, Han?"
Rehan menghempaskan lengannya yang dipegang oleh Tisa. "Gue nggak mau tahu!" Rehan masuk ke ruangan.
Tisa kesal dan pergi dari kafe itu.
"Dasar, ngeselin!" gerutu Tisa sambil berjalan pulang ke kontrakan.