
Tisa mengetuk pintu rumah Reina. Reina yang sadar ada yang mengetuk pintu pun membuka pintu itu.
"Tis, ada apa? Kok bawa koper?" tanya Reina yang heran karena temannya itu membawa koper.
"Gue mau pergi dari sini, Rein, gue takut!" celetuk Tisa yang kelepasan berbicara. Entah kenapa kata itu keluar dari mulutnya.
"Maksud lo apa, Tis?" Reina mengernyit, bingung dengan perkataan Tisa.
Karena terlanjur, Tisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Reina. Sayang, Reina tidak percaya dengan ucapan Tisa begitu saja. Mana mungkin suaminya menggoda Tisa. Reina mulai berpikir yang bukan-bukan tentang Tisa, Reina mencurigai kalau Tisa lah yang menggoda suaminya. Dengan geram Reina menjambak rambut Tisa. Spontan Tisa kaget dan berusaha melepaskan jambakan itu. "Lo apa-apaan, sih, Rein!" Tisa masih berusaha keras melepaskan, tetapi Reina malah semakin kencang menjambak rambut Tisa.
"Gue tahu lo yang godain suami gue, Tis! Dasar teman nggak tahu diri lo, ya? Gue selama ini udah bantuin lo, tapi apa balasan lo selama ini, hah? Tega ya, lo, Tis!" Reina benar - benar marah, dia tidak menyangka Tisa akan setega itu terhadapnya.
"Lo harus percaya sama gue, Rein. Serius, bukan gue yang godain suami lo, tapi dia yang godain gue!"
"Gue nggak percaya sama perkataan lo, Tis," kata Reina, melepaskan jambakan pada rambut Tisa. "Pergi dari sini! Lo bukan sahabat gue!" Air mata Reina mulai jatuh. Reina masih tak menyangka kalau Tisa tega melakukan hal ini terhadap dirinya yang selama ini sudah banyak membantunya. Apa balasan yang Reina dapatkan? Tisa malah menghianatinya dengan menggoda suami temannya sendiri.
Tisa menghela napas panjang dan memilih pergi tanpa sepata kata apa pun. Sambil mendorong kopernya, dada Tisa mulai sesak. Tiba-tiba dia menangis, dia sudah tidak tahan dengan semua. Sampai di perempatan jalan, Alri menghentikan mobil melihat Tisa mendorong koper besarnya.
"Lo mau ke mana, Cantik?" tanya Alri membuka kaca mobil.
"Bukan urusan lo!" Tisa terus berjalan, sementara Alri turun dari mobil dan mengejar Tisa. Secepat kilat, Alri menarik tangan Tisa. "Jangan pergi!"
"Oke, gue lepasin," kata Alri. Alri merogoh saku dan mengeluarkan dompet lalu memberikan uang beberapa uang lembar seratus ribuan pada Tisa.
"Maksud lo apa?" Tisa semakin tidak mengerti.
"Ini uang buat lo, buat cari kontrakan atau aparteman biar gue gampang ketemuan sama lo, dan jangan lupa kasih tahu di mana lo tinggal."
"Gue nggak butuh duit lo!" Tisa menerima uang dari Alri dan menyebarkannya asal. Setelah itu, Tisa terus berjalan meninggalkan Alri yang masih bengong terhadap tingkah Tisa.
"Dasar cewek munafik! Lihat aja lo nggak bakal lama betah hidup tanpa uang. Lo bakal butuh gue, lihat aja!" Alri berteriak, Tisa tetap tak memedulikan perkataan cowok itu. Alri kembali ke mobil dan melajukan kendarannya menuju rumah. Tak berselang lama, dia memarkirkan mobil di garasi dan melangkah menuju rumah. Ternyata Reina sudah menunggu di depan rumah sambil melipat kedua tangannya. "Apa bener kamu godain Tisa, Mas?" tanya Reina memastikan.
"Kamu salah, Sayang, justru dia yang godain aku," Alri mengelak pertanyaan Reina supaya belangnya tidak ketahuan. Alri percaya kalau Reina akan lebih percaya perkataannya dibandingkan temannya itu.
"Aku percaya sama kamu, kok," jawab Reina, lalu menuntun Alri masuk ke dalam rumah. "Tapi kamu nggak kegoda sama dia, kan?"
Alri menggeleng. "Nggak, lah, Sayang. Bagiku cuma kamu yang paling cantik."
Reina tersenyum tipis dan merangkulkan tangan pada lengan Alri. Alri tersenyum licik.
Yes, gue bisa tetap terus gangguin Tisa sampai gue dapatin dia. Reina udah percaya sama gue 100%