
Tisa sudah berada di meja makan bersama Reina dan Alri. Perasaan Tisa semakin tak karuan saat Alri terus memandangi dirinya. Tisa hanya menuduk, tak mau menatap Alri yang masih memandanginya sampai Reina menyiapkan semua makanan di atas meja. Berbagai lauk pauk tersedia. Ya, semenjak menikah dengan Alri, Reina menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Buat apa bekerja pikirnya. Toh, suaminya kaya dan bisa mencukupi kehidupan mereka.
"Ayo dimakan, Tis," kata Reina.
Tisa mengangguk. "Oke. Maaf ya, Rein, jadi ngerepotin lo, nih."
"Nggak kok, santai aja. Gue seneng bisa bantu lo, Tis," jawab Reina. "Kamu hari ini kuliah, kan?"
Tisa mengangguk.
"Kalau gitu bareng Alri aja. Kebetulan jalannya satu arah sama kampus lo."
Tisa yang sedang makan tersedak dan batuk-batuk. Gadis itu langsung mengambil air minum untuk melegakan tengkorokannya yang tersedak karena perkataan Reina. Bagaimana mungkin Tisa mau bareng dengan cowok kegenitan itu. Tisa menggeleng." Nggak usah, Rein, nanti gue pakai gojek aja."
"Udah, nggak apa-apa. Mau, ya?"
Tisa akhirnya mengangguk dan terpaksa mengiyakan karena dia tidak enak menolak permintaan sahabatnya. Setelah makan, Tisa menyampingkan tasnya sambil menunggu mobil Alri yang sedang menuju ke depan gerbang.
"Ayo masuk," kata Alri.
Tisa membuka pintu mobil dan masuk ke mobil. Dari kaca mobil, Reina melambaikan tangan. Mobil itu melaju dengan kecepatan rata-rata.
"Lo cantik, Tis," kata Alri lagi.
"Lo apaan, sih? Gue udah bilang jangan ganggu gue! Lo ngerti nggak, sih?" Tisa semakin kesal dengan sikap Alri yang semakin keterlaluan dan tidak memikirkan perasaan Reina.
"Tapi gue seneng ganggu lo, gimana, tuh?"
"Turunin gue di sini!" seru Tisa.
"Nggak akan," Alri semakin melajukan mobilnya dengan kencang. Tisa sebenarnya ingin nekat keluar dari mobil, tapi mana mungkin, yang ada nanti dia terjatuh dan terluka. Ternyata mobil Alri bukan menuju kampus, malah menuju ke kafe Rehan. Tisa kaget bukan main.
"Kok malah ke sini? Lo gila, ya?"
"Kita ngobrol-ngobrol dulu, Cantik."
Mobil terhenti dan Alri keluar dari mobil diikuti Tisa dibelakangnya. Tisa semakin takut akan jadi kesalahpahaman antara dia dan Reina, bahkan Rehan. Tisa takut kalau Rehan tahu, pasti Rehan tambah mengecap "Cewek pelakor"
"Duduk sini," ajak Alri.
Tisa menuruti Alri dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan cowok itu. Benar saja, Rehan melihat Tisa dan langsung menghampirinya.
"Hebat, ya? Dulu rebutin pacar teman, sekarang suami orang," kata Rehan sambil bertepuk tangan.
"Ini nggak yang kayak lo kira, Han!" Tisa berdiri dan berusaha menjelaskan semua pada Rehan, tetapi cowok itu tidak percaya dengan ucapan Tisa. Rehan paham betul Tisa tipe perempuan seperti apa. Perempuan yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
"Udahlah, Tis, gue tahu lo kayak apa," Rehan menunjuk Tisa dengan satu jarinya. "Lo itu cuma cewek sampah!"
"Santai, Sobat, " sahut Alri sembari menepuk bahu Rehan.
Rehan menggeleng. "Gue juga nggak nyangka sama lo, Al, lo tega sama istri lo sendiri cuma gara-gara dia?"
"Dia yang duluan godain gue," jawab Alri semakin menuduh Tisa yang bukan-bukan.
Tisa marah bukan main. Alri seolah membalikkan fakta, seolah-olah dia lah yang salah dalam situasi ini. Tisa tidak habis pikir, Alri semakin menuduh Tisa. Entah apa tujuannya.
"Mulut lo dijaga!" Tisa mengambil tas dan berlalu dari kafe.
"Dasar cewek sampah!" teriak Rehan dengan kencang. Tisa sudah tidak memedulikan perkataan Rehan. Tisa memilih melanjutkan perjalanan menuju kampusnya dengan berjalan kaki. Ya, kampus Tisa tidak jauh dari kafe Rehan. Tisa terus berjalan, sampai mobil Alri berhenti di samping Tisa.
"Gue nggak mau!"
"Lo keras kepala, ya?"
"Bodo amat!"
"Kalau lo nggak mau, terserah, gue bakalan celakain lo, kalau lo nggak mau jadi selingkuhan gue!"
"Gue nggak peduli! Gue lebih mentingin persahabatan gue sama Reina."
"Oke kalau mau lo gitu, Tis," Alri menutup kaca mobil dan berlalu begitu saja.
"Terserah lo mau celakain gue atau apa. Yang penting gue nggak hianatin persahabatan gue sama Reina."
****
Tisa mendatangi kafe Rehan untuk menjelaskan semuanya. Tisa tidak mau Rehan terus salah paham. Kebetulan, Rehan sedang di depan pintu dapur. Segera, Tisa menghampiri cowok itu.
"Han, gue bisa jelasin!"
"Apa yang perlu dijelasin, Tis?" Rehan mengangkat sebelah alisnya. "Semua udah jelas, kan?"
"Ini nggak kayak yang lo pikir, Rehan."
Entah kenapa air mata Tisa jatuh begitu saja. Baru pertama kali ini Tisa menangis karena masalah demi masalah selalu datang menghampirinya, tanpa ada jeda sedikit pun. Rehan yang melihat Tisa menangis menjadi iba. Selama ini Rehan tidak pernah melihat gadis itu menangis. Sewaktu mereka masih berpacaran pun juga tidak pernah. Rehan hanya tahu kalau Tisa perempuan yang periang dan matre. Sisi lain Tisa, Rehan tak pernah tahu.
"Gue percaya lo kali ini, Tis." Rehan menghela napas. "Udah, lo jangan nangis gitu, Tis, nanti make up lo luntur, nanti mirip badut, loh."
Tisa yang mendengar jawaban Rehan menjadi geli dan menghapus air matanya dengan tangannya. "Lo jahat banget, sih, masak gue dikatain mirip badut?"
"Ya bener, kan? Kalau make up lo luntur, nanti pasti muka lo berantakan dan mirip badut, Tis," kata Rehan. "Sekarang ceritain semua yang sebenarnya terjadi sama gue."
Tisa menarik napas perlahan dan menceritakan apa yang sebenarnya pada Rehan. Rehan paham apa yang sebenarnya terjadi, Rehan tidak bisa diam begitu saja karena Alri merupakan temannya dan Rehan harus meluruskan masalah ini.
"Mending lo keluar dari rumah itu, Tis," kata Rehan, setelah berpikir. "Gue bisa bantu lo cari rumah yang sederhana, lo mau, kan?"
Tisa mengangguk. "Gue mau dan gue mau berubah jadi orang yang lebih baik lagi. Lo mau bantuin gue buat berubah?"
Dengan senang hati Rehan mengangguk. "Iya, Tis, gue rasa yang terjadi sama lo ini sebuah karma. Nggak ada kata terlambat buat berubah, selama kita masih hidup. Kalau lo ada salah sama siapa pun itu, lo harus minta maaf dengan tulus. Gue rasa itu bakal ngurangin beban lo, Tis."
Tisa mengangguk dan besok dia akan meminta maaf pada Zara dan yang lain yang pernah disakiti.
"Makasih lo udah bantuin gue, Han."
"Sama-sama, tapi lo janji beneran berubah, ya?"
Tisa mengangguk. "Tapi gue takut sama ancaman Alri, Han."
"Nanti itu gampang, Tis, yang penting lo harus keluar dulu dari rumah itu."
"Tapi alesan gue bilang ke Reina apa?"
"Bilang aja lo udah ada tempat lain dan nggak enak repotin. Beres, kan?"
Tisa mengangguk.