Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 16



Tisa merayu Rehan untuk membelikan gaun untuk menghadiri pernikahan Reina. Cowok itu tidak langsung mengiyakan. Dia berpikir sejenak. Lama-lama cowok itu muak dengan tingkah Tisa yang sedikit-sedikit meminta barang yang menurut Rehan tidak penting.


Rehan lalu mencari alasan untuk tidak membelikan Tisa gaun. Dengan terpaksa Rehan mencari alasan bahwa dia tidak punya uang dan belum gajian. Tisa yang mendengar alasan Rehan langsung marah dan membelakangi tubuh Rehan.


   "Kamu bohongin aku!" teriak Tisa membuat orang yang berada di sebuah taman melihat ke arah keduanya.


Rehan yang ditonton orang-orang merasa malu dan terpaksa menuruti kemauan Tisa.   "Iya, aku beliin."


Tisa berbalik arah dan tersenyum senang. Tisa langsung mengeret tangan Rehan menuju mobil.


    "Aku mau beli gaun yang paling mewah, ya, Sayang," Tisa memeluk lengan Rehan saat di dalam mobil.


"Yang nikah temen kamu, kenapa kamu yang heboh?" tanya Rehan, bingung.


"Ihh kok kamu gitu, sih! Aku ingin kelihatan cantik, Sayang. Kamu nggak peka! Semua cowok sama aja!" gerutu Tisa, kesal. Gadis berparas cantik itu memanyunkan bibir. Rehan yang melihat kelakuan Tisa hanya membiarkannya mengomel dan tetap fokus mengendarai mobil.


"Kamu denger aku ngomong nggak, sih? Tisa menabok lengan Rehan dengan keras. Rehan menghela napas kasar. Cowok itu mulai kesal dengan tingkah pacarnya itu.


  "Lo!" seru Rehan sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Keluar dari mobil gue!"


Tisa yang ikutan kesal langsung turun dari mobil. Rehan menutup pintu mobil dan berlalu meninggalkan Tisa di pinggir jalan begitu saja.


   "Rehan kenapa, sih?" tanya Tisa kesal. Ada perasaan sejuta tanda tanya dalam diri Tisa. Entah kenapa ada yang berbeda saat dia dan Rehan berpacaran. Rehan memang royal, tetapi dia beda dengan cowok kebanyakan. Hanya Rehan yang benar-benar membuat Tisa jatuh cinta. Tisa merasa bersalah dan sepulang ini dia akan menelepon Rehan untuk meminta maaf atas tingkahnya yang kurang pantas.


Tisa lalu menghadang taksi yang kebetulan lewat dan masuk ke dalam taksi.


    "Ke jalan Mawar, Pak," ucap Tisa. Perasaan bersalah masih membanjiri pikirannya.


"Baik, Mbak," jawab sopir taksi.


Lima menit kemudian, sampai ke rumah Tisa. Tisa segera turun dan membayar taksi. Tak menyiakan kesempatan, Tisa masuk ke apartemen dan sialnya sebelum masuk ke apartemen Tisa dihadang oleh petugas.


Silakan anda pergi dari sini!" seru petugas berumur sekitar tiga puluhan.


Tisa masih tak menyangka Rehan bisa setega itu dan memutuskan untuk menyewakan apartemen yang diberikan kepadanya. Terpaksa dia mengerutu dan mendesak masuk. Tetapi Tisa kalah, kekuatan petugas itu lebih besar.


    "Segera pergi atau saya panggil satpam!" Petugas itu mendorong tubuh Tisa dan petugas itu sudah memasukan barang Tisa ke dalam tas dan melempar tas itu ke arah gadis itu dengan sedikit kasar. Tisa mengambil tasnya dan pergi meninggalkan apartemen.


  Di depan apartemen, Tisa menelepon Rehan untuk meminta kejelasan. Nihil. Rehan tak menjawab telepon Tisa. Dia semakin kesal dan Tisa berjalan sambil membawa tasnya.


Tisa bingung mau ke mana, kalau mau mengontrak lagi uangnya belum cukup. Di lain sisi, dia tidak mau merepotkan orang tuanya di kampung.


   "Sial!" seru Tisa sambil terus berjalan.


     Terbesitlah Tisa untuk ke rumah Reina. Dua puluh menit kemudian, Tisa sampai di rumah Reina. Segera Tisa mengetuk pintu dan Reina segera membukanya.


  "Tisa, ngapain kamu?"


Tisa memeluk tubuh Reina sambil menangis. Pertama kalinya dia menangis dihadapan sahabatnya itu. "Gue diusir dari apartemennya Rehan. Dia marah sama gue dan dia langsung sewa apartemennya gitu aja," jelas Tisa panjang, lebar.


   Reina membelai rambut Tisa. Reina paham kondisi Tisa saat ini. Reina melepas pelukannya dan keluar membawa beberapa lembar uang seratus ribuan. "Ini buat lo, Tis, semoga berguna, ya. Sori, gue nggak bisa bantu banyak."


Tisa mengangguk. "Makasih, ya, Rein. Lo memang sahabat gue."


Reina mengangguk. "Sama-sama."


Tisa berpamitan dan mencari kontrakan yang sekiranya sesuai dengan uang yang diberikan Reina. Hari ini hari yang sial bagi Tisa. Terpaksa dia melupakan perasaan cintanya pada Rehan dan mencoba mencari mangsa baru.


   "Gue akui gue memang jatuh cinta sama lo, tapi gue milih cari yang lain buat cukupin hidup gue!"