Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 15



  Rehan menghampiri rumah Tisa. Kebetulan saat itu, gadis berparas cantik itu sepulang kuliah. Senyum Tisa langsung terbit melihat pacar kaya rayanya itu. Tisa tidak sabar ingin meminta barang mewah lagi.


       "Kamu udah lama?" tanya Tisa di depan gerbang rumahnya.


  Rehan mengangguk. "Ya, lumayan."


Tisa langsung membuka gerbang dan mengandeng tangan Rehan masuk ke ruang tamu.


    "Orang tua kamu ke mana?" tanya Rehan, saat duduk di sofa.


   "Orang tuaku di Surabaya. Di sini aku kan ngontrak."


Rehan mengangguk dan mengalihkan pandangan. Rehan membaca koran yang ada di situ. Rehan sesekali mengedarkan pandangan dan jelas pada tembok kontrakan itu. Sudah tidak layak untuk ditempati. Dia sangat miris melihat keadaan kontrakan Tisa.


   "Kontrakan kamu nggak layak, Sayang. Kamu mau pindah?"


  Tisa mendekat dan menatap Rehan. "Kamu mau bayarin?"


  "Pasti," jawab Rehan. "Oh, ya, Sayang, kamu kok nggak bikinin aku minum?"


Tisa menepuk jidat dan  menuju dapur lalu kembali membawa teh manis.


   "Makasih, ya." Rehan segera meminum teh buatan Tisa.


   Tisa mengangguk dan duduk di sebelah Rehan. "Kamu nggak kerja?"


   Rehan menggeleng cepat. "Aku santai, kok. Aku kan bosnya."


Tisa tersenyum. Benar, dia tidak salah pilih.


  Rehan merangkul Tisa dan menyuruhnya untuk membereskan barang-barangnya untuk segera pindah dari kontrakan yang tak layak ini. Tisa menurut dan masuk kamar, membereskan pakaiannya. Setelah itu, Rehan dan Tisa keluar dari kontrakan. Sebelum itu, Tisa memberikan kunci kontrakan pada ibu yang mempunyai kontrakan.


    Rehan membukakan pintu mobil dan Tisa segera masuk mobil. Rehan mengajak Tisa untuk tinggal di sebuah apartemen.


    "Kita mau ke mana?" tanya Tisa.


"Ke apartemen. Cewek secantik kamu nggak pantas tinggal di tempat kumuh!"


  Tisa semakin senang bukan main. Tisa lalu memeluk lengan Rehan yang sedang fokus menyetir.


     Lima belas menit kemudian, Rehan dan Tisa sampai di apartemen dan langsung memasukinya. Kebetulan, Rehan sudah lama mempunyai apartemen sendiri.


    "Ini apartemen kamu?" tanya Tisa sesudah masuk ke dalam ruangan.


   Rehan mengangguk. "Iya. Kamu bisa tinggal di sini."


Tisa tidak percaya. Baru menjadi pacarnya saja dia sudah di fasilitasi apartemen, apalagi kalau sudah tunangan bahkan menikah. Mungkin hadiahnya bisa mobil mahal.


    "Kamu baik banget, sih, Rehan," kata Tisa manja.


   "Buat kamu apa sih yang nggak," kata Rehan. "Kalau pertunangan kita dipercepat dua minggu lagi gimana?"


Tidak perlu lama berpikir, Tisa mengiyakan. Tisa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Tisa mengangguk senang. Sebentar lagi dia akan memiliki laki-laki kaya yang royal.


 


Rehan merangkul bahu Tisa dan tersenyum. "Iya, kamu, kan, cantik. Cocok untuk jadi pendampingku."


       "Aku juga beruntung punya kamu."


    Rehan melepas rangkulan dan pamit pada Tisa. Ada pekerjaaan yang harus dia selesaikan di kantornya.


    Tisa membuka pintu untuk Rehan dan tepat di depan pintu,  Rehan melambaikan tangan ke Tisa. Dengan gaya manja, Tisa ikut melambaikan tangan. Saat Rehan sudah benar berlalu, Tisa masuk ke apartemen pemberian Rehan dan berbaring di tempat tidur dan mulai menghayal menjadi istri orang kaya.


    "Bentar lagi gue bakal jadi istri orang kaya," kata Tisa sambil memelintir rambut panjangnya. "Tisa, gitu."


      Tisa bangun dan menonton TV. Lama-lama dia bosan karena tidak ada teman di apartemennya. Tisa mematikan TV dan memilih untuk beristirahat sejenak.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu. Tisa yang sedang menonton TV segera membuka pintu.


"Reina?" Tisa kaget saat kedatangan teman satu SMA-nya dulu. Ya, Reina dan Tisa dulu adalah perempuan yang populer di sekolahnya.


"Hai, Tisa." Reina melambaikan tangan dan menengok isi dari apartemen pemberian Reihan. Reina masuk dan duduk di kasur diikuti Tisa. Reina tahu kalau Tisa sudah pindah karena Tisa sendiri yang memberitahu Reina. Jujur Reina sangat penasaran dengan apartemen Tisa yang dibelikan pacarnya yang kaya raya itu. Untuk itu Reina datang ke apartemen Tisa dan ingin mengorek-ngorek informasi tentang pacar Tisa yang kaya.


"Apartemen pemberian pacar lo bagus juga, ya." Reina mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Pasti, lah."


"Denger-denger lo mau tunangan sama cowok kaya raya itu, ya?"


Tisa mengangguk.


Reina menguncang tubuh Tisa erat dan masih tidak percaya kalau Tisa akan tunangan dengan laki-laki kaya raya. Reina dan Tisa memiliki sikap yang sama yaitu suka memanfaatkan laki-laki kaya untuk menuruti kemauan mereka seperti membeli barang-barang mahal dan masih banyak lagi. Sehabis laki-laki kaya itu sudah tidak punya apa-apa lagi, mereka akan meninggalkan dan mencari mangsa lain. Yang mengajari Tisa untuk berperilaku matre Reina sendiri. Semua terpaksa mereka lakukan karena mengingat orang tua yang hidup berkecukupan dan mereka sudah muak hidup susah, untuk itu mereka memutar otak untuk hidup enak dibekali modal tampang cantik.


"Beruntung banget kamu, Tisa. Nggak sia-sia gue ngajarin lo matre pas di SMA, berguna juga kan sekarang." Reina terkekeh. Reina menjatuhkan badannya di kasur dan menghela napas panjang. "Tapi kayaknya lebih beruntung gue, deh."


"Maksudnya?" Tisa mengernyit.


Reina bangun dan merogoh isi tas , lalu menyodorkan undangan pernikahan. Tisa menerima undangan itu lalu membacanya. Tisa menutup mulutnya tidak percaya. Sebentar lagi Reina akan menikah. Pasti suami Reina orang kaya, bisa dipastikan dengan undangan yang Tisa terima, sangat berkelas.


"Beruntung banget!" seru Tisa, memeluk Reina.


Reina menjentikan jari tepat di wajah Tisa. "Hidup memang harus matre."


Tisa mengangguk, membenarkan perkataan Reina. Dia jadi tidak sabar untuk segera bertunangan dengan Rehan dan sehabis wisuda mereka akan menikah.


"Kamu mendingan buruan nikah, deh. Jadi kita nggak usah kerja, biar suami kita aja yang kerja cari nafkah!" desak Reina.


Tisa berpikir sejenak dan mulai berpikiran perkataan Reina ada benarnya. Kalau dia menikah cepat, tandanya Tisa lebih cepat hidup berkecukupan.


"Bener juga kata kamu, Rein." Kecerdasan Reina dalam berkata memang sudah tidak diragukan. Ya, Tisa sudah belajar banyak dari Reina--mulai dari mengenali laki-laki yang kaya dan royal seperti apa.


"Ya, dong. Master playgirl," gumam Reina menyombongkan diri.