
Tisa sudah menempati rumah baru yang dijanjikan oleh Rehan. Entah kenapa cowok itu masih mau membantunya, padahal Tisa sudah memanfaatkannya selama ini.
"Lo suka tempatnya?" tanya Rehan, duduk di samping Tisa.
"Suka, dan gue terima kasih sama lo, Han," kata Tisa. "Kenapa lo mau bantuin gue? Gue kan udah jahat sama lo."
"Menolong itu kan kewajiban, nggak peduli orang yang kita tolong itu jahat atau baik, kan?"
Tisa mengangguk, tanda mengiyakan. Tapi ada yang menganjal di hati Tisa dengan ancaman-ancaman dari Alri. Ditambah kesalahpahaman Reina padanya, membuat Tisa sedikit pusing.
"Gue takut sama ancaman Alri, Han," kata Tisa setelah beberapa menit terdiam.
"Tenang aja, dia nggak bakalan senekat itu, kok," jawab Rehan mencoba menenangkan.
"Dia kayaknya serius, deh." Tisa menyandarkan bahunya di tembok.
"Pokoknya kalau ada apa-apa, lo telepon gue. Oke?"
Tisa mengangguk. Setelah lama bercakap-cakap, Rehan berpamitan pulang. Tisa hanya menatap punggung Rehan yang sudah masuk dalam mobil dan mobil itu berjalan berlalu dari kediaman rumah Tisa. Beberapa saat kemudian, ada kurir yang membawakan sebuah bunga. Tisa mengernyit kebingungan, karena dia tidak merasa memesan bucket bunga.
"Dengan Mbak Tisa?" tanya Kurir laki-laki dengan pawakan tinggi kurus.
"Bener, Mas, tapi saya nggak pesen bunga."
"Silakan Mbak terima bunga ini, saya permisi." Setelah memberikan bucket bunga, kurir itu pergi begitu saja. Tisa hanya terdiam, dan melihat bucket itu ada sebuah tulisan.
Semoga kamu suka bunga ini.
Tisa mengernyit dan mulai paham siapa yang mengiriminya bunga. "Pasti Alri!"
Tisa lalu membuang bunga itu di tempat sampah dan masuk ke dalam rumah dengan perasaan sebal.
***
Tisa memasuki kelas dan sudah berniat untuk meminta maaf pada Zara dan teman yang lain. Terlihat Zara sedang bercengkrama dengan Keyla. Ya, semenjak kejadian beberapa bulan lalu, mereka tidak pernah mengobrol sama sekali. Mungkin itu salah satu keegoisan Tisa yang jahat dan selalu berusaha menghancurkan kebahagiaan orang lain. Sekarang Tisa sadar, kebahagiaan bukan didapatkan sekadar materi, melainkan sebuah persahabatan. Gadis itu berjalan dan menghampiri Zara dan Keyla. Keyla yang menyadari kehadiran Tisa langsung sinis. "Ngapain lo?" tanya Keyla sambil menyilangkan kedua tangan di atas dada.
"Aku mau minta maaf ke kalian," ujar Tisa tulus.
"Udah, Key, aku udah maafin kamu kok, Tis," kata Zara pada akhirnya. Zara tersenyum pada Tisa dengan tulus. "Jangan diulangi lagi, ya, Tis?"
"Kamu apa-apaan, sih, Ra, kamu percaya gitu aja sama dia setelah apa yang dia lakuin ke kamu?" Keyla tidak terima saat Zara begitu mudah memaafkan Tisa yang sudah jahat selama ini.
"Aku yakin Tisa tulus, kok, Key. Allah aja pemaaf masak manusia nggak mau memaafkan antar sesama? Lagian hubungan aku sama Kevin nggak kenapa-kenapa juga, kan?"
Keyla mengangguk. "Asal lo tahu dari Kevin sampai Ruli semuanya ngerjain lo. Lo paham kan maksud gue?"
Tisa merunduk. "Gue paham dan gue pantas dapatin itu semua, kok, tapi tolong maafin gue, Ra, Key."
"Udah lah, Key, maafin aja, kasihan Tisa," kata Zara berusaha mencairkan perasaan Keyla.
"Oke, gue maafin lo, Tis, kalau lo macam-macam lagi." Keyla tersenyum. Zara mendekat pada Tisa dan memeluknya. "Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat kamu, Tis." Zara melepas pelukan, Tisa tersenyum. "Makasih kalian udah maafin gue."
Keyla dan Zara mengangguk bersamaan.
"Gue keluar kelas bentar, ya?" Tisa pamit dan berjalan keluar kelas menuju kantin untuk membeli minum. Sesampainya di sana, Tisa mengambil air botol mineral di kulkas dan membayar di kasir. Saat Tisa berjalan keluar kantin, Tisa melihat Ruli sedang berjalan akan masuk ke kantin. Segera Tisa menghampiri cowok itu. "Rul, gue minta maaf ke lo," ucapnya. Ruli menatap Tisa dengan perasaan aneh. "Kamu minta maaf sama saya? Nggak salah denger kan saya?"
Tisa menggeleng. "Gue serius, Rul. Plis maafin gue, ya?"
Ruli menarik napas panjang dan mengangguk. "Baik, saya maafkan kamu. Jangan diulang perbuatan kamu itu, Tis."
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, ada seseorang yang menghampiri Tisa sambil membawa bucket bunga.
"Mbak, ada kiriman bunga," ucapnya sambil memberikan bucket itu ke Tisa. Setelah itu seseorang itu pergi begitu saja. Tisa mengernyit saat menerima bunga itu. Di bucket itu ada tulisan.
Semoga kamu suka bunga itu. Aku sangat mencintaimu, Tisa.
Tisa membaca tulisan itu dan membuang bucket bunga itu di tempat sampah yang tak jauh dari dia berdiri. Tisa sudah paham siapa yang memberikan bunga, siapa lagi kalau bukan Alri.
"Kenapa bunganya dibuang?" tanya Ruli,penasaran.
"Nggak penting, Rul. Gue permisi." Tisa berlalu meninggalkan Ruli yang masih bertanya-tanya dengan bucket bunga itu.
"Ini bunga dari siapa?" Ruli memungut bucket bunga itu dari sampah. "Nggak ada namanya? Aneh," ucapnya lalu menaruh bucket itu kembali ke sampah.