Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 3



"Apa? Jadi kamu sama Ian jadian?" tanya Keyla saat istirahat tiba. Hal itu jadi patokan Tisa untuk menceritakan semuanya saat Zara sedang pergi ke kantin dengan Ilma.


Tisa hanya mengangguk, tak memedulikan. Setelah ia pikir-pikir, kenapa ia harus memedulikan kebahagiaan Zara. Toh, Ian lebih suka dengannya dibandingkan dengan Zara. Lagi pula semenjak SMA, Tisa sudah dikelilingi cowok-cowok kaya dan ganteng. Banyak yang menyukainya karena Tisa cantik dan menarik. Semenjak dia menyadari kecantikannya, Tisa selalu menanggapi cowok-cowok yang mendekatinya. Ya, walaupun kadang berakhir dengan harapan palsu. Tisa selalu memilih cowok yang kaya dan popular di sekolah. Lain halnya saat di kuliah, belum banyak yang tahu sikap asli Tisa seperti apa, tetapi suatu saat, dia akan menunjukkan sikap aslinya kepada semua orang supaya mereka tahu kalau Tisa bisa mendapatkan apa yang dia mau.


"Kamu gila? Kalau Zara tahu, gimana? Kamu tahu kan Zara udah hampir 3 tahun suka sama Ian?" pekik Keyla, seolah tak terima. Ia tak menyangka, Tisa tega menikam Zara dari belakang.


"Ian lebih suka sama aku, dibandingkan sama Zara," celetuk Tisa sambil memutar rambutnya yang panjang.


Keyla masih  menggeleng tak  percaya. Gadis itu masih tidak menyangka Tisa akan setega itu pada Zara.


"Zara udah tahu?" tanya Keyla lagi.


Tisa menggeleng cepat. "Belum waktunya. Nanti dia juga bakalan tahu, kok. Kamu bisa kan rahasia-in semua ini dari Zara?" Tisa memberikan uang seratus ribuan pada Keyla.


"Nah, ini baru aku bisa jaga rahasia," gumam Keyla sambil menerima uluran uang dari Tisa. Keyla bodo amat, yang penting dia sudah mendapat uang dari Tisa. Lumayan pikirnya untuk makan-makan.


Tisa mengibaskan rambutnya, "Siapa sih yang nggak mau sama Ian. Udah ganteng, kaya lagi."


Keyla menujuk jari telunjuknya ke arah Tisa. "Better choice."


Saat mereka berdua bercakap-cakap, Ian datang sambil membawa minuman untuk Tisa."Sayang, ini minuman buat kamu," ucap Ian mesra.


"So sweet," sahut Keyla lalu meninggalkan keduanya.


"Keyla, udah tahu?" tanya Ian penuh tanda tanya.


Tisa mengangguk antusias.


"Tapi, dia nggak bakal kasih tahu  Zara, kan?" Tisa mengangguk lagi.


Zara dan Ilma menuju ke kelas seusai dari kantin. "Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Zara tepat di meja Tisa.


Tisa yang kaget dengan kedatangan Zara merasa gelagapan. "Eumm, ini baru nyari cara buat deketin kamu--sama Ian."


"Bener," sahut Keyla berbohong. Ia berusaha menutupi semuanya dari Zara--karena ia sudah menerima uang dari Tisa.


Zara mengangguk antusias. "Aku beruntung banget punya sahabat seperti kalian." Zara memeluk kedua sahabatnya dari depan. Ilma turut terharu dengan persahabatan ketiganya. Ya, walaupun Ilma hanya teman biasa--bukan sahabat. Tapi, ia dan Zara lumayan akrab.


Zara melepaskan pelukannya. Ia melemparkan senyum kepada dua sahabatnya itu. Padahal, Zara tak tahu akal licik keduanya sahabatnya. Mungkin, kalau Zara tahu, apa Zara masih menganggapnya sahabat?


****


Ian berdiri di depan kelas. Cowok itu berpura-pura memberi kode pada Tisa dengan cara tersenyum--supaya tidak timbul kecurigaan. Ian kemudian beranjak dari kelas menuju taman kampus. Seusai sampai di sana, ia mengirimi Tisa pesan WhatsApp.


Aku tunggu di taman kampus.


Tisa yang mendengar suara ponselnya berbunyi langsung mengeser layarnya. Dan, ada pesan dari Ian. Tisa mengerti, ia bangkit dari duduknya menuju ke taman kampus.


"Ke toilet," ucap Tisa langsung berlari begitu saja.


***


"Kamu ngapain nyuruh aku ke sini?" Tisa sampai di taman kampus, langsung duduk di samping Ian.


"Kayaknya kita harus kasih tahu Zara sekarang, deh. Sampai kapan kita kucing-kucingan kayak gini?" Ian ingin mengakhiri sandiwara. Cepat atau lambat, pasti Zara tahu yang sebenarnya.


"Tapi--" Tisa tak melanjutkan kata-katanya.


Ian mengenggam tangan Tisa. "Lebih baik dia tahu sekarang. Kalau besok-besok itu artinya semakin menyakiti hatinya, kan?" 


Tisa mengangguk pelan. Dia menyetujui permintaan Ian.


"Kamu yang bilang ke Zara, ya?" Ian memberikan intruksi. Tisa mengangguk, lalu mengirimkan pesan ke Zara untuk ke taman kampus.


Di lain tempat, Zara menerima pesan dari Tisa. Dengan sigap, Zara langsung bergegas menuju taman kampus. Tak sampai dua menit, Zara sudah ada di sana. Ia melihat Ian dan Tisa berduaan. Tapi, ia tetap berusaha berpikiran baik pada mereka.


"Kamu ngapain Tis nyuruh aku ke sini?" tanya Zara sedikit bingung.


Tisa menghela napas. Dan, terpaksa ia mengatakan yang  sebenarnya. "Maaf, Ra. Aku sama Ian udah jadian. Bukan maksudku nikam kamu dari belakang."


Zara menggeleng tak percaya. Gadis itu tak menyangka Tisa akan setega itu padanya. Zara berlari dari taman kampus menuju ke kelas.


Sesampainya di kelas, Zara menangis. Ilma yang tahu Zara menangis langsung menghampiri Zara."Kamu kenapa, Ra?" Ilma menepuk bahu Zara, berusaha menenangkan Zara.


Zara tetap diam, tak mau bicara sedikitpun.


"Cerita, Ra," bujuk Ilma.


"Tisa jadian sama Ian," gumam Zara. Ada kesedihan sangat mendalam dalam hatinya.


"Bukannya Tisa udah tahu kalau kamu suka sama Ian?"


Zara mengangguk dan mengusap air matanya.


"Ian juga suka sama Tisa. Makanya mereka jadian," sahut Keyla.


Zara mengeryit bingung. "Kamu tahu dari mana?"


"Nggak perlu tahu. Udah lah, Ra, ikhlasin Ian sama Tisa. Biarin mereka bahagia. Apa kamu nggak senang kalau Tisa bahagia?"


Mungkin yang dilontarkan Keyla benar. Ia harus mengikhlaskan Tisa bersama Ian. Walaupun semua tidak mudah--seperti membalikkan telapak tangan.