Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 24



Tisa melangkahkan kaki menuju kelas. Sepanjang lorong, semua melihatnya dengan tatapan tidak suka.


     "Oh itu cewek nggak tahu malu," bisik salah satu seseorang. Meskipun suara orang itu rilih, Tisa masih mendengar suara itu. Tisa memilih mengabaikan dan terus melenggang menuju kelas. Sesampai di kelas, gadis itu langsung duduk di paling belakang.


     "Eh, itu si Tisa, kan? Masih berani juga dia."


  "Iya. Nggak tahu malu banget jadi cewek.


   "Jijik gue punya temen kayak dia."


Perkataan-perkataan itu terdengar biasa di telinga Tisa. Ya, Tisa sudah biasa dari dulu mendengar umpatan-umpatan tidak suka. Tisa membuka kedok yang sebenarnya belum lama ini. Teman sekampus Tisa hanya tahu kalau Tisa perempuan yang kalem, tapi pada akhirnya semua orang tahu siapa dia. Semua itu hanya masalah waktu.


  Zara yang mendengar bisikan-bisikan temannya juga cuek. Semenjak Tisa bersikap jahat pada Zara, Zara perlahan menjauhi Tisa walaupun hubungan dengan Kevin baik-baik saja. Zara hanya tidak mau sakit hati lagi. Zara bukan dendam atau apa, dia hanya ingin berusaha tidak ikut campur seperti teman-teman yang lain, yang selalu mencemooh Tisa semenjak mereka tahu sikap Tisa.


    "Kamu nggak ikut-ikutan bully Tisa, Ra?" tanya Keyla.


Zara menggeleng. "Nggak. Jangan ikut-ikutan, nggak baik. Sudah biarin aja, lah, Key." Zara mendedipkan sebelah matanya.


Keyla mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan Zara. Semua yang terjadi pada Tisa anggap saja sebagai pembelajaran supaya dia tidak seenaknya bersikap kepada orang lain.


  Tak berselang lama, Ian datang dan menatap teman-temannya yang saling berbisik-bisik. Ian sudah paham apa yang dilakukan temannya kalau bukan membicarakan soal Tisa, mantannya itu. Ian bersikap cuek dan memilih diam. Tak ada gunanya membela Tisa. Percuma. Tisa tidak akan berubah.


   "Bodo amat sama itu cewek," gumam Ian langsung duduk di depan Zara dan menoleh ke belakang. "Itu teman-teman pada hujat Tisa?"  Ian setengah melirik ke arah Tisa yang duduk di paling belakang.


Zara dan Keyla kompak mengangguk.


     "Udah biarin aja." Zara angkat bicara. "Yang penting kita nggak ikutan julid."


  Ian mengangguk.


Entah kenapa, Tisa malas lama-lama mendengar hinaan demi hinaan itu. Tisa memilih keluar kelas dan membolos sebelum kelas dimulai.


      "Dasar makhluk nyinyir!" Tisa terus berjalan sampai gerbang depan kampus. Tisa menghela napas dan menunggu angkutan lewat. Ya, Tisa terpaksa naik angkutan umum karena Tisa sudah tidak mempunyai uang banyak. Apalagi beban hidupnya semakin bertambah. Beberapa saat kemudian, angkutan datang dan berhenti di depan Tisa, Tisa segera masuk angkot.


    "Pengap banget di sini!" Tisa mengeluh karena suasana pengap dan penuh orang-orang di dalam angkutan.


  "Kalau nggak mau pengap naik taksi dong, Mbak, berisik amat!" celoteh ibu-ibu berusia empat puluhan yang melirik ke arah Tisa yang tidak senang dengan ucapan Tisa.


"Kan emang bener, Bu," jawab Tisa.


"Ya udah, Mbak, keluar dari sini." Ibu itu sedikit mendorong tubuh Tisa sampai gadis itu terjatuh di tengah-tengah. Tisa kesal bukan main, lalu Tisa segera berdiri sembari membersihkan tubuhnya yang terkena debu.


   "Pak, saya turun sini aja," ucap Tisa. Angkot itu berhenti dan Tisa segera turun dan membayar pada supir angkot.


Tisa menghentakkan kaki, masih dengan perasaan kesal.


  "Dasar ibu-ibu sialan!"


Dengan langkah pelan, Tisa terpaksa harus berjalan sampai kontrakan yang lumayan bisa menempuh waktu lima belas menit.


  "Nggak mungkin juga gue naik angkot lagi, uang gue udah nipis!"


Saat Tisa melangkahkan kaki, ada seseorang yang memberhentikan motornya di depan Tisa. Tisa mengernyit dan tidak mengenali seseorang itu. Seseorang itu lalu membuka helmnya,ternyata Rehan.


   "Udah jadi cewek kere?" tanya Rehan, bermaksud meledek.


"Bukan urusan lo."


"Itu karma buat lo, Tisa."


"Maksud lo apa bilang kayak gitu, hah?" Tisa maju satu langkah dan menarik jaket yang Rehan gunakan.


"Pikir sendiri." Rehan memegang tangan Tisa dengan kencang.


"Lo kasar banget sama cewek!" Tisa berusaha melepaskan cengkraman Rehan.


"Gue lepasin tangan lo." Rehan melepas cengkraman dan menutup kaca helm. "Gue pergi dulu." Rehan melajukan motor begitu saja.


   "Sialan!"


***


  Tisa menghirup udara di depan kontrakan. Suasana sore ini begitu cerah. Awan mulai berubah menjadi kelabu. Sesekali Tisa mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. Raut wajah Tisa berubah saat melihat kedatangan Ruli. Tisa sudah menduga apa mau cowok itu. Ya, apalagi kalau bukan menagih uang kontrakan.


   "Tis, uang kontrakan mana?"


   "Gue belum ada duit!"


  "Kalau gitu, kamu bisa pergi dari sini."


  "Besok gue keluar dari sini, gue butuh beresin barang-barang gue," kata Tisa. "Aslinya gue juga males ngontrak di sini, udah tempatnya jelek dan kumuh."


Tisa mengangguk paham dan masuk ke dalam kontrakan, lalu beberapa saat gadis cantik itu keluar dengan kopernya.


   "Oke, gue keluar dari sini!" Tisa melambaikan tangan ke arah Ruli dan pergi begitu saja sambil menggeret koper. Sekarang Tisa bingung mau ke mana. Setelah berpikir sejenak, Tisa mengeluarkan ponsel dan menelpon Reina.


   "Halo, Tis, ada apa?"


   "Gue diusir dari kontrakan, Rein, kamu bisa bantu gue cariin tempat tinggal?"


 "Lo tinggal di rumah gue aja, kebetulan di sebelah rumah mewah gue ada rumah yang dulu dipake pembantu suami gue, Tis, tapi tenang rumah itu lumayan besar. Lo mau?"


"Boleh, deh, gue ke sana."


"Oke, gue tunggu, Tis."


Tisa menutup sambungan telepon dan mulai berjalan menuju rumah Reina yang tak jauh dari kontrakan. Tak cukup waktu lama, Tisa sudah sampai di rumah Reina, lebih tepatnya suami Reina.


   Tok


Tok


Tok


Reina  yang mendengar suara ketukan pintu langsung membuka dan ternyata Tisa yang datang.


   "Eh, lo, Tis." Reina memeluk Tisa dengan erat dan melepaskan pelukan itu.


  "Gue bener boleh tinggal di sini?"


Reina mengangguk. "Pasti, lo sahabat gue, Tis."


Reina menuntun Tisa ke rumah yang dimaksud lewat telepon. Rumah dengan ukuran 7x7 yang cukup sederhana, tapi terlihat elegan.


    "Lo nggak apa tinggal di sini?" tanya Reina hati-hati.


 "Nggak apa, Rein, gue malah makasih banget lo udah izinin gue tinggal di sini."


 "Sayang, itu siapa?" Terdengar suara Alri--suami Reina. Reina langsung menarik tangan Tisa menuju  sumber suara.


   "Ini temenku, Sayang. Nggak apa kan dia tinggal di sini?"


 "Nggak apa, Sayang." Alri mengangguk tidak keberatan.


 "Salaman dulu dan kenalan, dong," perintah Reina.


 Alri menjabat tangan Tisa dan Tisa menjabat tangan Alri. Saat menjabat tangan Tisa, sesekali Alri mengedipkan mata pada Tisa, Tisa yang sadar langsung melepas jabat tangan itu.


   "Gue mau beres-beres dulu, ya, Rein?" Tisa buru-buru ingin pergi dari situ karena ada perasaan yang aneh dengan sikap suami Reina yang sedikit genit.


 "Oke, Tis, semoga lo betah tinggal di sini, ya?"


Tisa mengangguk dan berlalu pergi menuju rumah sederhana itu.


     "Itu cowok gila kali, ya?" tanya Tisa pada diri sendiri saat sudah berada di kamar sembari membereskan pakaian dan memasukkan ke dalam lemari. Dugaan Tisa sementara, suami Reina bukan  cowok baik-baik. Tisa harus mencari tahu, Tisa hanya tidak mau Reina mempunyai pendamping hidup yang tidak setia.


Tok


Tok


Tok


Tisa dengan malas melangkahkan kaki untuk membuka pintu.


   "Ini ada pizza buat kamu dari Reina," kata Alri.


Tisa semakin tidak nyaman dengan kehadiran suami temannya itu. Tisa hanya mengangguk menerima pizza itu  dan mengucapkan terima kasih, lalu menutup pintu tetapi tertahan oleh Alri yang menahan pintu itu.


  "Ada apa lagi?" tanya Tisa judes.


  "Kamu cantik sekali, Tisa."


Ucapan Alri membuat Tisa bertambah jijik. Benar dugaannya tadi kalau Alri bukan cowok baik-baik.


  "Jangan ganggu gue! Inget lo udah punya istri."


Alri menaikkan sebelah alis. "Gue itu tahu lo itu model cewek apa. Ayolah, jangan munafik, Tisa. Gue bisa turutin keinginan lo."


 "Sori, gue nggak tertarik,  apalagi sama suami orang," kata Tisa. "Gue memang hobi rebutin pacar teman, tapi bukan perebut suami orang!"


"Lihat aja nanti," jawab Alri langsung pergi dari hadapan Tisa. Tisa langsung menutup pintu dengan kasar."Dasar udah punya istri masih aja gangguin cewek lain!"