Miss Primadona

Miss Primadona
Bagian 2



Sore telah tiba, Tisa sudah berada di kafe Bintang bersama Ian.


"Ada apa kamu nyuruh aku ke sini?" tanya Tisa penuh tanya.


Ian menatap Tisa serius lalu mengenggam tangan Tisa. "Tis, aku suka sama kamu. Mungkin, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Kamu mau kan jadi pacarku?" Ian mengungkapkan perasaannya pada Tisa. Dan, berharap Tisa mau menerima cintanya. Cowok itu sudah tidak bisa menahan perasaaan yang selama ini dia pendam.


Tisa melepas genggaman Ian. Tisa menggeleng pelan.Dia tak mau dianggap sebagai perebut orang yang disukai temannya.


"Kenapa? Zara, ya? Kita bisa pacaran diam-diam tanpa Zara tahu. Plis, terima aku." Ian kembali menggengam tangan Tisa. Tatapannya penuh keseriusan.


"Tapi-" Tisa tak melanjutkan kata-katanya.


"Udah lah, Tis. Ngapain kamu mikirin Zara? Aku sukanya sama kamu, bukan Zara. Zara bukan tipe aku."


Tisa seolah terbuai dengan rayuan maut Ian. Dan, akhirnya Tisa menerima cinta Ian.


"Oke, sekarang kita pacaran. Kalau di kampus kita harus bersikap biasa. Kalau waktunya tepat, kita bakal kasih tahu Zara yang sebenarnya," gumam Ian senang. Akhirnya, ia bisa berpacaran dengan cewek yang ia idamkan.


"Apa itu nggak menyakiti Zara?" tanya Tisa sedikit ragu.


Ian menggeleng, "Apa kita kasih tahu Zara, besok? Biar dia nggak mengharapkan aku lagi?" Ian menaikkan sebelah alisnya.


Tisa memanyunkan bibirnya. "Jangan, kalau waktunya udah tepat aja. Kalau Zara benci sama aku, gimana?" Di lain sisi, Tisa merasa bersalah pada Zara. Ia sadar, ia sudah menghianati temannya sendiri. Tapi, di lain sisi, ia juga ingin punya pacar-- yang pengertian seperti Ian.


"Makasih kamu udah mau nerima aku jadi pacar kamu. Aku ada sesuatu buat kamu." Ian menyodorkan bunga mawar untuk Tisa. Tisa terharu dengan yang Ian berikan. Ia langsung menerima bunga mawar dari Ian.


"Thanks, Honey," gumam Tisa dengan tatapan berbunga-bunga.


****


Tisa dan Ian  berjalan beriringan dari parkiran menuju kelas. Tepat di  taman kampus, ia melihat Zara menuju ke arah keduanya. Dengan sigap, keduanya menjauhkan langkah mereka.


"Hai," sapa Zara setelah sampai di taman kampus.


"Hai, juga, Ra." Tisa menyapa balik Zara. Ada perasaan takut dalam benaknya. Ya, takut ketahuan kalau sudah berpacaran dengan Ian.


"Kalian berangkatnya bareng?" tanya Zara yang spontan membuat keduanya sedikit shock.


Ian menggeleng pelan, "Nggak, Ra. Tadi nggak sengaja ketemu di parkiran. Jadi, sekalian bareng."


Zara hanya mengangguk. Tak ada kecurigaan dalam hatinya. Ia berpikir se-positif mungkin.


"Yuk, ke kelas," ajak Tisa kemudian mengandeng tangan Zara menuju kelas.


Sesampainya di kelas, Zara duduk di belakang Tisa. Dan, Tisa duduk di depan sendiri—sebelah Ian.


Selang beberapa menit kemudian, Zara menghampiri meja Tisa untuk menanyakan kejelasannya mendekatkannya dengan Ian.


"Tis, gimana udah ada cara buat ndeketin aku sama Ian?"  tanyanya lirih.


Tisa mengancungkan dua jempolnya. "Beres," ucapnya berbohong.


Zara seketika tersenyum. Zara sudah membayangkan rencana Tisa akan berhasil. Dan, sebentar lagi ia akan dekat dengan Ian. Zara sedikit melirik ke arah Ian. Tanpa Zara tahu, bahwa Ian sudah jadian dengan Tisa. Ian yang sadar diperhatikan oleh Zara langsung menengok. Dengan cepat, Zara langsung mengalihkan pandangan dari Ian.