Mia

Mia
SMA (Bab 5)



Rey Masih tertegun di dalam mobil mengingat Mia yang berjalan kaki sejauh itu dan mengetahui rumahnya di sebuah rumah yatim piatu. Dia merasa bersalah, karena telah menghina Mia tadi pagi..


Dia ingin sekali bertemu, dan menanyakan begitu banyak hal kepada Mia.


Rey lalu bergegas turun dari mobil, dan segera masuk ke rumah. Dia berharap, besok bisa bertemu Mia dan meminta maaf..


Keesokan pagi... Jam menunjukkan pukul 10.00. Waktunya istirahat..


Rey terlihat terburu-buru ingin ke toilet. Alangkah kagetnya dia melihat Mia yang baru saja keluar dari toilet perempuan. Mia pun terlihat sama kagetnya. Mia lalu tersenyum kepada Rey..Rey melihat mata Mia sembab seperti habis menangis semalaman. Apakah mia menangis gara-gara gue? ucap rey dalam hati.. Lalu Rey pun langsung masuk ke Toilet seolah-olah tidak mempedulikan Mia..


Didalam toilet, dada Rey bergemuruh. Dia bingung, kenapa dia bisa merasa grogi begini melihat Mia. Mungkin karena dia masih merasa bersalah, pikirnya... Ketika keluar dari toilet, Mia ternyata masih berdiri didekat toilet. Sambil tersenyum lembut, Mia berkata "Kak, aku hari ini sudah ga bau.. Kakak mau saya wawancara?" tanya Mia dengan wajah teduh seperti tidak pernah terjadi apa²..


Rey yang tidak enak langsung menjawab "oke, kapan?" dan dijawab oleh Mia "Nanti siang setelah makan siang bisa kak?"


"OKE" Jawab Rey singkat dan langsung berlalu melewati Mia..


Wawancara selama 30 menit pun selesai. Mia berterimakasih ke Rey dan pamit unruk balik ke Kelas.. Rey pun segera beranjak pergi, Tapi ditahan oleh Andi.


"Rey, tunggu" panggil Andi


"Kenapa?" Tanya Rey


"Lo sudah minta maaf belum ke Mia? Lo udah keterlaluan kemarin rey. Gue ga suka" Tegas Andi


Rey hanya menatap Andi, dan pergi..


Andi hanya terdiam dan menatap punggung Rey..


Waktu pulang sekolah pun tiba. Mia dengan riang berjalan kaki menuju gerbang sekolah. Tanpa dia sadari, dia sudah ditunggu oleh Rey diparkiran. Tentu saja Rey ingin mengikuti Mia kembali. Dia masih penasaran apakah tujuan Mia masih sama...


Dan ternyata tujuan Mia masih sama. Dan dia dapat menyimpulkan kalau Mia memang tinggal disitu. Yang membuat dia bingung, kenapa Mia berjalan kaki sejauh itu. Apakah dia tidak memiliki ongkos. Rey kembali bertanya-tanya...


Keesokan harinya, di hari Sabtu, Mia berpindah lokasi berjualan. Dia berjualan di daerah kawasan taman kota dan olahraga, dimana banyak orang yang berkumpul bersama keluarga menikmati suasana rindang dan berolahraga dengan tenang..


"Kuenya pak bu.. Murah.. Hanya 2 ribu/slice nya.. Mari pak/bu buat ngemil-ngemil sore" Teriak Mia dengan semangat.. Irham yang menemani Mia hari ini pun terlihat bersemangat membantu kakaknya berjualan.


Di Sisi yang berbeda, Nampak beberapa anak muda yang bermain basket.. Mereka nampak grasak grusuk melihat Mia berjualan tak jauh dari lapangan tempat mereka bermain basket.


"Cakep amat tuh yang jualan" ujar salah satu anak muda itu.


"iya bening banget. Ga salah tuh jualan kue?" sahut yang lainnya


Rey yang sedang duduk pun akhirnya terusik.


Dia pun berdiri melihat apa yang diperbincangkan teman-temannya.. Dan seketika dia kaget melihat Mia.. "Mia jualan kue?" ucapnya dalam hati..


Sejak saat itu, mata Rey tak pernah berhenti memantau Mia. Dia melihat hanya sedikit yang tertarik membeli kue jualannya.. Sepertinya orang-orang lebih tertarik membeli minuman.. Lalu Rey mempunyai ide. Diam-diam dia memanggil beberapa orang disekitaran situ, dan memberi mereka uang untuk membeli kue Mia..


Mia dan Irham begitu senang, karena banyak yang membeli kue mereka sampai tak tersisa sedikitpun. Mereka pun segera beberes dan berangkat pulang ke rumah.


Rey melihat dari kejauhan, tersenyum...


(Bersambung...)