
"Bruk!" Rey menendang kursi dengan kerasnya. Dia sangat kesal dan marah, karena sudah menunggu hampir sejam, Tetapi Mia belum datang. Rey merasa di permainkan.
"Awas saja kamu Mia" Ucap Rey dengan mata penuh kemarahan.
Keesokan pagi, Rey langsung menemui Andi dikelasnya. Meluapkan semua kemarahannya ke Andi. Andi yang bingung, hanya mencoba menenangkan Rey
"Sabar bro. Mia kemarin ga masuk. Mungkin dia lagi sakit" Kata Andi.
"Emang dia ga bisa ngabarin apa. Kan bisa whatsap, sms, tlp!" Ucap Rey dengan nada emosi
"Mia ga punya HP" ucap andi singkat
"Heh??!! Hari gini ga punya hp???" Tanya Rey dengan nada tidak percaya
"Tidak semua orang mampu banyak duit seperti elu dodol" Ucap Andi sambil tertawa
Rey hanya bisa tertegun...
Jam menunjukkan 4 sore. Rey sudah tiba di rumahnya yang megah. Sepanjang jalan dia memikirkan kata-kata Rey, Mana ada orang ga punya hp jaman sekarang.. Dia masih tidak mempercayai kata-kata Andi. Apa dia yang memang kurang memperhatikan sekitar ya.. Rey pun mengambil laptop, dan membuka Instagram. Mencari nama Mia. Tapi tidak menemukan satupun yang cocok dengan fotonya. Ah mungkin dia memakai nama lain, ucap Rey dalam hati.
Keesokan harinya, saat jam istirahat Rey tiba-tiba dipanggil Andi ke ruang Osis. Sesampainya di ruang Osis, sudah ada Mia disitu. Rey yang melihat Mia langsung kembali kesal.
"Rey, Mia baru masuk. Lo di wawancaranya sekarang aja ya" Kata Andi
Rey melirik Mia yang duduk dengan muka pucat.
"Kak Rey, maaf kemarin saya lupa ngabarin kalau saya tidak masuk sekolah. sekali lagi maaf ya kak" Ucap Mia sambil menatap Rey
Andi yang melihat sikap Rey, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mia segera mengambil kursi dan duduk agak dekat dengan Rey. Rey yang mencium bau tidak sedap dari baju Mia langsung membentak.
"Kamu bau banget sih! Ga mandi apa! Jangan dekat-dekat" Bentak Rey
Mia yang kaget, langsung mundur. Dia mencium bajunya yang memang beraroma tidak sedap. Bagaimana tidak bau, dia berjalan kaki sejauh 5km agar bisa sampai di sekolahnya. Dia harus berhemat agar adik-adiknya bisa makan.
"Maaf kak". Ucap Mia dengan mata berkaca-kaca, Lalu berlari keluar ruangan.
Andi yang kaget melihat kejadian itu langsung membentak Rey.
"Apa-apaan kamu Rey! Kamu bisa kan menjaga sedikit perasaan orang!" Bentak Andi
Rey yang masih tertegun melihat Mia berkaca-kaca hanya terdiam.
Mia berlari ke Toilet, dan menangis disana. Dia merasa malu dan sedih, kenapa ada orang yang jahat seperti itu. Dan dia juga merasa malu, karena kesekolah dengan baju bau. Dia jadi ga enak dengan teman-teman dikelas tadi pagi yang lebih dulu mencium aroma bajunya. Dia semakin sesenggukan di sudut kamar mandi.
Pukul 15.30 waktunya pulang. Mia berjalan gontai dan berusaha menjauh dari teman-temannya. Dia tidak mau temannya jijik mencium aroma bajunya. Sudah 3km dia berjalan kaki, dia memutuskan untuk istirahat dulu di halte bis. 5 menit kemudian dia melanjutkan berjalan kaki sekitar 2km ke titik angkot yang mengarah ke rumah dia.
Tanpa Mia sadari, sejak dari sekolah ada sesosok pria yang mengintai dibelakang. Ya dia adalah Rey. Rey penasaran dengan Mia. Dan dia merasa bersalah karena mengatakan Mia bau. Karena itu dia memutuskan untuk mengikuti Mia sampai ke rumah. Dia penasaran seperti apa Mia sebenarnya.
Angkot yang Mia naiki, berhenti di depan sebuah rumah makan. Rey melihat Mia turun dan berjalan kaki memasuki sebuah gang. Rey tetap mengikuti dari belakang. Dan Rey terkaget ketika melihat Mia memasuki sebuah rumah yang didepannya bertuliskan Rumah Yatim Piatu ibu Yani. Dia kaget. Apakah Mia anak Yatim Piatu? Apakah Mia anak pemilik Rumah yatim piatu itu? Begitu banyak pikiran yang berkecamuk di kepala Rey