Mia

Mia
SMA (Bab 11)



Mia yang kaget mendapatkan perlakuan Rey seperti itu, hanya diam membisu.. Bibirnya terkatup rapat. Dadanya bergemuruh kencang. Dia belum pernah dikecup oleh lawan jenis sebelumnya.


Rey yang melihat ekspresi mia jadi khawatir. Khawatir dia jadi benci dan jijik padanya. Rey pun bingung. Dia bingung kenapa dia bisa begitu pede mengecup dahi mia. Mengapa dia begitu berani menyatakan perasaan sayangnya terhadap mia. Padahal mereka baru beberapa kali jalan berdua.


Tapi rey menyadari, jika selama berjalan berdua dan beraktifitas bersama, dia merasakan kenyamanan yang sama saat dia bersama mamanya. Ya, kelembutan mia sama seperti kelembutan mamanya.


"Mia.. maaf kalo aku lancang. Maaf banget. aku ga bisa nahan perasaan ku mia. Maaf.. Maaf banget. Kamu marah? Tanya Rey khawatir


"Kak Rey.. Aku masuk dulu ya..." Kata Mia sambil tersenyum. Mia pun berjalan meninggalkan rey yang berdiri kebingungan. Sesampainya di pintu, mia lalu mengambil kunci di tas, setelah pintu terbuka mia pun masuk kedalam. sebelum pintu ditutup, Mia melihat ke depan, lalu melambaikan tangan dengan pelan ke arah rey.


Rey menatap nanar pintu rumah mia yang sudah tertutup.


"Bodoh bodoh bodoh!" Ujar rey kesal yang diucapkannya dalam hati


Rey pun pulang sambil mengendarai mobilnya dengan kencang. Dia begitu kesal terhadap dirinya. Mengapa tidak berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.


Mia berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling. Dia masih kaget dengan kejadian tadi. Dia masih bisa merasakan bibir rey yang dingin mengecup dahinya. Dia masih ingat rey mengucapkan sayang kepadanya. Dia merasa seperti mimpi. Dia ingin mengatakan hal yang sama bahwa dia pun sayang dengan rey., namun dia bingung harus bagaimana. Dia pun bingung mengapa bibirnya tiba-tiba membeku saat itu.


Keesokan harinya, di hari Minggu ya cerah.. Mia baru saja selesai menjemur pakaian. Dia berjalan ke arah dapur, dengan maksud ingin membantu bu Yani memasak.


Sesampainya di dapur, dia tidak menemukan bu yani. Namun di dapur ada sayur kangkung yang belum di potong-potong. Diapun lalu berinisiatif memotong sayur kangkung tersebut. Tidak berapa lama, muncullah bu Yani.


"Eh kamu disini toh nduk" ujar bu Yani


"Semalam pulang jam berapa? Sepertinya kamu harus punya hp nduk. Biar ibu ga khawatir nungguin kamu" Kata bu Yani


Mia hanya diam sambil tetap memotong kangkung.


"Mia.." panggil bu Yani heran


"Eh iya bu? loh ibu kapan ada disini?" jawab mia kaget


"Ealah ndukkk nduk. Dari tadi ibu ngajak ngobrol, kamunya diem aja.. Ternyata lagi ngelamun.. Ada apa? Ayo cerita ke ibu" Selorohnya sambil mengambil ikan dibaskom.


"Ga ada apa-apa kok bu. Mia hanya mikir sekolah aja. Ibu tadi nanya mia apa?" Tanya mia


"ibu lagi mikir mau beliin kamu hp nak. Buat kamu dan irham. Biar ibu gampang hubungin kalian" ujar bu Yani


"ah ibu. Ga usah. Kan kita lagi ga ada uang. Untuk makan aja susah" Kata mia


"Alhamdulillah nak, kemarin ada yang datang. Mau jadi donatur tetap di panti kita" Ujar bu Yani dengan gembira


"Serius bu??? Siapa???" tanya Mia excited


"Namanya bu Clara. Katanya dia memang sedang mencari panti seperti kita ini untuk menyalurkan donasi"


"Gusti Allah baik banget nak. Mengabulkan doa-doa kita" ujar bu Yani


"Alhamdulillahhh ibuuu.. Mia senang sekali dengernya. Aku ga usah dibeliin hp bu. Lebih baik uangnya dipakai buat benerin panti kayak dinding di cat ulang. Karena catnya udah pada ngelupas bu. Beli oven yang lebih besar buat kita bikin kue biar bisa jual lebih banyak" Kata mia dengan semangat


Bu Yani sangat terharu dengan niat tulus mia. Dari dulu dia selalu akan sifat mulia anak itu. Dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia hanya sibuk memikirkan orang lain.


bu yani jadi teringat kejadian belasan tahun silam. Saat dia menemukan bayi didepan rumahnya. Bayi yang sangat cantik, hanya terbungkus kain selimut berwarna pink muda. Dan diatasnya terdapat secarik kertas dengan tulisan "Tolong rawat anak saya. Namanya Mia"..


(Bersambung...)