Mia

Mia
SMA (Bab 14)



Di malam yang sama, Mia berbaring ditempat tidur dengan wajah yang sangat pucat. Kepalanya sangat pusing dan berat, hingga berdiri pun dia tak kuat. Jika ingin biang air kecil, dia harus dipapah oleh bu Yani ke kamar mandi.


Dia diberitahu oleh bu yani, jika tadi siang rey datang ingin bertemu dengannya. Namun bu yani menolak dengan alasan mia sedang tidur dan disarankan besok datang lagi.


Mia senang mengetahui rey datang. Dia sempat khawatir, rey marah atau tersinggung akan sikapnya pada malam itu.


Ketika sedang melamun, bu Yani masuk ke kamar sambil membawa obat. Dia membantu mia meminum obat, lalu mengambil piring bekas mia makan bubur.


"Bu, maaf ya jadi ngerepotin. ibu jadi kerja sendiri" kata mia lemah


"Ehh ibu ga ngerasa di repotin. Lagian ada irham yang bantuin ibu. Udah, kamu istirahat aja yang banyak. Biar cepat pulih" Kata bu Yani


Keesokan harinya, Rey sudah dalam perjalanan ke rumah Mia lagi. Dia melirik kursi di seblahnya yang sudah ada beberapa bungkus makanan, dan seikat bunga untuk Mia.


Tak berapa lama, Sampai lah dia didepan rumah mia. Dia lalu bergegas turun. Sambil mengucapkan salam, dia menunggu di depan pintu. Tidak berapa lama, pintu di buka oleh seorang anak kecil. Dia lalu berkata


"halo kak rey. Mau ketemu sama kak mia yaaaa" tanyanya dengan riang. karena sering datang, anak-anak panti sudah hapal dengan rey.


"Bu yani mana dek?" tanya rey


"Ibu lagi dikamar kak mia. Sebentar ya saya panggil". ucapnya sambil berlari kecil.


Sambil menunggu bu Yani, rey meletakkan makanan yang dia bawa ke kursi tamu. Tak berapa lama, bu Yani keluar dengan raut wajah khawatir.


"Nak rey, untung kamu datang. Ibu bisa minta tolong?" tanya bu yani terburu-buru


"Mia dari tadi muntah-muntah nak. Ibu khawatir. Kamu bisa tolong bawa mia ke klinik terdekat? Ibu takut mia kenapa-kenapa" Ucap bu yani


"Iya bu, saya bawa mia ke IGD sekarang" kata rey cepat


Rey lalu mengikuti langkah bu yani ke arah kamar Mia. Sesampainya dikamar, Rey melihat mia terbaring dengan lemas dengan wajah yang sangat pucat.


Rey lalu mendekati mia. Dia memegang dahi mia, dan sangat kaget karena suhunya sangat panas.


Rey meminta izin bu yani agar bisa menggendong mia ke mobil. Bu Yani mengizinkan. Rey lalu mengangkat badan Mia, dan sekuat tenaga menggendongnya sambil membawa ke mobil.


Bu yani membantu membukakan pintu mobil. Dengan lembut rey mendudukkan mia di kursi. Dia lalu pamit ke bu Yani. Bu Yani tak bisa ikut, karena tidak ada yang menjaga anak-anak di panti.


Sesampainya di IGD sebuah rumah sakit, rey dengan cekatan menggendong mia turun dari mobil. Setelah memastikan mia di tangani oleh tenaga medis dirumah sakir itu, rey lalu mengurus administrasi. Dia mengerti dalam pengurusan seperti ini, karena dia terbiasa menemani mamanya ketika berobat.


Setelah 30 menit, rey dipanggil dokter. Rey menjelaskan mengapa keluarga mia tidak ada yang mengantarkan. Karena dokter hanya mau menjelaskan detail penyakit mia kepada keluarga.


Akhirnya dokter pun menjelaskan jika Mia didiagnosa terkena radang lambung akut yaitu gerd. Dia bertanya apakah mia sering telat makan atau sedang stres.


Rey bingung untuk menjawabnya. Tetapi setahu dia, memang mia jarang makan.


Akhirnya Dokter menyarankan untuk rawat inap. Tanpa pikir panjang rey mengiyakan dan menyatakan dia yang akan menanggung semua biaya perawatan mia.


(Bersambung...)