Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Perasaan yang Sama



Medelline merasakan kehampaan dan kekosongan yang besar saat Cyrano kembali ke dasar laut. Beberapa waktu ia habiskan sebelum kapal berlayar kembali di tepi teluk Orelia. Gadis itu merenung sambil memandangi permukaan air. Berharap merman yang ia rindukan, muncul kembali.


Esok, Kapal di mana Medelline dan ayahnya bekerja akan kembali berlayar. Lagi-lagi, gadis bermata indah itu menghela napas dalam-dalam di tepi teluk Orelia. Ia mencelupkan kakinya yang te*anjang ke dalam air laut. Menggoyangkannya.


Medelline tersentak saat merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Ia mulai berteriak-teriak. Panik. Beberapa saat kemudian, ia melihat kepala Cyrano menyembul dari dalam air. Tertawa.


"Kau ingin aku cepat mati, Cyra?"


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Jantungku seperti hampir meloncat keluar!" Medelline mengusap dadanya perlahan.


"Maafkan aku, Meddy! Aku ingin membuat kejutan untukmu. Tetapi malah membuatmu takut."


Medelline tersenyum. Jauh di dalam hatinya, ia sangat bahagia saat melihat kehadiran Cyrano. Namun teringat dia harus pergi, sesuatu berdesir perih di dalam rongga dada.


"Aku merindukanmu, Meddy! Aku tidak bisa tenang sedikit pun di dasar laut tanpamu!"


Medelline hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Artinya, rasa rindu dan rasa sukanya tidak sepihak. Tanpa berkata apa-apa, ia menyergap Cyrano. Memeluknya seperti tidak pernah bertemu dengan makhluk itu begitu lama. Terharu. Air mata bahagia mengalir di sudut matanya.


"Aku ... aku juga, Cyra. Setiap waktu, hatiku selalu menarikku untuk datang ke sini. Menanti wajahmu muncul dari bawah permukaan laut. Itu sangat menyiksaku. Seolah-olah aku ingin menjadi mermaid dan mencarimu di dasar laut sana."


Cyrano tersenyum, ia membalas pelukan Medelline dengan hangat.


"Kau tidak perlu menjadi sepertiku. Itu tidak bagus untukmu. Biar aku yang menjadi manusia. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan berjalan bersamamu."


Medelline terkejut, ia melepaskan pelukannya.


"Sakit? Bagian mana? Maafkan aku, Cyra."


"Untuk apa meminta maaf, aku dengan senang hati menahan rasa itu untukmu."


"Kau tahu, aku makin ingin mengubah diriku sepertimu."


Cyrano naik ke batu tempat di mana Medelline duduk. Ia mengusap lembut puncak kepala gadis yang ia cintai itu.


"Aku sering berandai-andai ingin menjadi manusia atau Nereid saja. Tidak ada yang menghargaiku sebagai seorang merman di Mertopia."


Medelline menggapai tangan Cyrano dan menggenggamnya lembut.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"


"Maukah kau menjadi bagian hidupku, Meddy? Dan membiarkanku menjadi seorang manusia."


"Terserah padamu saja, Cyra. Aku akan mendukung semua keinginanmu."


Kedua makhluk itu berpelukan erat dan lama di atas batu tadi. Mereka melampiaskan segala kerinduan yang mengganggu pikiran mereka. Kemudian, Medelline berlari pulang, mengambil pakaian untuk Cyrano. Ia berpamitan pada ayahnya untuk tidak ikut kembali berlayar. Dengan alasan ingin bekerja dan mencari pengalaman di daratan.


Kapal tempat ayah Medelline baru saja berangkat berlayar. Sementara gadis dengan rambut berwarna tembaga itu, berlari menuju teluk Orelia. Memanggil-manggil nama Cyrano di permukaan air laut. Hingga duyung jantan itu muncul.


Setelah menahan rasa sakit dan panas di bagian bawah tubuhnya. Cyrano memakai pakaian yang dibawakan Medelline.


"Ayo, kita cari cara biar aku bisa menjadi manusia selamanya."


"Kau yakin dengan itu, Cyra?"


"Aku sudah membulatkan tekad. Meninggalkan Mertopia untukmu, Meddy!"


Beberapa saat kemudian, sepasang kekasih baru itu telah berjalan beriringan. Bergandengan tangan dan saling memandang dengan penuh cinta.


Cyrano dalam wujud manusia, sangatlah tampan, terlihat seperti seorang bangsawan yang menyamar. Kulitnya bahkan terlihat sangat cemerlang. Beberapa gadis yang melihatnya, terpana. Sehingga memantik cemburu Medelline.


"Aku tidak bisa melarang orang lain untuk memandangku, Meddy. Tetapi tenanglah, di mataku ini hanya ada kamu dan kamu!"


Medelline sangat senang mendengar penuturan Cyrano. Ia memeluk lengan laki-laki itu, berjalan mantap dan yakin.


Setelah berjalan beberapa lama, Medelline dan Cyrano sampai di sebuah tempat. Di tempat tersebut, ada ratusan buku yang tertata rapih. Mereka berdua mengangguk kepada seorang laki-laki paruh baya yang menjaga tempat tersebut.


Medelline dan Cyrano berjalan ke arah rak yang berbeda. Kemudian, gadis itu berjalan cepat sambil memeluk sebuah buku dengan bahan perkamen tebal. Tersenyum lebar dan menunjukkan benda di tangannya kepada laki-laki yang ia sukai tersebut.


Tertulis di sana, Mermaid, Segala Mitos dan Di mana Bisa Menemukan Mereka.


"Aku dulu pernah menemukan beberapa informasi tentang mermaid, di sini, Cyra. Aku belum sempat membacanya menyeluruh."


Cyrano mengajak Medelline duduk di sudut ruangan. Mereka berdua mulai sibuk membaca dan mencari informasi.


"Tetapi di sini, tidak semua informasi tentang Mermaid itu benar, Meddy. Contohnya seperti ini, di sini dikatakan, semua Mermaid memakan manusia. Padahal aku tidak." Cyrano terlihat kesal.


Medelline tertawa.


"Mungkin, penulis buku ini belum pernah bertemu dengan Merman sepertimu, Cyra!"


"Ya, dan Mermaid yang bisa menyanyi merdu memang hanya kaum Sireneid. Tidak semua Mermaid."


"Oh, begitu."


Medelline terbelalak saat membaca tulisan di sebuah halaman lain.


"Cyra, lihat ini! Apakah ini benar-benar bisa?"


"Apa? Mana? Mana?"


Medelline menunjukkan halaman yang baru saja ia baca.


"Seorang ahli ramuan di teluk Aegeis? Aku belum pernah mendengarnya sebelum ini, Meddy."


"Kita tidak akan tahu sebelum kita mencoba!"


Medelline menutup buku tebal itu, lalu menyeret lembut Cyrano.


"Mau ke mana?"


"Ke teluk Aegeis. Ke mana lagi?"


Sang penjaga perpustakaan terkejut saat mendengar perkataan Medelline.


"Kalian yakin akan ke sana, Anak muda?"


"Ke Aegeis? Tentu saja, Paman."


"Yang aku dengar, di sana banyak makhluk dan monster yang belum pernah terbayangkan oleh manusia."


"Paman jangan khawatir. Laki-laki yang bersamaku ini, laki-laki yang hebat."


Cyrano merasa bahagia diperlakukan begitu istimewa oleh Medelline. Dengan beberapa koin emas yang dipunyai Medelline, mereka bisa menyewa dua buah kuda.


"Kau yakin bisa mengendarai itu, Cyra?"


"Mereka tidak terlihat beda dengan kuda laut yang sering aku tunggangi."


Medelline terpingkal-pingkal saat Cyrano mengendalikan kudanya. Penuh kerja keras dan perjuangan.


"Jangan meremehkanku!"


Beberapa saat kemudian, dua orang tadi sudah berkejaran dengan kuda menuju teluk Aegeis. Mereka juga membawa perbekalan secukupnya. Sebetulnya, menuju ke sana adalah hal mudah bagi Cyrano jika lewat jalur air. Mermaid adalah perenang cepat. Namun, Medelline tidak bisa bersamanya di dalam air. Itu alasan ia lebih memilih jadi manusia.


Saat matahari hampir terbenam, keduanya hampir sampai di tempat tujuan. Medelline mencari kayu bakar di sekelilingnya. Mereka berdua memutuskan untuk bermalam di sebuah gua pantai yang mereka temukan. Esok setelah hari menjadi terang, mereka akan meneruskan perjalanan kembali ke teluk Aegeis.


Medelline reflek memeluk lengan Cyrano saat mendengar kemerisik dari balik semak di belakang mereka.


"Apa itu monster, Cyra?"


Bersambung ....