Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Celah



Odahinu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Cyrano. Memunculkan gambar pada cermin ilusi. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh Merman tingkat tinggi. Di Mertopia, hanya Triton yang bisa melakukannya. Karena memang putra Poseidon.


"Ini, Paman ... aku hanya ...."


Odahinu masih memandang takjub pada Merman muda di hadapannya.


"Saya baru pernah melihat ini dilakukan orang lain. Jadi, apakah Anda juga bisa membuat ilusi untuk orang-orang yang telah tiada?"


"Aku tidak bisa, aku hanya bisa melihat orang-orang yang masih hidup lewat ini, Paman."


"Baiklah."


Keyakinan Odahinu pada Cyrano makin bertambah. Ia tambah berambisi untuk membuat laki-laki itu menjadi penguasa Mertopia. Meski dengan cara apa pun.


Cyrano menghapus cermin ilusi. Odahinu menyuruhnya duduk.


"Anda yakin bahwa Anda benar-benar tidak mampu menyingkirkan Raja yang sekarang?"


"Apa maksudmu, Paman. Raja sekarang? Ayahku maksudnya?"


"Ya! Anda mempunyai kekuatan yang hampir sama dengan Raja Triton. Anda yang pantas mewarisi takhtanya. Saya bisa mengusahakan agar Baginda segera turun takhta."


"Maksudnya?"


"Apa pun! Agar Baginda tidak menguasai kerajaan ini lagi."


Emosi Cyrano memuncak. Ia memandang tajam pada Odahinu.


"Untuk apa memaksaku menggunakan cara apa pun untuk menjadi raja, Paman? Jadilah raja sendiri! Jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang keji!" Cyrano berkata dengan ketus. Mendekatkan wajahnya pada Odahinu.


"Anda pikir saya melakukan ini untuk siapa?"


"Aku tidak butuh itu semua!"


"Apa Anda lupa? Bagaimana rakyat Mertopia memandang Anda selama ini? Dengan kekuatan di tangan Anda. Rakyat akan bertekuk lutut."


"Cukup, Paman! Kenapa bukan Paman saja yang menjalankan itu semua, lalu jadi raja?"


"Andai saya bisa, Pangeran! Sayangnya saya hanya rakyat biasa di Mertopia! Bukan keturunan Dewa Olympus atau peri laut!"


Cyrano sangat marah. Ia tidak mau amarahnya membuat kekacauan lagi. Dengan cepat, ia berenang menjauh. Menuju permukaan air. Rasanya begitu sesak tinggal di dasar laut sana.


Beberapa pasukan Merman mengejar Cyrano atas perintah Odahinu. Namun, laki-laki itu begitu muak. Tidak ingin kembali ke Mertopia lagi. Ia membelokkan arahnya, menuju celah terlarang. Ingin menyepi beberapa waktu di sana.


Pasukan Merman tidak bisa menemukan Cyrano di mana pun. Kecepatan berenangnya memang paling unggul di antara Merman. Nyaris sempurna sebagai setengah Mermaid dan Nereid.


Cyrano masuk ke dalam sebuah gua laut di celah terlarang. Ia begitu takjub melihat tempat tersebut. Banyak tanaman laut dan binatang laut yang baru ia temui. Nyanyian Siren terdengar di sana. Begitu indah.


Cyrano mengikuti suara merdu tadi. Hingga ia menemukan seorang Siren yang sedang bernyanyi. Lagu magis itu hanya bisa mempengaruhi manusia. Tidak penghuni laut lain. Namun ia hanya penasaran.


"Kau siapa? Kenapa kau ada di sini?" tanya Siren tadi.


"Harusnya, aku yang bertanya. Kenapa Siren sepertimu ada di tempat ini."


Siren dikenal sebagai makhluk dengan wujud yang sedikit "liar" ketimbang Mermaid. Namun, Siren yang satu ini berbeda. Ia memiliki ciri fisik Siren, tetapi wajahnya memiliki karakter khas Mermaid.


"Apa kau tersesat ke celah ini? Kau juga tidak terlihat seperti Siren atau Mermaid biasanya."


Cyrano mengulurkan tangan pada makhluk di depannya.


"Aku Cyrano, siapa namamu? Ya, aku memang setengah Mermaid."


"Oh, aku ... Melody. Aku juga setengah Mermaid."


Cyrano terkejut. Ia kembali memandangi Melody dari atas sampai bawah.


"Maaf, kau campuran Mermaid dan Siren?"


Melody mengangguk. Meletakkan Lyra di tangannya. Berenang mendekati Cyrano. Memandangi laki-laki itu dari atas sampai bawah.


"Kau setengah apa?" tanya gadis itu.


"Nereid."


Melody menganggukkan kepala, tanda mengerti.


"Pantas saja, kau terlihat lebih cemerlang daripada Mermaid biasanya."


Cyrano dan Melody tertawa bersama.


"Kau seperti menirukan semua perkataanku," celetuk Cyrano di sela tawa.


Sementara itu, di daratan, Medelline baru saja selesai membereskan beberapa peralatan makan dari meja-meja pelanggan.


"Kau yakin, kau masih sanggup Meddy? Perutmu semakin besar."


"Ya, Nyonya. Saya baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." Medelline tersenyum.


Luciana senang mendapatkan partner kerja seperti Medelline. Namun, ia juga khawatir hal buruk bakal terjadi jika perempuan muda itu bekerja dengan keadaan seperti itu.


Seseorang baru saja tiba di kedai. Ia memanggil pelayan. Medelline tergopoh-gopoh mendekat.


"Medelline?"


Medelline terkejut dengan laki-laki yang baru saja datang.


Bersambung ....