
Meski tidak banyak orang yang hadir, Medelline sangat bahagia. Cyrano menikahinya di kuil Dewa Zeus. Bahkan sang dewa pun mengutus seorang dewi minor untuk menghadiri pernikahan cucu-keponakannya. Memberkati keduanya dengan sebuah hadiah.
Setelah acara sakral usai. Cyrano memberikan beberapa keping sisik ikan yang ia cabut sendiri dari ekornya. Sehingga mereka bisa mengadakan pesta kecil-kecilan di kedai di mana Medelline bekerja.
Orang-orang berpesta hingga semalam suntuk.
Di dunia bawah laut, Odahinu merasa sangat marah saat ia mendengar laporan dari salah satu anak buahnya. Kabar yang membuat ia makin membenci manusia. Cyrano meninggalkan kesempatan untuk naik takhta demi menikahi seorang manusia.
Bukan tanpa sebab, Odahinu sangat membenci manusia. Seandainya dewa-dewi tidak mempunyai aturan untuk melindungi manusia, tentu ia akan berburu manusia untuk membalas dendam.
Dulu, Odahinu yang menikahi seorang mermaid tercantik di Mertopia, sangat bahagia. Ia terus-menerus menuruti keinginan-keinginan kecil istrinya. Pada suatu hari, sang istri memintanya untuk menemani ke daratan. Mermaid itu terpikat dengan sebuah pulau yang indah.
"Ini bisa menjadi tempat persinggahan kita jika kita lelah di 'bawah sana', Suamiku."
"Ya, benar. Aku pun memikirkan hal tersebut."
Odahinu dan istrinya telah berganti menjadi sosok manusia. Mereka berjalan-jalan di pulau terpencil tersebut. Keduanya sangat bahagia, menikmati kehidupan baru menjadi suami-istri.
"Sayang, apakah pulau ini sungguh aman untuk makhluk seperti kita?"
"Tentu saja, istriku. Makhluk yang paling serakah, menurutku adalah manusia. Tetapi kau tenang saja, mereka tidak akan ada di pulau ini."
"Syukurlah, Suamiku."
Tanpa tahu yang sesungguhnya, pasangan itu tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Odahinu dan istrinya terkejut saat melihat manusia dengan pakaian yang baru pernah mereka lihat. Pakaian seadanya khas suku pedalaman. kepala suku dan pendetanya tahu, bahwa mereka adalah manusia jelmaan duyung.
Odahinu awalnya tidak mau meninggalkan istrinya saat ada peluang untuk meloloskan diri dari manusia. Ia ingin melindungi wanita itu. Namun, sang istri tetap memohon agar dia pergi.
Saat Odahinu menoleh dari balik semak, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya tewas dibunuh oleh manusia-manusia tadi. Dengan hati yang hancur, ia kembali ke lautan. Semenjak itu, di dalam hatinya. Ia ingin membalas dendam pada manusia.
"Aku harus membunuh manusia-manusia itu, Tuanku."
"Jangan, kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk itu. Aku, Poseidon. Yang akan mengurusnya untukmu. Sekarang pulanglah ke kerajaan. Menjadi abdi untuk keturunan-keturunanku di dunia bawah laut sana."
Odahinu datang beberapa saat kemudian. Memandangi tumpukan tulang sang istri di sebuah sudut pulau. Orang-orang yang menyantap daging istrinya, mati keracunan. Karena ketidaksengajaan mereka memasukkan tanaman beracun ke dalam masakan mereka.
Setelah mengumpulkan banyak batu, Odahinu mengubur tulang belulang istrinya dengan batu-batu yang dikumpulkannya.
"Aku sungguh membenci makhluk serakah seperti kalian, manusia!" teriak Odahinu melepaskan segala amarahnya.
Odahinu kembali tersadar dari lamunannya. Ia segera memerintahkan beberapa prajurit Merman untuk mengikutinya ke daratan.
"Aku akan membawa pulang anak nakal itu dan menjadikannya satu-satunya pewaris takhta Triton."
Seperti menyadari sesuatu, Cyrano mengarahkan pandangannya ke lautan. Ia terlalu lelah karena berpesta dan menghabiskan malam pertama bersama Medelline di rumah sederhana tak jauh dari pantai itu.
Medelline masih berselimut dan memejamkan mata, saat Cyrano beringsut bangun dari ranjang. Benar dugaannya, mereka melihat beberapa laki-laki dengan baju zirah. Lambang kerajaan di dada mereka, ia kenali.
Cyrano berlari keluar menghadang pasukan tersebut.
"Ada apa lagi, Paman?"
"Pulanglah, Pangeran. Hubunganmu dengan manusia juga tidak akan pernah bisa berhasil."
"Apa maksudnya, Paman?"
"Anda tidak ingin kembali ke Mertopia karena perempuan itu, bukan? Maka lebih baik aku menghabisi perempuan itu untuk membuat Anda kembali pulang."
"Jangan berani-berani, kau sentuh dia, Paman!"
Cyrano mulai mengeluarkan kekuatannya, tetapi Odahinu mengancamnya. Tombak tiga mata pisau terhunus ke wajah Medelline.
"Jika kau tetap melawan, aku akan memastikan bahwa perempuan itu tidak akan hidup!"
"Jangan, Paman! Jangan! Aku mohon! Kau boleh memintaku untuk melakukan apa saja. Tetapi, tolong jn lepaskan istriku."
"Istri?" Odahinu tertawa keras, mengejek.
Odahinu berjalan mendekati Medelline. Ia menempelkan senjatanya di pipi gadis tersebut.
"Ternyata, selera Anda begitu buruk, Pangeran. Ia tidak secantik Mermaid yang saya tawarkan kepada Anda tempo hari."
"Hati wanita itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan Mermaid mana pun."
Medelline terdiam memandangi suaminya yang dibawa pergi pasukan Merman. Menahan tangisnya untuk menguatkan laki-laki yang dicintainya. Ia tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi. Perempuan itu merosot, terduduk setelah rombongan tadi menjauh. Kemudian terisak.
Tadi malam, Medelline masih merasakan sentuhan-sentuhan mesra Cyrano. Kehangatan dekapannya, tawa renyah dari bibir indah laki-laki itu. Serta segala keintimannya. Namun, ia harus dipisahkan begitu saja, pagi ini. Air mata membanjiri wajah cantiknya.
Di luar, saat perjalanan menuju laut. Cyrano yang melihat seorang Hamadriad, mengirimkan kode dengan sihir yang ia pelajari bersama sang bibi. Mengirimkan sinyal meminta pertolongan dengan jentikan jarinya. Tidak ada yang menyadari hal tersebut, termasuk Odahinu yang berada di dekatnya.
Seorang wanita cantik dengan pakaian warna-warni, mendatangi Medelline yang masih menunduk, duduk dalam tangisan.
"Hai, Sayang. Apa kau baik-baik saja?"
"Si-siapa kamu?"
"Aku adalah peri pohon. Kau mungkin tidak mengenaliku, tetapi aku tahu siapa dirimu. Ikutlah aku!"
Medelline tetap bergeming, memandangi wanita dengan pakaian yang mencolok tersebut.
"Di sini adalah wilayah kekuasaan Ratu Merine, aku tidak berani berbuat macam-macam dengan istri dari keponakannya."
"Kau tahu Ratu Merine? Apa beliau yang mengutusmu?"
"Tidak, suamimu yang meminta pertolongan untukmu ."
Medelline bangkit dari duduknya, mengusap air matanya. Kemudian, ia mengikuti peri pohon tadi. Mereka berdua berjalan menuju sebuah gua. Gadis itu memandangi tempat yang sepertinya ia kenali.
"Ini ...."
"Ya, jalan masuk ke dasar laut Aegeis! Tunggu sebentar, Sayang."
Peri tadi meniupkan sesuatu di telapak tangannya. Serbuk keemasan melayang di udara. Membentuk kupu-kupu yang berpendar. Kemudian, kupu-kupu emas itu terbang dengan cepat, masuk ke dalam gua.
"Aku baru saja mengirimkan simbol bangsa kami, untuk meminta bantuan para Nereid. Pangeran Cyrano pasti juga menginginkan dirimu di bawah perlindungan Ratu Merine, bibinya. Karena memang bahaya jika kau tetap di pondok tersebut."
Tak berapa lama kemudian, dua orang gadis mengenekan gaun berwarna biru laut keluar dari dalam gua. Mereka memberi hormat pada Medelline.
"Mari ikut kami, Yang Mulia!" Kedua gadis itu mengucapkan ajakan bersamaan.
Bersambung ....