
Vaelia mengedarkan pandangan. Gadis itu mendatangi sebuah tempat yang gelap di sebuah sudut Mertopia. Ia mengangkat penutup jubahnya dan bergegas menuju celah terlarang.
Celah terlarang adalah tempat di mana terumbu karang berdiri tak beraturan. Yang terletak di sebuah bermuda. Konon, tempat itu didiami oleh monster bawah laut. Tempatnya para penyihir gelap Mertopia bersembunyi. Mermaid yang mempunyai kekuatan sihir jahat dari klan Sireneid yang terbuang.
Vaelia sampai di sebuah gua. Ia menurunkan penutup kepalanya dan masuk. Di dalam, ia menemui seorang mermaid dengan ekor berwarna gelap. Sisiknya seperti sisik ular. Taring pendek menyembul dari kedua ujung bibirnya.
"Aku harus bangga atau sedih? Keturunan Poseidon datang ke tempatku dengan sukarela."
"Kau tidak perlu membahas itu. Aku membutuhkan kemampuanmu."
"Kau tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini."
"Aku tahu itu. Cepat ambilkan saja yang kuinginkan."
Mermaid penyihir tadi, tertawa keras. Kemudian ia berenang menuju sebuah rak batu. Tangannya mencari-cari sesuatu di antara deretan-deretan botol. Kemudian, matanya menemukan botol kecil berisi cairan berwarna hijau.
"Ini adalah ramuan yang terbuat dari bisa ular Aipysurus berumur ratusan tahun. Dewa sekali pun, tidak akan bisa bertahan jika meminumnya." Duyung dengan wajah tirus dan bengis tadi, mengulurkan sebuah botol kecil pada Vaelia.
Vaelia terbelalak, ia takjub dengan warna cairan hijau cemerlang dalam botol di tangannya.
Tanpa disadari gadis tersebut, seekor kepiting melihat dan mendengar percakapan kedua mermaid di tempat tersebut. Ia bergegas pergi, ingin melaporkan apa yang dilihat pada merman yang dikenalnya.
Kepiting itu berusaha berenang cepat. Namun, tubuhnya yang kecil membuatnya kesusahan.
"Ah! Mengesalkan! Kenapa Cyra begitu jauh?" sungutnya. Kemudian, binatang itu menabrak seekor ikan Marlin.
"Hati-hati kala berenang!" gerutu Ikan tadi.
"Marley! Maaf, aku sedang terburu-buru. Ini berita penting untuk Cyra."
"Berita penting apa?"
"Sebaiknya kau tolong aku agar cepat sampai di sana."
"Baiklah. Berpegangan pada ekorku!"
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Cyrano. Si kepiting menjelaskan panjang-lebar tentang apa yang dilihat dan didengarnya. Marley sangat terkejut, ia mempercepat gerakan renangnya.
Sesampainya di tempat Cyrano, mereka tidak menemukan duyung laki-laki tersebut.
"Bagaimana ini? Cyra tidak ada di sini, Marley."
"Mungkin ia masih berada di istana."
"Kalau begitu, ayo, kita ke sana!"
Baru saja kedua binatang laut itu beranjak pergi. Beberapa meter kemudian, mereka bertemu dengan Cyrano.
"Syukurlah, kita bertemu, Cyra!"
"Ada apa Marley?"
Marley menceritakan apa yang diceritakan kepiting. Cyrano tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Namun, ia berbalik dan cepat-cepat kembali ke istana.
"Cyra, kau mau ke mana?"
"Kembali ke istana, Marley. Terima kasih atas ceritamu!"
Kedua binatang tadi saling berpandangan. Mereka belum sempat mengatakan identitas mermaid yang membawa ramuan berbahaya tadi.
Sesampainya di istana, penjaga keheranan saat melihat Cyrano berenang secepat kilat menuju tempat tersebut.
"Apa tabib sudah datang?"
"Sudah, Tuan."
Tanpa memedulikan pertanyaan penjaga, Cyrano berenang cepat menuju kamar sang Ayah. Ia menarik napas lega setelah melihat ayahnya masih bernapas. Matanya tertuju pada cairan berwarna hijau di meja kecil tak jauh dari ranjang.
Cyrani meraih ramuan tersebut. Mengendusnya. Selama beberapa hari, ia menunggui ayahandanya. Membuatnya hapal betul dengan ramuan yang diminum sang raja. Kenyataannya, bau ramuan itu berbeda. Tanpa berpikir panjang, ramuan itu dibuangnya ke sebuah pot tanaman laut.
Dengan waktu yang singkat, ia meihat tanaman itu layu lalu mengering.
"Perempuan itu sudah gila karena takhta?" gumam Cyrano.
Dengan gerakan renang yang cepat, Cyrano pergi ke tabib kerajaan. Meminta tabib tersebut membuatkan ramuan vitamin. Warnanya persis sama dengan ramuan mengerikan tadi.
Cyrano menukar ramuan. Selang bebe, menit, Triton bangun. Vaelia datang. Seorang pelayan istana meminumkan ramuan yang telah ditukar oleh Cyrano. Namun, Vaelia menganggap itu racun yang telah ia siapkan.
Detik-detik menegangkan adalah saat Vaelia melihat ayahnya menghabiskan ramuan. Gadis itu pun mulai menghitung di dalam hati. Kemudian ia heran saat begitu lama waktu berlalu, tetapi Triton masih sehat-sehat saja. Mengobrol bahagia dengan Cyrano.
"Apa Kakak sakit? Kenapa diam saja? Kalau Kakak sakit, aku akan meminta tabib menyediakan obat."
Vaelia merasa kesal. Ditambah lagi, perkataan Cyrano yang ia tangkap seperti sindiran. Kemudian ia melihat ekspresi wajah adiknya itu. Ia melihat laki-laki itu melengkungkan senyum, mengejek.
Cyrano tersenyum lega saat ia bisa menyelamatkan ayahnya dari percobaan pembunuhan. Ia harus berterima kasih kepada kepiting yang dengan patriotis, melapor padanya. Ia berjanji dalam hati, akan memberikan hadiah yang sepadan.
Di tempat lain, Odahinu terdiam. Ia berpikir bagaimana cara untuk menghabisi Triton, agar Cyrano bisa cepat-cepat naik takhta. Laki-laki itu berusaha mencari kesempatan untuk mencelakakan sang raja. Namun, lagi-lagi, para dewa masih melindungi Triton lewat perantara putranya.
Cyrano awalnya tidak sanggup menghadapi konfrontasi paman dan saudarinya. Ia duduk di sebuah reruntuhan kuil dasar laut. Teman-teman binatang laut yang berseliweran di sekitarnya, tidak ia pedulikan. Namun, Marley si ikan Marlin, dengan setia, menungguinya.
Seorang laki-laki menghampiri Cyrano, ia tidak berekor seperti dirinya. Namun, anehnya, laki-laki itu bisa bernapas di dasar laut. Tubuhnya kekar, wajahnya tampan berkharisma. Ia duduk di sebelah Cyrano.
"Aku tahu, kau begitu hebat dan akan menjadi penguasa yang bijaksana. Teruslah berusaha dan berjuang, anak muda."
"Siapa Anda?"
"Nanti, kau akan tahu, siapa aku. Yang terpenting, aku datang untuk memberikanmu sesuatu. Itu semua karena kebaikan hatimu dan kegigihanmu."
Laki-laki tadi terlihat tidak asing bagi Cyrano. Melihat wajah tampan miliknya. Namun, ia belum tahu, siapa sebenarnya pria yang sedang berbicara dengannya.
Cyrano membiarkan laki-laki tadi menyentuh ekornya.
"Saudaraku telah memberikan sebuah berkah saat pernikahanmu. Tetapi itu akan menjadi milik istrimu, karena ia yang lebih membutuhkan. Maka dari itu, aku akan memberikan berkahku. Anggap saja, ini hadiah perkawinanmu dariku."
Cyrano belum menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah kakeknya. Penguasa lautan di semesta. Poseidon. Dewanya segala makhluk dalam laut.
"Kau akan menjadi seekor duyung yang disegani di seluruh lautan, kelak." Poseidon menggerakkan jarinya, membuat ekor Cyrano bercahaya. Kemudian memberikannya sebuah ikat pinggang yang menempel langsung ke kulit, saat dipakai.
"Kau akan mewarisi segala sihir milik kedua bangsa yang mengalir dalam tubuhmu. Karena kau mungkin tidak tahu, nenekmu juga seorang Nereid."
"Sungguh? Bagaimana Anda bisa tahu, Tuan?"
Laki-laki tadi tertawa, lalu melayang pergi. Menghilang.
Dahi Cyrano berlipat-lipat. Ia masih memikirkan siapa laki-laki tadi.
"Cyra, kau gila? Kau tidak mengenali laki-laki tadi?"
"Memangnya dia siapa Marley?"
"Kakekmu! Saudara Zeus, penguasa seluruh lautan di semesta. Poseidon!"
"Sungguh? Kau jangan bercanda, Marley!"
"Aku tidak bercanda! Kau mendapatkan berkah darinya!"
Cyrano melongo, tidak percaya.
...Bersambung .......