
Medelline kembali berjalan dari kuil Dewa Zeus. Setelah perempuan tua berpakaian nelayan pergi, ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya di tempat lain. Meski ia tidak bisa jauh dari lautan. Di hatinya, masih tertumpuk rasa kecewa pada ayahnya. Yang memintanya membuang buah cintanya bersama Cyrano.
Setelah berjalan cukup lama menyusuri jalan berbatu, Medelline sampai di sebuah perkampungan yang juga tak jauh dari lautan. Hanya saja, tempat itu tak terjangkau ombak yang tinggi karena tempatnya juga tinggi. Namun, debur ombak masih terdengar dari tempat tersebut.
Memulai dari awal, tidaklah mudah. Apalagi, Medelline tidak membawa apa pun, selain dirinya sendiri. Ia menemukan sebuah kedai yang sangat ramai. Mencium aroma makanan, membuatnya makin lapar.
Medelline mendekati perempuan yang ia anggap pemilik kedai. Perempuan dengan penutup kepala yang khas. Wajahnya begitu ramah selalu berhias senyum. Tangannya sibuk membawa makanan di nampan, ke sana ke mari.
"Nyonya, aku sangat lapar. Tetapi aku tidak punya apa pun, apa kau bisa mempekerjakanku, agar aku bisa membayar makananku?"
Perempuan tadi, memandangi Medelline dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau mau bekerja keras? Kalau ya, kau diterima dan bisa bekerja hari ini juga."
Medelline tersenyum gembira. Ia langsung mengambil alih nampan dari tangan perempuan itu.
"Ke mana aku harus mengantarkan ini?"
Setelah perempuan pemilik kedai menunjukkan tempatnya, ia kembali masuk mengantar pesanan lain.
Hari makin larut. Medelline kelelahan, ia duduk di sudut kedai yang sudah ditutup. Memakan makanan yang diberikan pemilik kedai dengan lahap. Perempuan pemilik kedai tersenyum, lalu duduk di hadapannya.
"Kau kabur dari rumah atau bagaimana? Gadis secantik dirimu, kenapa memilih bekerja di tempat seperti ini?"
Medelline meletakkan kembali potongan rotinya ke nampan.
"Aku hanya tidak ingin membuat repot ayahku. Karena aku sedang mengandung bayi."
Perempuan tadi terkejut.
"Kau hamil? Dan tadi kau bekerja sekeras itu demi makanan ini?" Kemudian perempuan itu menitikkan air mata.
"Aku ... aku tidak selemah yang kau bayangkan, Nyonya. Aku ...."
"Aku teringat dengan putriku. Ia meninggal karena melahirkan putranya. Ia juga bekerja keras saat hamil. Suatu hari, ia bilang bahwa ada laki-laki br*ngsek yang menipunya. Dan aku gagal melindungi putriku."
Medelline menepuk-nepuk punggung tangan Nyonya pemilik kedai dengan lembut.
"Aku, Luciana. Kau boleh bekerja di sini. Lalu kau mau upah berapa? Aku tidak bisa memberikan upah banyak. Kau tahu betul bukan?"
Medelline tersenyum.
"Kau cukup memberiku makanan untukku, Nyonya Luci. Setidaknya untuk nutrisi anakku. Untuk uang atau upah lainnya, aku tidak mempermasalahkan."
"Apa kau punya tempat tinggal?"
Medelline menggeleng.
Luciana meminta Medelline untuk mengikutinya setelah selesai makan. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di sebuah ruangan sempit di belakang kedai. Tepat di sebelah dapur yang tidak jauh dari sebuah kamar agak besar.
"Tidak terlalu luas. Ini dulu tempat putriku tidur. Aku tidur di ruangan itu. Kau bisa tidur di sini. Oh, iya. Siapa namamu?"
"Terima kasih, Nyonya. Ini lebih dari cukup. Aku akan bekerja keras membantumu. Namaku Medelline."
"Ah, nama yang indah!"
Medelline merebahkan tubuhnya dalam ruangan kecil tersebut, setelah Luciana kembali ke kamarnya. Deru angin dan debur ombak terdengar dari kamar tersebut. Ia memandang langit-langit kamar, hingga terlelap.
Saat matahari terbit, kedai mulai buka. Banyak pelanggan yang sudah datang. Beberapa pelanggan mengagumi kecantikan Medelline. Namun dengan sikap keibuan, Luciana melindunginya dari tangan-tangan usil pelanggan. Bahkan perempuan itu memukul beberapa pemuda yang berusaha menyentuh perempuan yang bekerja padanya.
"Kau boleh menggodaku, tetapi jauhkan tangan dan mulut usilmu dari anakku!" sergah Luciana pada salah seorang pelanggan.
Medelline baru saja menanyakan pesanan pada dua orang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan yang baru saja datang. Ia mendengar percakapan kedua orang tersebut. Yang ternyata nelayan. Mengeluhkan laut yang setelah beberapa hari masih bergejolak. Jika itu terus berlanjut, mereka akan kehilangan sumber mata pencaharian.
Setelah menutup kedai lebih awal, Medelline meminta ijin Luciana untuk pergi keluar sebentar.
"Apa perlu aku temani?"
"Tidak perlu, Nyonya."
Medelline berjalan menuju ke teluk Orelia. Setengah jam perjalanan dari tempatnya tinggal sekarang. Lautan masih belum tenang. Saat ia duduk di batu, gelombang besar menuju ke arahnya. Tiba-tiba muncul sesosok perempuan bercahaya, menahan gelombang lalu memecahnya.
"Jangan mendekati perairan terlebih dulu, itu berbahaya!"
"Siapa kamu?"
"Aku adalah seorang Nereid penjaga teluk ini. Ratu meminta kami berjaga-jaga di tempat di mana manusia mungkin bisa celaka."
"Jadi, kamu baru kali ini ada di sini?"
"Ya."
"Apa yang terjadi hingga lautan seperti ini?"
"Pasukan Mertopia menyerang tempat tinggal kami. Kami berusaha bertahan, sehingga terjadilah fenomena alam ini."
"Tunggu! Jadi, Cyrano juga terlibat masalah ini?"
"Justru karena kami melindungi pangeran. Ia dituduh berusaha membunuh penguasa Mertopia. Raja Triton. Kami tidak percaya bahwa pangeran mampu melakukan hal keji tersebut. Bangsa Nereid tidak menyukai pertikaian, tetapi jika kami diserang. Kami melawan."
Medelline tertegun dengan penjelasan Nereid tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka hal tersebut menjadi penyebab kekacauan lautan. Itu artinya, Cyrano tidak muncul beberapa waktu yang lalu, karena masalah itu.
Sekali lagi, Medelline menangis. Ia merasa bersalah. Mungkin saja Cyrano berusaha menemuinya di Teluk ini, beberapa hari yang lalu. Namun, ia tidak bisa.
Medelline berlari menuju perairan. Ia tidak peduli meski nereid tadi mencoba menahannya. Perempuan itu berteriak-teriak memanggil nama Cyrano. Ombak menjulang tinggi di hadapannya, tetapi ia tidak takut sama sekali. Peri laut berupaya melindunginya dengan membuat perisai energi. Bergegas menjauhkannya dari tepi laut.
"Ini sungguh berbahaya. Aku tidak bisa melindungimu terus-menerus, Nyonya. Pulanglah! Saat lautan membaik. Datanglah kembali ke mari."
"Tidak! Tidak! Aku ingin bertemu suamiku. Aku ingin melihatnya, aku mohon!"
"Tolong jangan keras kepala dan dengarkan aku! Kami sedang berusaha mengatasi kekacauan ini. Demi kebaikan bangsa kami dan manusia juga."
Sang Nereid menahan Medelline, menjauhkan perempuan itu dari amukan gelombang tinggi. Namun, ia malah terus-menerus meronta. Beberapa Nereid di sekitar perairan tersebut yang mendengar, muncul ke permukaan.
"Ada apa?"
"Dia adalah istri pangeran, ia ingin menemui pangeran. Lindungi dia! Aku takut pasukan Merman juga akan mengincarnya. Aku heran, kenapa tenaga manusia bisa sekuat itu?"
Beberapa Nereid menahan Medelline yang terus berusaha menceburkan diri di permukaan air laut yang mengamuk. Seperti tidak takut kepada kematian, perempuan itu terus berusaha meloloskan diri.
Serombongan Merman, muncul dari gelombang yang tinggi. Berenang cepat mendekati Medelline.
Bersambung ....