
Odahinu baru sampai di Mertopia. Di gerbang istana, Vaelia sudah berdiri dengan senyuman sinis menghiasi bibirnya.
"Jadi ... bagaimana Paman? Apa menyenangkan bertemu dengan makhluk-makhluk darat itu?"
"Maksud Tuan Putri?"
"Aku sudah dengar tentang kerusuhan kecil di daratan. Aku sudah menduga, anak laki-laki itu memang selalu menyusahkan, bukan?"
Odahinu malas meladeni putri sulung Triton itu. Hatinya sudah dipenuhi dengan kekesalan atas kekalahannya di daratan. Hal yang paling mengecewakan baginya, Cyrano yang ia harapkan malah berpihak pada manusia dan melindungi mereka.
"Sayang sekali, Paman. Begitulah kalau darahnya sudah terkotori. Sifatnya pun tidak murni lagi. Mau bagaimana lagi?"
Vaelia tertawa mengejek saat pergi dari hadapan Odahinu. Tentu saja, hal itu membuat sang panglima geram. Tanpa melapor terlebih dulu ke istana, dirinya segera pulang ke kediaman sendiri.
Di kediamannya, Odahinu berenang mondar-mandir. Ia memikirkan cara untuk tetap membuat Cyrano menjadi calon terkuat pengganti sang raja, kelak. Kemudian, ia ingat betul, kenapa seorang pangeran mermaid tersebut begitu menyukai manusia.
"Itu semua karena ulah gadis manusia itu! Aku akan mengadakan seleksi untuk pemilihan pasangan untuk pangeran."
Tanpa membuang waktu, Odahinu segera memerintahkan bawahannya untuk mencari mermaid-mermaid muda yang berbakat dan menarik. Selama beberapa hari, gadis-gadis mermaid keluar-masuk kediaman panglima untuk seleksi.
Vaelia mendatangi kediaman Odahinu. Menyusup di antara gadis-gadis Mermaid lainnya. Saat ia begitu dekat dengan Merman tersebut, ia tertawa.
"Jadi ... Paman mengadakan pesta dan tidak mengundangku? Ayolah, Paman! Itu tidak mengasyikkan."
Odahinu sangat kesal dengan perkataan-perkataan Vaelia yang terus menyudutkannya.
"Atau ... jangan-jangan, Paman lelah menyendiri?"
"Tuan Putri! Jaga sikap Anda! Saya memang bawahan sang raja. Tetapi Anda tidak berhak memperlakukan orang yang lebih tua seperti ini. Benar-benar tidak beradab! Mertopia tidak akan pernah punya ratu seperti Anda!"
Mendengar balasan Odahinu, Vaelia begitu kesal. Ia hampir saja mengeluarkan senjata. Namun ia berhenti saat hadirin yang di sana, mulai memandangi dirinya dengan tatapan kesal. Saat ini, yang terpenting, ia harus membuat kesan yang baik untuk penduduk Mertopia. Ia pun terpaksa mengalah kali ini.
Lagi-lagi, Vaelia pergi dengan nada tawanya yang menghina. Odahinu hanya mampu menahan emosinya dengan menggenggamkan tangan erat.
Setelah beberapa mermaid terpilih dianggap layak, Odahinu menyuruh mereka untuk tinggal di paviliun kediamannya. Menunggu Cyrano untuk memilih salah satu di antara mereka.
Odahinu bermaksud mencari Cyrano. Berenang secepat kilat menuju laut Aegeis. Ia berkesimpulan bahwa, merman muda itu pasti tinggal di kampung halaman ibu kandungnya.
Saat perjalanan menuju laut Aegeis, secara tidak sengaja, Odahinu melihat sosok Cyrano yang berenang cepat menuju permukaan. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengejar.
Cyrano terkejut ketika melihat Odahinu muncul ke permukaan. Sesaat setelah ia duduk di batu kesukaannya di teluk Orelia.
"Paman? Apa yang Paman lakukan di sini?"
"Menjemput Anda, Pangeran."
"Aku? Untuk apa aku pulang ke sana?"
"Ada hal yang harus Pangeran selesaikan."
Odahinu berusaha menarik tangan Cyrano untuk berenang pulang ke Mertopia. Namun, Merman muda itu menolak. Ia menciptakan pusaran-pusaran air kecil untuk menghalau sang panglima. Tentu saja, Merman itu terpental menjauh.
"Pangeran! Anda harus kembali, menikahi seorang Mermaid dan naik takhta! Posisi itu tidak cocok untuk Mermaid sombong itu!"
"Pulanglah, Paman! Aku sudah bilang bahwa aku tidak tertarik dengan jabatan apa pun di tempat itu."
Cyrano mengeringkan diri, hingga wujudnya berubah menjadi manusia. Ia berjalan ke tepian, menyambar beberapa semak untuk menutupi tubuhnya yang telan*ang. Seorang gadis Driad pada akhirnya, membantunya. Membuatkan pakaian dari kulit kayu dengan sihir.
"Suatu kehormatan bagi kami untuk menolong Anda," ucap peri tersebut setelah Cyrano mengucapkan terima kasih.
Cyrano berjalan ke tempat-tempat yang menurutnya mungkin ada Medelline di sana. Ia bertekad untuk menemukan gadis itu dan menikahinya. Beberapa gadis yang dilewati, tertarik dengan fisiknya. Mengerling dan menggoda. Namun, laki-laki itu tidak memedulikan itu semua.
Medelline baru saja menurunkan beberapa pesanan dari nampan yang ada di tangannya. Gadis itu bekerja di sebuah kedai makanan dan minuman. Gerakan yang gesit dan tangannya cekatan, membuatnya disukai banyak orang. Kedai itu pun sangat ramai didatangi pelanggan.
Cyrano mencari ke sana ke mari, tanpa berbicara sedikit pun. Hingga ia melihat seorang nenek tua yang keranjangnya tumpah. Beberapa barang berhamburan. Laki-laki itu segera mendekat untuk menolong manusia tersebut.
"Tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya, Anak muda."
"Syukurlah. Mari saya antarkan ke tempat Nyonya tuju."
"Terima kasih."
Perempuan berusia lanjut itu mengamati Cyrano dari atas sampai bawah.
"Aku baru melihatmu di daerah sini. Apa kamu bukan orang sini?"
"Bukan, Nyonya. Saya berasal dari sana." Cyrano menunjuk ke arah laut.
"Oh, kampung nelayan. Tetapi aku baru pernah melihat penduduk sana berkulit secemerlang dirimu. Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"
"Saya mencari seseorang."
Nenek tadi tersenyum.
"Siapa? Apa ia seorang keluarga, kerabat atau gadis?"
"Dia ... gadis yang saya cintai."
"Ah, ya. Masa muda memang masa-masa yang indah."
"Ya, Nyonya. Dia adalah gadis manusia yang cantik dengan rambut semerah tembaga. Matanya indah berbinar. Gerakan tangkas dan menyenangkan."
"Tunggu! Aku seperti mengenali gadis yang kau sebutkan itu."
"Benarkah, Nyonya?"
"Ya, bisa jadi. Rumahku sudah dekat dari sini. Jika gadis itu yang kau maksud. Mungkin itu gadis yang sama yang pernah kukenal. Ia bekerja di sebuah kedai tak jauh dari sana." Wanita tua itu menunjuk sebuah jalan.
Setelah Cyrano melambaikan tangan pada wanita tua tadi, ia bergegas ke arah yang ditunjuk. Setelah berjalan beberapa saat, ia menemukan sebuah kedai yang ramai. Hatinya bahagia, saat matanya menangkap sosok gadis yang ia cintai.
Perlahan, Cyrano duduk di sebuah bangku kosong di sudut kedai. Ia segera melambaikan tangan dan memanggil pelayan. Medelline bergegas mendatangi pelanggan. Ia tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini ia rindukan.
"Maaf, Tuan. Apa yang akan Anda pesan?"
"Segelas cinta dan semangkok rindu, adakah?"
Cyrano menoleh, memandang wajah Medelline dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Tidak perlu seperti itu! Ini sungguh tidak lucu!" Medelline berbalik, kesal. Namun, dengan cepat, Cyrano menangkap tangan gadis itu.
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu seumur hidupku, Meddy."
"Pergilah!"
Orang-orang di kedai itu mulai menoleh ke arah sepasang kekasih tersebut. Seperti terganggu.
Cyrano malah berlutut.
"Medelline, maukah kau menikah denganku?"
Semua orang di kedai itu terkesiap. Medelline malah terkejut. Gadis itu menoleh, memandang pada laki-laki yang berlutut di hadapannya. Tidak percaya.
"Jangan bercanda!"
Bersambung ....