Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Keteguhan Hati yang Dipertanyakan



Ketika hujan telah berhenti dan segala kekacauan cuaca reda, Cyrano kembali ke wujud manusia. Tubuhnya terasa lemas. Banyak energi yang ia keluarkan untuk mengendalikan badai tadi. Beberapa Nereid sudah kembali ke laut Aegis terlebih dulu. Hanya tersisa berapa, Panglima perang mereka dan wanita tua ahli ramuan yang juga Nereid.


Driad dan Hamadriad telah kembali ke posisi mereka masing-masing. Segera, setelah peristiwa tadi usai.


Terhuyung-huyung, Cyrano mendekati Medelline. Ia memeluk gadis itu dengan erat. Hampir saja perempuan yang ia cintai itu tewas karenanya.


"Kau tidak apa-apa, Meddy? Apakah ada yang sakit?"


"Aku baik-baik saja, Cyra. Tidak ada, bahkan tidak ada lecet sekali pun."


"Syukurlah."


"Tuan, Anda harus ikut dengan kami ke lautan Aegis. Pemimpin kami ingin menemui Anda." Seorang Nereid menyela pembicaraan mereka berdua.


Medelline melepaskan pelukan Cyrano.


"Pergilah, Cyra!"


"Tetapi, bagaimana dengan dirimu, Meddy?"


"Aku tidak apa-apa. Aku akan kembali ke perkampungan. Mencari tempat tinggal dan bekerja di sana. Atau menunggu kapal ayahku kembali dan berlayar."


"Kenapa kau berbicara seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi, Meddy?"


Cyrano berbicara pada panglima Nereid, meninggalkan Medelline sebentar. Dari kejauhan, perempuan itu terlihat mengangguk-angguk.


"Ayo, kita pergi bersama ke laut Aegis, Meddy!"


Medelline tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Sungguh? Aku boleh ikut?"


"Ya, tentu saja!"


Setelah melambaikan tangan kepada sang ahli ramuan dan kucingnya, keduanya berjalan dikawal oleh pasukan Nereid. Dengan sihir mereka, perjalanan menuju pintu gerbang Aegeis lebih cepat.


Rombongan tadi, sampai di sebuah gua di tepi pantai. Panglima Nereid mengetuk tepi gua dengan tangannya. Pendar cahaya keluar dari gua tersebut.


"Mari, masuk!" perintahnya.


Medelline dan Cyrano berjalan masuk ke dalam gua yang berselubung cahaya. Ternyata, di dalam gua itu begitu indah. Stalagmit dan stalagtitnya terbuat dari kristal berwarna-warni. Beberapa tumbuhan langka juga tumbuh di sana.


"Ini adalah jalan masuk jalur lain. Seorang Nereid, dengan sihirnya, sebetulnya tidak membutuhkan hal seperti ini. Namaku Delmarie, aku panglima pasukan Nereid." Wanita Nereid itu melirik kepada Medelline.


"Jadi, kita lewat sini karena aku?" bisik Medelline pada Cyrano.


"Bisa jadi. Aku juga sekarang berwujud manusia, bukan?"


"Ah, ya. Ternyata begitu."


Setelah melewati anak tangga menurun yang berjumlah banyak, rombongan tadi sampai di sebuah lorong. Samping kiri dan kanan terlihat seperti akuarium, banyak ikan dan hewan laut berenang ke sana ke mari.


"Selamat datang di negeri kami, Tuan dan Nona!"


Medelline sangat takjub. Baru kali ini, ia bisa melihat lautan dalam dengan tetap bernapas seperti di daratan. Tentu saja itu berkat sihir dari bangsa Nereid.


Istana di dalam laut itu terlihat seperti snowball. Dilindungi dengan perisai tipis tetapi kokoh seperti kaca. Lorong tadi terhubung dengan gerbang di sisi lain. Medelline sangat takjub dengan pemandangan yang terhampar di hadapannya.


Sebuah kota kecil, mengelilingi istana. Ramai, seperti ibukota di dunia manusia. Medelline tidak berhenti berdecak saat melihat beberapa macam bangsa Nereid. Mereka terlihat sangat rupawan. Baik laki-laki maupun perempuannya. Kulit mereka sangat cemerlang dengan rambut yang berkilau.


Alunan musik Lyra dan harpa terdengar memanjakan telinga. Medelline seperti merasa bahwa dirinya di surga.


Beberapa gadis Nereid, terlihat tertarik dengan Cyrano. Mereka melambaikan tangan dengan antusias pada laki-laki tersebut.


Wanita dengan mahkota yang berkilauan di atas kepalanya, berjalan masuk ke ruang tersebut. Beberapa dayang, mengiringinya. Medelline sangat terpukau dengan keelokan pemimpin bangsa peri tersebut.


Setelah ratu duduk di singgasananya, semua memberi hormat dengan menganggukkan kepala dan telapak tangan kanan menyentuh dada kiri.


"Ternyata, keponakanku sangat tampan. Kau mewarisi mata dan warna rambut ibumu, Cyrano. Aku adalah Merine. Penguasa lautan Aegeis."


"Bagaimana Yang mulia tahu, ibu saya?"


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah adik kandungku sendiri."


Cyrano tercengang saat mendengar perkataan sang ratu.


"Jadi ... saya juga bukan putra dari nereid sembarangan?"


"Tentu saja! Kau adalah keturunan yang mulia di negeri ini. Dan kau juga putra raja di belahan laut sana."


"Tetapi mereka tidak menyukai saya, Yang mulia."


Medelline tertunduk selama mereka berdua berbicara. Ia merasa bahwa mereka tidak memerhatikannya sama sekali. Gadis itu merasa bersedih.


"Ah, ya. Karena terlalu antusias, aku sampai melupakan gadis di sebelahmu, Cyrano. Siapa dia?"


"Dia adalah gadis yang saya cintai, Yang mulia. Manusia yang sangat baik hati."


"Ah, ya! Ya! Cinta anak muda yang menyenangkan untuk didengarkan. Tetapi apakah kalian sadar bahwa mungkin saja kalian tidak bisa bersatu?"


Medelline mendongakkan kepala. Kini air mata menggantung di sudut mata indahnya.


"Ah, maaf! Maaf, bukan maksudku untuk berkata kasar padamu, Sayang. Aku hanya khawatir jika nasib yang menimpa Penelope, adikku, akan dialami olehmu juga."


"Tidak, Yang mulia. Itu memang benar adanya. Kami berbeda. Itu masalahnya." Medelline kembali menunduk.


Cyrano meraih tangan Medelline, menggenggamnya erat.


"Tidak boleh berkata seperti itu. Kau sudah berjanji untuk bersamaku selamanya, Meddy. Tidak peduli apa pun yang terjadi."


Medelline terdiam. Tidak berbicara lagi.


Setelah mengobrol sedikit banyak dengan ratu Merine. Cyrano bahagia mendengar sekelumit cerita tentang ibunya. Hak itu membuatnya lega. Setidaknya, ibu dan ayahnya bukan keturunan sembarangan. Bukan pula perempuan murahan biasa dari bangsa Nereid, seperti yang sering dikatakan kakaknya Vaelia.


Cyrano baru saja keluar istana bersama Medelline. Beberapa nereid perempuan, memandanginya dengan rasa tertarik. Mereka melambaikan tangan dan menggodanya dengan senyuman dan kerlingan mata.


Medelline masih tertunduk, ia masih berpikir bahwa perkataan Ratu Merine tadi, sangat benar. Ada banyak perbedaan dirinya dengan Cyrano. Gadis itu kesal saat melihat laki-laki di sampingnya tersenyum saat para Nereid perempuan menggodanya.


"Ya, apa yang dikatakan Ratu Merine benar tadi! Mungkin kau lebih cocok bersama gadis Nereid, Cyra. Sama-sama makhluk dunia bawah!"


Medelline berlari, kesal. Meninggalkan Cyrano yang kebingungan. Ia sangat membenci laki-laki itu sekarang. Baginya, semua terasa sia-sia. Gadis itu terus berlari melewati lorong menuju gua tepi pantai yang dilewati tadi.


Cyrano bermaksud menyusul Medelline. Ia ingin tahu apa kesalahannya. Namun, seorang pelayan istana memanggilnya. Ratu Merine memintanya untuk duduk bersama di jamuan makan malam.


Sesampainya di luar gua, Medelline menangis. Hatinya terasa sakit, dadanya sesak. Ia merasa bodoh telah terlanjur mencintai seorang Merman. Tidak sadar bahwa dirinya dan Cyrano lahir dan tumbuh di dunia yang berbeda.


Cukup lama Cyrano tinggal di Aegeis. Karena ia tidak mungkin kembali ke Mertopia setelah kejadian tempo hari. Namun, ia teringat bahwa hari ini ia harus menemui Medelline di teluk Orelia, seperti biasa.


Cyrano duduk di batu yang biasanya digunakan Medelline duduk. Akan tetapi, sampai matahari tenggelam pun, gadis itu tidak datang. Laki-laki itu kembali ke Aegeis dengan perasaan kecewa.


Di perjalanannya kembali ke Aegeis, Cyrano berpikir bahwa ia akan kehilangan Medelline selamanya jika ia diam saja. Ia pun bergegas kembali ke teluk Orelia.


Bersambung ....