
Keesokan paginya, Odahinu sudah bersiap dengan beberapa barisan pasukan Merman. Ia membawa perintah raja Triton untuk menjemput sang pangeran di bawah laut Aegeis.
Vaelia harus merasakan kekecewaan sekali lagi, melihat hal tersebut. Ia tidak berhasil menghasut sang ayah, seperti yang ia bayangkan. Itu artinya, gadis itu harus berusaha lebih kuat untuk merebut takhta untuk dirinya sendiri.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, Paman Odahinu? Kenapa kau lebih percaya dengan anak yang darahnya ternoda itu?" gumam Vaelia.
Setelah melalui perjalanan yang sedikit panjang, Odahinu dan rombongan pasukan, telah sampai di perbatasan laut Aegeis. Kawasan kekuasan Nereid. Melihat rombongan Merman datang, seorang penjaga perbatasan dari bangsa Nereid mendekat.
"Ada kepentingan apa kalian ke sini?" tanya gadis berbaju zirah tadi dengan ketus.
"Kami datang membawa perintah Raja Mertopia, Raja Triton. Untuk membawa pulang Pangeran Cyrano."
"Ratu kami memerintahkan untuk mengusir merman mana pun yang datang ke sini."
Odahinu tertawa sangat keras. Ia merasa direndahkan oleh seorang penjaga perbatasan kerajaan.
"Kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara?"
"Aku tidak peduli, meski Raja Triton datang. Perintah Ratu Merine yang aku dengar."
"Minggir!"
Odahinu merangsek masuk perbatasan bersama rombongan pasukannya. Membuat kocar-kacir pasukan Nereid.
Seorang pasukan Nereid bergegas melapor ke istana tentang apa yang terjadi di perbatasan.
"Panggil Panglima perang ke sini!" perintah Ratu Merine.
Ratu memerintahkan pasukan terkuatnya untuk menjaga perbatasan. Apa pun yang terjadi, pasukan Merman tidak boleh mengambil Cyrano. Sikap utusan Mertopia itu dianggap telah mengganggu keamana Aegeis.
Pasukan Nereid berangkat menuju perbatasan.
"Ada apa ini, Bibi?"
"Kau tidak perlu khawatir, kau tidak perlu kembali ke Mertopia. Tinggallah di sini lebih lama."
"Apa pasukan Mertopia datang untukku, Bibi?"
Ratu Merine mengangguk.
Di perbatasan kerajaan, prajurit dari kedua bangsa bertarung habis-habisan. Mereka mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Sama-sama kuat dan sama-sama gesit. Sihir bangsa Nereid meluncur ke sana ke mari. Pasukan Mertopia bergerak meliuk, terus menghindar tembakan sihir.
Di daratan, pertarungan kedua bangsa menimbulkan badai lautan yang sangat dahsyat. Gelombang tinggi yang menghantam pantai. Pusaran air. Petir menyambar-nyambar.
Keadaan buruk di lautan tersebut, berdampak buruk untuk manusia yang mempunyai mata pencaharian di sekitar laut dan pantai. Juga binatang-binatang laut, yang masuk ke sarang masing-masing. Khawatir ikut terombang-ambing air laut yang terguncang.
Kehebohan di perbatasan, membuat Triton yang kembali jatuh sakit, khawatir. Ia merasa sangat menyesal, jika banyak makhluk laut yang harus jadi korban karena ketidakbecusannya memimpin Mertopia.
"Aku harus ke sana, sekarang juga. Pengawal, siapkan beberapa pasukan utama!" Triton bergegas menuju perbatasan meski kekuatannya melemah.
Kedatangan Triton dengan pasukan penjaganya, malah dianggap sebagai undangan perang oleh bangsa Nereid. Beberapa pasukan bantuan dari berbagai sudut Aegeis tiba juga. Pertarungan kedua ras, makin sengit.
Di tempat lain, Robert yang baru saja turun dari kapalnya, berjalan menuju tempat tinggal Medelline. Cuaca yang buruk, membuat kapal tempatnya bekerja harus merapat ke dermaga kembali. Namun saat ia sampai di rumah kecil tempat putrinya tinggal, bangunan sederhana itu telah porak-poranda diterjang gelombang tinggi. Suasana perkampungan di tepi pantai itu pun sunyi.
Robert berpapasan dengan warga yang mengais puing-puing rumahnya. Ia bertanya, ke mana para penduduk yang tinggal di perkampungan tepi pantai tersebut.
Setelah mendapatkan informasi dari orang tadi, Robert berjalan menuju sebuah bukit kecil tak jauh dari pantai. Menurut keterangan laki-laki yang berpapasan dengannya tadi, sebagian penduduk mengungsi di bukit itu. Bukit kerang.
Sekitar satu jam berjalan, Robert melihat tenda-tenda darurat dengan bahan seadanya di bukit kerang. Seorang gadis berwarna tembaga, membawa sebuah nampan berisi roti-roti kering yang baru saja matang. Laki-laki tersebut, tersenyum lega.
Medelline senang saat melihat kedatangan ayahnya. Ia bahagia, karena Robert selamat dari cuaca buruk. Perempuan itu, meminta sang ayah duduk di bawah sebuah tenda. Kemudian, ia mengulurkan roti kering dengan saus tomat untuk laki-laki yang mulai menua itu.
"Syukurlah, Ayah selamat. Aku khawatir, tetapi aku juga harus membantu menyelamatkan warga, Ayah. Maafkan aku, pergi dari rumah itu."
"Tidak masalah, Meddy. Yang terpenting, kau selamat. Sehat, tanpa kurang suatu apa pun."
Medelline berlari keluar tenda. Ia mengeluarkan isi lambungnya. Dari tadi, ia sudah menahan rasa mual yang menderanya. Ia menunduk setelah merasa lega. Tanpa disadari, Robert membuntutinya dari belakang.
"Apa kau sakit, Meddy?"
Medelline menggelengkan kepala. Ia bangkit, tetapi sempoyongan, hampir jatuh. Robert berhasil menangkapnya.
"Kau yakin kau baik-baik saja, Putriku?"
"Ya, Ayah. Ayah tidak perlu khawatir. Aku hanya butuh minum hangat sedikit."
Meski tidak yakin dengan ucapan sang putri, Robert mengangguk. Ia memapah Medelline untuk berbaring di tenda pengungsian.
"Kau istirahat saja, Meddy."
Angin di luar bertiup sangat kencang, Robert menunggui putrinya yang terlelap. Ia mendengar Medelline menangis saat mata gadis itu masih terpejam. Ia merasa ada sesuatu yang tidak berers terjadi pada perempuan yang berbaring di hadapannya.
Keesokan harinya, Robert terbangun. Ia tidur dengan posisi duduk di dekat Medelline. Ia melihat tempat itu sudah kosong. Ia memutuskan untuk bangkit, keluar dari tenda. Tanpa sengaja, melihat seorang perempuan paruh baya memijit-mijit tengkuk putrinya.
Medelline berulang kali memuntahkan isi lambungnya yang berwujud cairan. Perutnya masih kosong. Robert bergegas mendekat.
"Meddy, beristirahatlah. Ayah akan membopongmu ke dalam tenda." Robert mengangkat tubuh putrinya. "Terima kasih, Nyonya," ucapnya pada perempuan paruh baya yang menolong Medelline tadi.
Merasa khawatir, Robert berjalan dari tenda ke tenda, bertanya apa ada tabib di antara mereka. Seseorang di tenda umum, mengatakan ada beberapa ahli pengobatan di tenda tersebut.
Robert terkejut saat tabib itu menceritakan apa yang ia ketahui.
"Putri Anda bukan sakit biasa. Ia sedang mengandung."
"Mengandung? Anda yakin, Tuan?"
"Ya, saya sangat yakin bahwa Medelline sedang mengandung."
"Tetapi, bagaimana bisa?"
Sang tabib tersenyum.
"Itu biasa terjadi, Medelline sudah menikah beberapa waktu yang lalu."
"Menikah?"
Robert berjalan cepat menuju tenda. Ia melipat tangan di dada, memandang putrinya yang duduk bersandar pada tiang tenda.
"Kenapa kau tidak mengabari ayah tentang pernikahanmu, Meddy?"
"Itu ... itu karena mendadak, Ayah."
"Siapa suamimu? Apa dia pemuda sembrono yang kabur setelah tahu kau hamil?"
"Dia tidak seperti itu, Ayah. Ia belum tahu kalau aku sedang mengandung."
"Bagaimana bisa?"
Medelline menundukkan kepala. Terdiam cukup lama. Bergeming.
"Dia sebenarnya adalah seorang Merman, Ayah."
"Cukup, Meddy! Ayah lelah dengan segala imajinasimu tentang makhluk mitologi itu! Ayah muak!"
Medelline menangis, mengelus perutnya penuh cinta.
Bersambung ....