Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Hati yang Tertawan



Medelline turun ke dek kapal terbawah saat pagi buta. Ia membawa beberapa ikat selada yang didapatnya dari dapur kapal. Ia melihat permukaan air dalam kotak masih tenang. Hampir saja gadis itu mencelupkan wajahnya ke dalam air, tetapi Cyrano muncul.


"Aku kira kau sudah melarikan diri, Cyra."


"Melarikan diri? Dari apa?"


"Kau takut kumakan, mungkin."


Cyrano tertawa.


"Gadis sepertimu, mana mungkin bisa melawanku?"


"Hei, jangan sombong! Kau mungkin kuat di lautan, tetapi aku makhluk daratan! Kau tidak bisa apa-apa di daratan, lihatlah sekelilingmu."


"Baiklah, baiklah! Aku takut padamu!"


Medelline mengulurkan beberapa ikat selada kepada Cyrano.


"Makanlah ini, kalau kau lapar. Ini jatah sayuranku selama seminggu di kapal ini."


"Tetapi ... kau makan apa?"


"Aku? Ini cukup." Medelline menujukkan sebuah apel merah yang besar.


"Lalu, apa yang kaulakukan di kapal ini, Meddy?"


"Aku membantu ayahku, terkadang membantu awak kapal lain. Kadangkala menjadi pelayan juga."


"Bukankah kau sudah kuberi sesuatu kemarin?"


"Aku baru bisa mendapatkan uang jika kapal ini merapat di sebuah dermaga. Kebetulan, bibi pemilik toko emas akan turun di pemberhentian berikutnya dan menukar emasku."


"Baiklah."


"Apa hanya sisik ekormu yang bisa jadi emas?"


"Semua sisik, tetapi itu hanya di ekorku."


Medelline memandangi Cyrano dari ekor sampai ke kepala.


"Ah, ya!"


Tanpa disadari oleh Medelline, seorang laki-laki membututinya. Laki-laki itu terbelalak saat melihat siapa yang berbicara dengan keponakannya itu. Ia berjalan merunduk, agar lebih dekat dengan mereka. Menguping percakapan mereka.


"Sisik jadi emas? Ini sangat mengesankan! Aku harus mendapatkan makhluk itu!" gumam laki-laki tadi. Kemudian ia berdiri dan muncul di hadapan Cyrano dan Medelline.


Cyrano dan Medelline terkejut saat ada seseorang melihat mereka. Merman itu tidak sempat bersembunyi.


"Paman, apa yang kaulakukan di sini?"


"Kenapa kau sangat egois? Menguasai makhluk itu sendirian? Kau bisa memberikannya untukku juga, kita akan kaya, Meddy!"


"Apa maksud paman?"


"Aku tahu, sisik makhluk itu bisa menjadi emas, bukan?"


Laki-laki tadi mendekati kotak kayu, ia ingin menarik keluar makhluk itu dari air. Medelline berusaha menghalang-halangi, tetapi pamannya mendorong kuat, hingga gadis itu terjatuh.


Cyrano bisa saja melawan, dengan kekuatannya mengatur cuaca untuk menggoyangkan kapal. Namun ia khawatir akan mencelakai Medelline juga. Ia meronta saat laki-laki tadi menarik keluar dirinya dari air.


"Tidak, Paman! Jangan! Aku mohon!" teriak Medelline ia menepis tangan pamannya yang mencengkeram lengan Cyrano.


Cyrano sudah jatuh tersungkur di lantai. Ia kesakitan, bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Panas, seperti terbakar. Menahan teriakan, ia mengatupkan bibir.


Medelline dan pamannya terkejut saat melihat ekor Mermaid itu berganti menjadi sepasang kaki manusia.


Medelline memalingkan wajah saat melihat bagian tubuh Cyrano tidak tertutup apa pun, meski laki-laki itu dalam keadaan tengkurap. Gadis itu melemparkan syalnya yang lebar ke tubuh telan*ang tadi.


"Sial! Aku kehilangan emas-emasku! Tetapi tidak mengapa, yang aku dengar, kau bisa berubah jadi Mermaid lagi jika terkena air." Baru saja laki-laki tadi mencari sesuatu untuk menggayung air, Medelline menjegal kakinya, hinga pria itu tersungkur.


"Gadis kurang ajar!" Sang paman menjambak rambut Medelline hingga kesakitan. Cyrano tidak tega melihatnya, ia merangkak. Memegangi kaki laki-laki tadi.


"Lepaskan dia!"


Saat lengah, Medelline berhasil menendang pamannya dan menjatuhkannya kembali. Pria itu memegangi tempat di mana keponakannya menendang. Gadis yang gesit itu, segera menolong Cyrano.


"Kau bisa berdiri? Kau bisa berjalan, Cyra?"


Tanpa menunggu lama, Medelline memapah Cyrano sebelum pamannya kembali menyerang. Tertatih-tatih, ia membawa sang merman itu keluar ruangan. Sesampainya di buritan kapal, laki-laki itu berhasil mengejar mereka.


Di tepi batas kapal, ketiga orang tersebut saling menarik dan saling mendorong. Pada akhirnya, sang paman tercebur ke lautan karena dorongan Medelline.


"Aku akan menyelamatkan manusia itu!"


"Jangan, Cyra. Biarkan saja!"


Tanpa diduga Medelline, seekor hiu menyambar tubuh pamannya. Kemudian menelan pria itu utuh. Menyelam kembali ke dalam lautan.


Medelline jatuh berlutut. Ia tidak bermaksud membunuh sang paman. Hanya ingin memberi pelajaran pada laki-laki tersebut. Namun, takdir berkata lain. Gadis itu menundukkan kepala, menangis.


"Tidak Meddy, tidak perlu bersedih. Itu bukan salahmu. Maafkan aku yang membuat semuanya jadi begini." Cyrano merangkak, mendekati Medelline dan memeluk gadis itu.


Sejenak, Cyrano membiarkan Medelline menangis dalam dekapannya. Setelah tangis reda, Medelline memandangi wajah laki-laki di hadapannya.


"Kau, kembalilah ke lautan, Cyra! Terlalu berbahaya jika kau ada di kapal ini terlalu lama. Seseorang lain yang tamak, akan berusaha mendapatkanmu."


Perasaan Cyrano sangat sedih saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Medelline. Ia merasa dicampakkan. Ia menunduk.


"Kau tidak mau berteman denganku lagi, Meddy?"


"Bukan begitu, Cyra. Aku ingin lebih lama bersamamu. Tetapi, aku tidak mau manusia mencelakaimu. Akan ada banyak orang seperti pamanku yang menginginkanmu."


"Setidaknya, biarkan aku di sini hingga matahari terbenam, Meddy."


Medelline tersenyum, ia sadar saat melihat tubuh manusia Cyrano. Di matanya, laki-laki itu begitu menarik. Bukan cuma fisik, tetapi tingkahnya lebih menarik lagi.


Di sisi lain, Robert tersenyum saat melihat anak gadisnya dari kejauhan. Tempatnya berdiri.


"Ternyata anakku sudah makin dewasa," gumamnya.


Cakrawala yang menyentuh garis lautan, berwarna jingga. Membiaskan kilaunya, menjadi sebuah pemandangan yang memukau. Burung-burung mulai terbang kembali ke sarang. Namun kedua makhluk berbeda jenis tadi, masih bercengkrama penuh bahagia.


Mereka tidak tahu bahwa takdir yang mengikat keduanya, sangat rumit kelak.


Cyrano sudah berada di dalam air. Ekornya sudah muncul. Ia berpegangan dinding kapal, masih enggan untuk pergi.


"Kau baik-baik saja Cyra?"


"Ya, aku baik. Hanya ...."


"Kenapa kau tidak segera kembali ke dasar laut, kalau begitu?"


"Itu ...."


Sesungguhnya, Medelline pun masih menunggu kalimat Cyrano. Menanti merman itu mengatakan bahwa ia tidak bisa berpisah darinya.


"Meddy, mari kita sering bertemu setelah ini!"


Medelline tersenyum, meski bukan itu yang ingin ia dengar. Sesungguhnya. Namun, ia senang memikirkan bahwa ia bisa sering bertemu dengan laki-laki dari dunia lain itu.


"Baiklah. Mari kita sering bertemu! Sebentar lagi, kapal ini akan merapat ke daratan. Aku akan menunggumu di teluk Orelia."


"Kapan?"


Medelline mengulurkan tangannya, menyentuh dada Cyrano.


"Apa yang kau lakukan, Meddy?"


"Aku menyalurkan perasaanku padamu."


Cyrano tertawa.


"Mana ada seperti itu?"


"Ada. Jika aku sampai di teluk Orelia. Aku akan memanggilmu dengan perasaanku yang kusalurkan padamu."


"Baiklah. Sekarang, aku akan kembali ke dasar laut untuk menyelesaikan urusanku. Aku akan datang ke teluk Orelia untukmu."


Medelline mengacungkan kelingkingnya.


"Janji kelingking! Kau tidak boleh mengingkarinya!"


Bersambung ....