Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Pengalaman Indah Menjadi Manusia



Medelline menenteng beberapa ikat selada di tangannya. Gadis itu berjalan menuju suatu tempat setelah berpamitan dengan ayahnya. Uang hasil penjualan emas, sisanya, diserahkan kepada laki-laki itu.


Suasana di pinggir teluk Orelia, sangat sunyi. Hanya suara debur ombak yang menghantam karang yang terdengar. Pun desiran angin laut. Rambut berwarna tembaga Meddeline berkibar dipermainkan angin. Ia duduk di karang besar. Menunggu seseorang.


Medelline tidak sabar, ia menenggelamkan wajahnya di air laut. Dengan kuat, ia membisikkan nama Cyrano lewat perantara air. Berharap panggilannya akan sampai pada tujuan.


Matahari mulai terik, Medelline masih bertahan di tepi teluk tersebut. Ia hampir saja putus asa dan berniat melemparkan selada di tangannya ke laut sebelum pergi.


"Meddy!"


Tangan Medelline yang terayun, terhenti di udara. Degup jantungnya lebih kencang saat mengenali suara yang memanggilnya. Lega, pada akhirnya sosok yang ditunggu telah hadir.


"Kau lama sekali, Cyra. Kau tidak kenapa-kenapa, kan?"


"Aku hanya menyelesaikan sedikit urusan."


Meddeline duduk di batu karang, di samping Cyrano yang menyembulkan setengah badannya saja. Kemudian gadis itu menyodorkan beberapa ikat selada di tangannya.


Cyrano tertawa, tetapi ia tetap menerima selada itu. Ia naik ke batu di mana Medelline duduk, dengan tetap menceburkan ekornya di air.


"Aku sudah kembali ke rumah dan memakan rumput laut yang kutanam sendiri di dekat kediamanku. Tetapi, terima kasih telah membawakanku ini."


"Aku tahu, Cyra. Di bawah sana mungkin banyak makananmu, tetapi aku yakin, kau pasti merindukan sayuran ini."


Cyrano tersenyum, lalu memandang Medelline.


"Salah besar! Aku merindukan gadis yang membawa sayuran-sayuran ini."


Pipi Medelline menghangat, ia memalingkan wajah ke arah lain. Sementara Cyrano, ia mulai memakan sayuran di tangannya.


"Aku pikir hanya manusia yang bisa mengatakan hal-hal berbalut manis seperti itu. Ternyata Mermaid juga?"


"Sebelumnya, karenamu, aku belajar sedikit tentang manusia. Sebenarnya mereka sangat menarik."


"Kalau menarik, kenapa tidak belajar banyak?"


Cyrano memandang Medelline dengan mata berbinar.


"Aku ingin belajar banyak dari manusia langsung. Tentu. Tapi aku harus berubah dulu menjadi manusia. Maukah kau memanduku, Nona cantik?"


"Berubah jadi manusia? Tunggu! Kau akan t*lanjang! Kau tunggu di sini sebentar, aku akan membeli baju untukmu di pasar dekat dermaga itu."


Cyrano mengangguk saat Medelline memintanya menunggu. Ia duduk menyandar di sebuah cerukan, menyembunyikan dirinya dari manusia lain.


" Cyra? Apa yang kau lakukan di sini?" Seekor kepiting yang baru saja muncul di permukaan, menyapa duyung itu.


"Aku ... aku ... sedang mencari udara segar. Ya, udara segar."


Kepiting tadi tertawa.


"Mana ada seorang merman butuh udara segar?"


"Ah, sudahlah! Itu bukan urusanmu. Pergilah sana! Sebelum manusia melihatmu dan menangkapmu!"


"Baiklah, baiklah! Kau juga hati-hati Cyra. Manusia terkadang sangat kejam."


"Cerewet!"


Setelah kepergian kepiting tadi. Medelline baru saja sampai. Ia sempat mendengar Cyrano berbicara dengan entah siapa.


"Kau berbicara dengan siapa?"


"Kepiting."


Medelline mengerutkan dahi. Namun ia kemudian sadar, Cyrano tinggal di dasar laut. Bukan hal yang mustahil ia berbicara dengan hewan laut. Kemudian, mengulurkan satu stel pakaian kepada laki-laki tadi.


Cyrano naik ke batu kemudian ia menutupi bagian bawahnya. Menunduk, menahan rasa sakit saat ekornya yang mengering dan terkelupas, berubah menjadi sepasang kaki. Ia menarik napas lega, lalu mulai memakai pakaian dengan petunjuk Medelline.


Setelah Cyrano lengkap berpakaian, ia mencoba berdiri. Namun, ia belum bisa menyeimbangkan tubuhya. Di saat yang tepat, Medelline menyambar badannya yang hampir tercebur ke dalam air. Mereka berdua jatuh, berguling di daratan berpasir. Sejenak mereka saling bertatapan, sampai mereka sadar dan memisahkan diri. Duduk berdampingan di atas pasir.


"Ma-maaf, Cyra. Karena ...."


"Kenapa harus meminta maaf? Kau bermaksud menolongku. Oh, ya. Hari makin siang." Cyrano menempelkan tangannya di alis, menutupi mata dari pancaran sinar matahari yang makin menyengat.


"Ah, ya. Mari berjalan-jalan." Medelline mengulurkan tangan, membantu Cyrano berdiri.


Cyrano hampir terjatuh lagi.


"Maaf, aku belum terbiasa berjalan seperti manusia."


Medelline mengajari Merman tersebut cara berjalan manusia.


"Kau laki-laki, jangan berlenggak-lenggok sepertiku!"


"Tetapi aku hanya menirumu!"


"Lihatlah paman tua di pinggir pantai itu. Laki-laki jalannya seperti itu."


Namun kurang mujur, ternyata laki-laki itu berjalan pincang. Cyrano menirukannya.


"Aduhai! Ternyata paman itu tidak sempurna. Itu pincang, bukan begitu jalannya."


"Ternyata menjadi manusia itu tidak mudah! Cara jalan setiap orang pun berbeda!" keluh Cyrano. Medelline tertawa mendengarkannya.


Sampai saat Cyrano melihat seorang laki-laki muda berjalan dari kejauhan, ia meniru.


"Nah! Begitulah cara berjalan seorang laki-laki," seru Medelline.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berjalan menuju pusat keramaian di pantai. Cyrano takjub melihat beberapa jenis manusia dan barang-barang yang ada di hadapannya. Ia tertarik pada beberapa benda. Busur dan anak panahnya. Ia baru saja melihat benda-benda tersebut.


"Itu senjata. Busur dan anak panah."


"Senjata? Di tempat kami, kami hanya memakai tombak bermata tiga sebagai senjata."


"Di daratan, kau akan menemukan berbagai macam senjata, Cyra."


"Wah, itu menakjubkan!"


Cyrano berjalan mendekati sebuah lapak roti. Ia menyentuh beberapa roti.


"Ini roti, makanan utama manusia di tempat ini," bisik Medelline.


"Apa enak?"


"Kau ingin mencicipinya?"


Medelline membeli satu kantong roti gandum hambar. Kemudian, ia membeli satu guci kecil madu. Meski ia mengeluarkan sedikit banyak uang. Ia tidak merasa rugi, toh ia juga mendapatkan uang-uang itu berkat Cyrano.


Medelline mengajak Cyrano duduk di sebuah bangku. Ia mengajarkan cara memakan roti tadi.


"Enak?"


"Rasanya aneh, tetapi tidak buruk. Aku masih bisa memakannya."


"Ini akan nikmat dengan beberapa potong keju."


"Keju?"


"Ya, tetapi aku tidak punya keju."


"Oh, begitu."


Tiba-tiba terdengar suara riuh. Bunyi alat musik terdengar bersahutan. Cyrano terkejut.


"Apa itu?"


"Sepertinya ada rombongan penari lewat. Apa kau mau melihatnya?"


Medelline menarik lembut tangan Cyrano, mencoba menyeruak kerumunan. Namun, laki-laki itu sangat berhati-hati, menghindari air di mana pun. Karena saat tubuhnya terkena air, seketika, wujud aslinya sebagai duyung akan terlihat.


Cyrano dan Medelline larut dalam hingar-bingar lantunan musik yang riang dari rombongan penari. Hingga mereka ikut menari bersama para pengunjung dengan bahagia. Tertawa lepas seperti tanpa beban.


Medelline sangat bahagia saat bersama Cyrano, begitu pun sebaliknya. Ia tidak ingin laki-laki itu kembali pulang. Namun, ia juga tidak mau berbuat menurut sesuka egonya. Khawatir jika merman itu terlalu lama di daratan, makan akan celaka.


Saat matahari mulai berwarna jingga, Medelline berjalan bersama Cyrano menuju teluk Orelia.


"Hari ini begitu luar biasa. Terima kasih Meddy."


"Itu bukan apa-apa. Tinggallah lebih lama lagi, Cyra."


"Seandainya bisa, tentu aku mau. Hanya saja, aku belum bisa."


Meddeline melambaikan tangan sesaat sebelum Cyrano menyemburkan diri ke lautan. Ia mengambil pakaian yang dipakai Merman tadi yang mengapung di permukaan air. Menghela napas dalam-dalam.


Bersambung ....